... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Abu Bakar Ba’asyir Selalu Tolak Grasi, Ini Alasannya

Foto: Ustadz Abu Bakar Baasyir

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Tim Pengacara Muslim (TPM), Mahendradatta, mengungkapkan bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir (ABB) tidak pernah ingin mengajukan grasi. Karena grasi adalah pengakuan kesalahan, yang artinya setuju dengan perundang-undangan di Indonesia.

“Ustadz ABB tidak pernah mau mengajukan grasi, ABB sampai akhir ini bersiap untuk mati jika harus mengaku bersalah,” ungkapnya dalam jumpa pers di kantor TPM, Jl RS Fatmawati, Jakarta Selatan, Rabu (07/03/2018).

Namun, TPM menyambut baik inisiasi pemerintah untuk memindahkan ABB ke tahanan rumah, karena hukumnya jelas. Mahendradatta mengatakan bahwa Menteri Hukum dan HAM berhak mengubah karena itu wewenang pemerintah.

“Banyak contohnya masyarakat yang ditahan diluar lapas tidak diketahui rakyat antara lain, rutan mako brimob yang dikhususkan oleh Anggota Brimob tapi menjalankan permasyarakatan tidak dipermasalahkan dan hal itu hak pemerintah,” ungkapnya.

Ia mengungkapkan banyak klien TPM, khususnya dalam perkara terorisme, tidak dimasyarakatkan atau ditahan di lapas namun baru ditahan di lapas setelah dapat wewenang menteri menetapkan lapas.

“Bukan kami yang mengajukan, jika nanti tidak dirumahkan tidak dipermasalahkan. Ustadz tidak pernah merasa terlibat isu bom apapun dan aksi terorisme,” ungkap Mahendradatta.

Terkait protes kementerian luar negeri Australia yang tidak sepakat hukuman adanya wacana ABB dirumahkan, TPM sebut bahwa ini adalah tanggungjawab pemerintah bukan keringanan.

“ABB dirumahkan ini bukan keringanan namun menjadi tanggung jawab pemerintah. Jadi TPM menyarankan pemasyarakatan di rumah. Anjurannya dimasyarakatkan di rumah, kemudian kewajiban negara dan pemerintah untuk memberikan perawatan yang semestinya,” tukasnya.

BACA JUGA  Buat Disertasi Seks di Luar Nikah, DSKS Minta IAIN Surakarta Pecat Abdul Aziz

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Hunef Ibrahim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Editorial

Editorial: Tebang Pilih Kasus Hoaks

Kondisi itu lantas memunculkan anggapan bahwa aparat tebang pilih dalam perang melawan hoaks. Penindakan cepat terhadap MCA berlangsung sangat kilat, tak seperti penindakan terhadap pelaku hoaks lainnya. Apakah karena ada kata Muslim nya? Kita pun tah tahu pasti.

Rabu, 07/03/2018 20:52 0

News

DPR Berharap Masyarakat Dilatih Mitigasi Bencana

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta kepada Komisi II DPR RI agar mendorong Pemda untuk melakukan pelatihan menghadapi bencana ke masyarakat.

Rabu, 07/03/2018 20:48 0

News

Kominfo Akui Data NIK Bocor dan Diperjualbelikan

Direktur Keamanan Informasi Kementerian Kominfo, Aidil Chendramata membenarkan kebocoran data NIK dan KK kerap terjadi.

Rabu, 07/03/2018 20:37 0

News

JAS: Melarang Cadar Bisa Dituntut Pelanggaran HAM

Juru Bicara Jamaah  Anshoru Syariah (JAS) Abdul Rachim Ba'asyir menilai bahwa pelarangan cadar tersebut telah melanggar hak asasi manusia kepada mahasiswi yang hendak mengenakan cadar. Karena menurutnya, penggunaan cadar adalah hak serta pilihan sendiri bagi muslimah.

Rabu, 07/03/2018 20:27 0

News

UIN Kalijaga Ancam Keluarkan Mahasiswi Bercadar, Muhammadiyah: Itu Kelewatan

UIN Sunan Kalijaga berencana mengeluarkan mahasiswi yang menggunakan cadar. Menanggapi hal ini, Ketua Muhammadiyah Prof. Yunahar Ilyas menegaskan bahwa tindakan tersebut terlalu berlebihan.

Rabu, 07/03/2018 19:20 0

News

Sekjen MUI: Jika Pelaku Hoaks Muslim, Jangan Tonjolkan Islamnya

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menegaskan bahwa tidak tepat jika ada ketidakadilan dalam penegakan hukum soal hoaks. Ia menyebutkan, selama ini jika yang melakukan hoaks orang Islam, yang ditonjolkan Islamnya.

Rabu, 07/03/2018 18:30 0

Opini

Intoleransi Rasa Islamofobia

Sekadar mengenakan cadar lalu digeneralisir dan dicurigai sebagai gerakan ideologi radikal adalah tindakan gegabah dan terlalu fobia, ditambah pendataan dan pembinaan seluruh mahasiswi bercadar dinilai langkah yang kurang bijak.

Rabu, 07/03/2018 18:00 0

Opini

Meneropong Kehancuran Tata Pergaulan Sekular

KIBLAT.NET – Sebuah aksi yang bertajuk Women’s March 2018 Indonesia baru-baru ini dilakukan. Beberapa hal yang...

Rabu, 07/03/2018 16:46 0

News

Soal Mahasiswi Bercadar, Maneger: Kalau Sampai Dikeluarkan Berhak Menuntut

Mantan Komisioner Komnas HAM itu kembali menegaskan agar pihak rektorat menempuh cara-cara persuasif dan edukatif yang mengedepankan dialod dengan mahasiswa.

Rabu, 07/03/2018 15:51 0

News

Belum Puas, Rezim Assad Bombardir 10 Distrik di Ghouta Timur

Sedikitnya 10 warga sipil telah tewas dalam beberapa serangan yang dilancarkan pasukan rezim di Ghouta Timur baru-baru ini.

Rabu, 07/03/2018 14:27 0

Close