Dianggap Tak Efektif, Senat AS Evaluasi Teknik Interogasi CIA

KIBLAT.NET, Washington – Pada bulan Desember 2014, Komite Intelijen Senat AS merilis laporan tentang penahanan dan interogasi yang dilakukan Central Intelligence Agency (CIA). Dari sini dismpulkan bahwa teknik interogasi yang digunakan selama ini kurang efektif dan etis.

Di bawah pengawasan staf medis, para tahanan dilarang untuk tidur selama satu minggu. Mereka juga terkurung di dalam kotak peti mati selama beberapa hari yang terkadang diisi air. Bahkan tak jarang mereka mengalami kekerasan seksual.

Laporan itu juga menunjukkan bahwa, untuk memperoleh informasi, interogator CIA mengintimidasi para tahanan dengan ancaman akan menyakiti keluarga mereka. Termasuk ancaman untuk menyakiti anak-anak mereka, ancaman pelecehan seksual terhadap ibu mereka, dan ancaman untuk menggorok seorang ibu tahanan. Para tahanan juga diancam tidak akan dilepaskan dalam kondisi hidup-hidup.

Menurut Mark Costanzo, profesor di Claremont McKenna College, penyiksaan yang digunakan sebagai alat interogasi dapat memiliki efek jangka panjang yang parah terhadap kesehatan fisik dan mental.

Dalam laporan Senat, seorang tahanan bernama Abdurrahim al-Nashiri pada mulanya dianggap patuh, kooperatif, dan jujur ​​oleh beberapa interogator CIA. Namun setelah bertahun-tahun diinterogasi secara ketat, dia didiagnosis mengalami kecemasan dan gangguan depresi berat. Dia kemudian digambarkan sebagai “tahanan yang sulit dan tidak kooperatif, yang terlibat dalam tindakan agresif berulang, termasuk aksi penyerangan terhadap personil CIA dan upaya untuk merusak barang di selnya”.

BACA JUGA  Donald Trump Pecat Menhan AS Mark Esper

Laporan itu gagal untuk diselidiki secara menyeluruh konsekuensi psikologis jangka panjangnya. Namun temuan lain mengungkapkan bahwa teknik-teknik penyiksaan semacam itu tidak hanya berdampak kepada para tahanan, tetapi juga para interogator.

“Personil CIA yang terlibat dalam interogasi juga mengalami tekanan psikologis. Beberapa bahkan memilih untuk dipindahkan dari tempat-tempat interogasi sampai CIA berhenti menggunakan penyiksaan sebagai bentuk interogasi,” kata Costanzo.

Pada 1986, psikiater Robert Jay Lifton mewawancarai dokter Nazi yang berpartisipasi dalam eksperimen manusia dan pembunuhan massal. Lifton menyimpulkan bahwa setelah bertahun-tahun terpapar, banyak dokter mengalami kerusakan psikologis yang serupa dengan korbannya. Kegelisahan, kenangan traumatis yang mengganggu, dan gangguan fungsi kognitif dan sosial menjadi dampak umum.

Costanzo percaya bahwa para interogator yang menggunakan teknik penyiksaan mungkin memiliki pengalaman serupa. Pada bulan Februari 2007, Eric Fair, seorang interogator Amerika yang ditempatkan di penjara Abu Ghuraib di Iraq, mengaku berpartisipasi dan mengawasi penyiksaan terhadap tahanan Iraq. Dalam catatannya, Fair membahas bahwa peristiwa-peristiwa itu terus menghantuinya — menyebabkan masalah personal, menghantui di malam hari dan insomnia, penyalahgunaan narkoba, hingga depresi.

Masyarakat AS berbeda pendapat dalam masalah penggunaan penyiksaan. Banyak orang percaya bahwa teknik interogasi yang disempurnakan memberi jaminan akan membantu mencegah serangan teroris di masa depan. Beberapa hari setelah Komite Intelijen Senat merilis laporan tersebut, Pew Research Center menyurvei 1.000 orang Amerika dan menemukan bahwa 51% percaya bahwa teknik interogasi CIA dapat dibenarkan.

BACA JUGA  Donald Trump Pecat Menhan AS Mark Esper

Tapi menurut Costanzo, banyak yang selamat dari penyiksaan mengungkapkan informasi palsu untuk menenangkan penyiksa dan menghentikan rasa sakitnya. Komite Intelijen Senat mendukung temuan ini ketika mereka menemukan bahwa tidak satupun dari 39 tahanan yang mengalami teknik interogasi yang disempurnakan mengungkapkan informasi intelijen yang berguna.

Senator Dianne Feinstein dari California, kepala Komite Intelijen Senat berpendapat bahwa teknik yang digunakan CIA bersifat amoral. “Tekanan, ketakutan dan harapan akan serangan teroris tidak dibenarkan atas nama keamanan nasional,” katanya.

Feinstein sekarang mengusulkan RUU untuk mereformasi praktik interogasi di Amerika Serikat. RUU ini menyarankan penggunaan teknik yang dirancang oleh Kelompok Interogasi Tahanan Bernilai Tinggi, yang mengandalkan pembangunan hubungan dan empati sebagai jalan lain dari tekanan fisik dan psikologis. Model seperti ini dinilai telah melihat keberhasilan besar dalam penegakan hukum dan pengumpulan intelijen di negara-negara seperti Norwegia dan Inggris.

“Ini adalah harapan saya yang tulus dan mendalam bahwa melalui pembebasan temuan dan kesimpulan ini, kebijakan AS tidak akan pernah lagi mengizinkan penahanan tanpa nama rahasia dan penggunaan interogasi koersif,” katanya.

Sumber: Psychology Today
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat