Militer Suriah Berupaya Pecah Wilayah Oposisi di Ghouta Timur

KIBLAT.NET, Damaskus – Militer Suriah dan sekutunya, Rabu (07/03), kembali mengintensifkan serangan ke Ghouta Timur, pedesaan Damaskus. Tak hanya dari udara, rezim juga bergerak dari darat. Tujuan serangan kali ini untuk memecah Ghouta Timur menjadi dua bagian.

Lembaga pengawas HAM Suriah, SOHR, melaporkan bahwa militer rezim sedikit lagi memegang kendali daerah yang memisahkan antara Ghoutah Timur bagian utara dan selatan. Daerah itu menjadi sasaran mesin perang rezim dan tidak lama lagi diprediksi akan jatuh.

TV pemerintah Suriah menayangkan pertempuran sengit di pinggiran Kota Misraba. Asap pertempuran membumbung tinggi ke langit, menunjukkan tengah terjadi pertempuran sengit. Suara ledakan berkali-kali terdengar.

Kota Misraba memisahkan antara Kota Duma, kota terbesar di Ghouta Timur yang terletak di utara, dan kota-kota kecil lainnya di wilayah selatan. Jika kota ini jatuh, Ghouta Timur terbagi dua.

Warga yang tinggal dekat front pertempuran melarikan diri menuju Duma. Mereka berlindung di lantai-lantai paling dasar gedung bertingkat. Mereka bergabung dengan warga lainnya yang lebih dahulu berlindung.

Petugas kemanusiaan mengatakan bahwa warga di kota Duma memanfaatkan ruang bawah tanah untuk berlindung dari serangan udara. Banyak dari mereka anak-anak dan wanita. Kepada petugas kemanusiaan, anak-anak mengatakan bahwa mereka tidak melihat matahari sejak 20 hari lalu.

Warga Duma, Andad (30), mengungkapkan dalam sambungan telepon dengan Reuters bahwa “kondisi di tempat perlindungan sangat memprihatinkan namun itu lebih baik daripada terkena serangan gempuran”. Adnan berlindung bersama istri, anak perempuannya yang baru berusia 2,5 tahun dan 10 kerabatnnya.

BACA JUGA  Banjir Terjang Ratusan Tenda Pengungsi Suriah di Idlib

SOHR menyebutkan, total korban di Ghouta Timur sejak agresi terakhir rezim Suriah sudah mencapai 850 orang. Gempuran masih terus berlanjut dan warga dalam kondisi memprihatinkan akibat kekurangan makanan dan obat-obatan.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat