... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Meneropong Kehancuran Tata Pergaulan Sekular

Foto: Aksi Women's March 2018 di Jakarta

KIBLAT.NET – Sebuah aksi yang bertajuk Women’s March 2018 Indonesia baru-baru ini dilakukan. Beberapa hal yang disoroti dari aksi tersebut adalah tentang pembunuhan perempuan, kekerasan pada pekerja, pernikahan anak. Aksi yang dihadiri sekitar 1.500-an orang di kawasan MH Thamrin, Jakarta, itu juga mengusung isu kekerasan terhadap kelompok LGBT, perlindungan atas pekerja rumah tangga dan buruh migran, kekerasan dalam pacaran, dan perlindungan terhadap pekerja seks.

Aksi ini melengkapi aksi-aksi gerakan feminis selama ini, yang semua permasalahan hanya dilihat dalam kerangka ‘gender’ dan ‘kelompok minoritas’, dengan mengesampingkan persoalan mendasar problem tata pergaulan yang pada era sekarang tingkat keparahannya semakin luar biasa. Mari kita teropong lebih jauh, seperti apa tingkat keparahan itu di era sekuler saat ini. Berikut adalah ulasan yang diambil dari beberapa negara maju, yang sudah cukup menunjukkan bahwa sekulerisme adalah pangkal persoalan.

Beberapa Problem Krusial Tata Pergaulan

Mari kita teropong lebih jauh, persoalan pelik yang tak kunjung usai, dari pelecehan seksual, penyimpangan seksual, perkosaan, hingga persoalan generasi akibat rapuhnya keluarga, sistem terkecil yang sangat krusial membutuhkan pearn perempuan dan laki-laki secara seimbang. Seimbang dari sisi tanggungjawab gender yang memang didesain sedemikian rupa sesuai fungsinya, bukan sekedar dipandang dari sisi ‘ketidakadilan’ hanya karena laki-laki bekerja diluar dan perempuan tidak. Atau hanya karena perempuan lebih banyak di dalam rumah dan laki-laki tidak.

Factsheet di banyak negara sekuler, termasuk yang diklaim ‘maju’ seperti AS, negara-negara Eropa, Jepang, Korea, Cina, Singapura, Australia banyak menghadapi problem keluarga dan generasi yang mencengangkan, yang bahkan diantaranya mengancam eksistensi peradaban. Beberapa bulan lalu, Tagar #MeToo sempat meramaikan jagad media sosial, berawal dari para insan Hollywood yang mengungkap problem pelecehan seksual di kalangan artis, yang ternyata fakta pelecehan pun terungkap tidak hanya di kalangan pekerja hiburan, namun juga politisi kelas atas, bahkan pentagon hingga ke beberapa negara Eropa.

Harian The Times baru-baru ini mempublikasi berita staf United Nations (PBB) yang bertanggungjawab terhadap 60.000 pelecehan seksual hingga perkosaan dalam satu dasawarsa, dimana 3.300 diantaranya adalah pedofilia. Bisa dibayangkan berapa banyak perempuan dan anak-anak yang sudah menjadi korban! Bahkan di negara yang mengaku terdepan dalam ‘kesetaraan gender’ dan ‘feminisme’, bahkan di lembaga internasional yang didalamnya ada lembaga yang membidani persoalan perempuan!

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Data CDC (Centers for Disease Control & Prevention) di AS menyatakan penular HIV/AIDS tertinggi adalah kalangan homoseksual, hampir tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan kalangan heteroseksual. Jumlah tersebut meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun, seiring legalisasi LGBT di negara tersebut. Selesaikah dengan kampanye kesetaraan gender? Selesaikah ketika perempuan banyak ditarik keruang publik demi menuntut peran yang sama dengan laki-laki, atau menganggap memiliki ‘superioritas’ yang setara?

Jepang, salah satu negara maju di Asia, menjadi contoh bagaimana kerapuhan keluarga dan kerapuhan hubungan laki-laki-perempuan berdampak terhadap eksistensi generasi. Beberapa yang menjadi perhatian pemerintah persoalan kehilangan gairah menikah dan berhubungan, hingga bunuh diri yang berdampak menurunnya angka kelahiran yang signifikan hingga terancam punah. Sebuah studi pada 2016 menunjukkan sebanyak 70% pria dan 60% wanita lajang di Jepang tidak berniat untuk menikah. Kementerian Pendidikan Jepang menyatakan bullying di sekolah meningkat hingga 43,8% di tahun 2016, mencapai lebih dari 320.000 kasus, dimana pada tahun tersebut tercatat 320 remaja dibawah usia 18 tahun melakukan bunuh diri akibat bullying. Setiap tahun, ada 20 ribu lebih penduduk Jepang mengakhiri nyawanya sendiri, 500 diantaranya adalah pemuda yang usianya di bawah 20 tahun. Selain tingginya bunuh diri, Jepang pun berjuang untuk mengatasi depopulasi, tingkat perkawinan yang menurun, dan aged society (penuaan penduduk).

Kebebasan dalam dunia sekular radikal, akhirnya memunculkan banyak perilaku inhuman yang kebal ancaman Tuhan. Perilaku yang hanya mengedepankan pemuasan nafsu pribadi, dan buta akan dampak sosial maupun penderitaan korban. Perilaku layaknya monster, mengerikan dan menebar ketakutan, mengancam eksistensi peradaban. Monster itu bernama LGBTP, lesbian, gay, biseksual, transgender, dan kini satu lagi, pedosexual, atau pedofilia. Pedofilia, dalam definisi American Psychological Association (2000), adalah ketertarikan seksual dan kemampuan mendapatkan gratifikasi seksual dari individu di bawah 12 tahun.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Mengerikan, karena menyasar anak-anak dibawah umur. Tahun 2012/13, kepolisian Inggris mencatat lebih dari 18.000 kasus pelecehan seksual terjadi terhadap bocah di bawah 16 tahun dan 4.171 pelecehan dan pemerkosaan dilakukan terhadap bocah perempuan di bawah usia 13 tahun. Inggris yang telah melegalkan hukuman kebiri kimia mulai tahun 1950-an, dalam praktiknya masih sangat marak terjadi penyimpangan. Sepanjang 2016, Puluhan Balita Inggris kerap menjadi korban pedofil. Data yang diperoleh oleh Komunitas Nasional untuk Mencegah Pelecehan (NSPCC) menemukan bahwa secara nasional petugas mencatat kejahatan seks 55.507 anak tahun lalu, rata-rata satu pelanggaran setiap 10 menit.

Pelecehan seksual, homoseksual hingga pedofilia pun marak di Australia, dimana puluhan ribu anak telah menjadi korban. Menurut The Independent, bahkan pelecehan terhadap anak-anak dianggap normal. Kementerian Perlindungan Anak Australia Barat mengatakan, skala epidemi kejahatan pedofil ini sangat luas sehingga pelecehan seksual terhadap anak-anak dianggap “lumrah”. Komisaris Polisi Australia Barat Karl O’Callaghan mengatakan, skala kejahatan itu adalah keadaan terburuk yang pernah terjadi di Australia Barat dan merupakan “krisis yang hampir tak berkesudahan, ibarat zona perang dan korbannya adalah anak kecil”.

Di Indonesia, Presidium Indonesia Police Watch (IPW) mencatat sepanjang Januari 2018 ada 54 bayi dibuang, tentu saja akibat pergaulan bebas yang hanya mengedepankan syahwat. Sama saja, perempuan maupun laki-laki. Angka ini mengalami kenaikan 100 % lebih jika dibandingkan dalam periode yang sama pada Januari 2017. Tahun 2017 angka pembuangan bayi di Indonesia mencapai 179, tergolong tinggi dalam sejarah. Tahun 2018 diperkirakan akan meningkat, karena di Januari saja sudah naik 100 %. Fakta ini belum seberapa, karena terlalu melelahkan jika semua harus dibeber saking banyaknya kerusakan tata pergaulan yang muncul dalam iklim sekuler.

Baca halaman selanjutnya: Solusi Sekular yang Tak...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

Soal Mahasiswi Bercadar, Maneger: Kalau Sampai Dikeluarkan Berhak Menuntut

Mantan Komisioner Komnas HAM itu kembali menegaskan agar pihak rektorat menempuh cara-cara persuasif dan edukatif yang mengedepankan dialod dengan mahasiswa.

Rabu, 07/03/2018 15:51 0

Indonesia

Di Kalimantan Utara, Warga Keberatan Ada Toko Gunakan Simbol 212

KIBLAT.NET, Malinau – Warga Kabupaten Malinau Kalimantan Utara menolak keberadaan toko oli yang diberi simbol...

Rabu, 07/03/2018 14:30 2

News

Belum Puas, Rezim Assad Bombardir 10 Distrik di Ghouta Timur

Sedikitnya 10 warga sipil telah tewas dalam beberapa serangan yang dilancarkan pasukan rezim di Ghouta Timur baru-baru ini.

Rabu, 07/03/2018 14:27 0

Indonesia

Ketua MUI Bandung Ajak Masyarakat Ikut Gerakan Wakaf Dana Abadi

Ketua MUI Bandung mengimbau masyarakat untuk turut dalam Gerakan Wakaf Dana Abadi

Rabu, 07/03/2018 14:07 0

Indonesia

Polri Bantah Tebang Pilih Tangani Kasus Hoaks

Ketika ditanyakan soal kasus Ade Armando, Iqbal menyatakan proses hukumnya masih berjalan. "Penyidik sekarang ini dalam tahap pencukupan pembuktian, penyelesaian berkas," ungkapnya.

Rabu, 07/03/2018 14:00 1

Suriah

Ini Daftar Kejahatan Perang Rezim Suriah dan Rusia di Ghouta Timur

Rezim Assad telah melakukan kejahatan perang dengan menggunakan senjata kimia dan menolak untuk mengevakuasi warga di Ghouta timur.

Rabu, 07/03/2018 13:41 0

Indonesia

Rupiah Anjlok, DPR Peringatkan Pemerintah Soal Utang Luar Negeri

DPR mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan kemampuan membayar utang

Rabu, 07/03/2018 12:23 0

Indonesia

Ketua DPR: Pelarangan Cadar di UIN Suka Tak Berdasar Hukum

Bamsoet meminta kepada Komisi X DPR agar mendorong Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk memberikan imbauan kepada setiap rektor seluruh universitas di Indonesia agar dapat menerapkan kebijakan yang lebih persuasif terhadap mahasiswa-mahasiswi.

Rabu, 07/03/2018 11:13 0

Rusia

Dephan Rusia: Seluruh Korban Antonov 26 Tentara Aktif

Dephan Rusia mengungkapkan bahwa seluruh korban tewas adalah anggota militer aktif Rusia. Mereka terdiri dari 26 penumpang dan 6 awak pesawat. Tidak ada yang selamat dalam kecelakaan tersebut.

Rabu, 07/03/2018 09:35 0

Indonesia

Pelarangan Cadar di UIN Yogyakarta Dinilai Langgar Pancasila

"Yang tidak kalah fatal adalah tindakan ini memalukan dan tidak berakal, hal itu dilakukan di dalam negara yang berbingkai Pancasila dan keberagaman," kata Aziz pada Selasa (6/3/2018).

Rabu, 07/03/2018 09:00 1

Close