... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Ghouta dan Doa-doa Kita

Foto: Petugas kemanusiaan The White Helmets mengevakuasi korban serangan rezim di Ghouta Timur

KIBLAT.NET – Sejak pertengahan Februari lalu, wilayah Ghouta Timur kembali menjadi sorotan dunia. Sebenarnya tidak banyak hal baru, masalahnya masih berputar-putar pada pembantaian rakyat sipil dan dunia internasional yang selalu gagal mencegah pembantaian tersebut. Tujuh tahun telah berlalu, tak ada perkembangan berarti, masalah menjadi semakin rumit untuk kita pahami, satu-satunya perkembangan yang mudah kita mengerti hanyalah “kemajuan” angka-angka jumlah sipil yang terbunuh, anak-anak yang terluka, serta bangunan-bangunan yang hancur oleh senjata-senjata pasukan koalisi Rusia-Bashar Assad.

Sebagai seorang muslim, terkadang saya merasakan keresahan kecil setiap kali Bashar Assad meningkatkan intensitas gempurannya entah itu ke Aleppo maupun Ghauta. Karena pada saat itu dunia Islam selalu dipenuhi dengan seruan-seruan kepedulian terhadap para korban. Segala macam ritual entah itu istighatsah, qunut nazilah, dzikir akbar, dan tabligh akbar digelar di berbagai belahan dunia Islam. Kesimpulannya, nyaris seluruh umat Islam di muka bumi memanjatkan doa, demi berakhirnya segala kekacauan di Ghouta dan Aleppo.

Di sinilah keresahan saya bermula, karena faktanya setelah tujuh tahun justru keadaan semakin kacau. Meskipun mulut kita berbusa-busa mendoakan kehancuran Bashar Assad, nyatanya Bashar Assad tak tampak melemah.

Meskipun kita senantiasa mendoakan kemenangan para mujahidin, nyatanya fraksi-fraksi jihad yang ada justru terlibat dalam konflik antar fraksi yang penyebabnya semakin rumit untuk kita mengerti. Kita menjadi terlalu sering mendengar klarifikasi pimpinan masing-masing fraksi setiap kali terjadi benturan antar fraksi. Sementara masyarakat Islam internasional sebenarnya lebih senang mendengarkan berita kemenangan mereka ketimbang klarifikasi tersebut.

Meskipun kita senantiasa mendoakan pertolongan dan keselamatan bagi warga sipil Ghouta dan Aleppo. Nyatanya masih banyak anak-anak yang mati membeku di musim dingin serta ibu-ibu yang tak mampu lagi menyusui bayinya hingga akhirnya harus mati kelaparan bersama bayinya.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Pada akhirnya saya mempertanyakan janji Allah dalam surat Al Mukmin ayat 60, “Berdoalah kepadaku, niscaya akan aku kabulkan bagimu.” Bukankah dengan turunnya ayat ini Allah ingin menyampaikan bahwa mengabulkan doa merupakan salah sifat-Nya, yang menjadikannya layak untuk kita sembah dan kita ibadahi.

Tentu saja kita tidak bisa menuduh Allah telah ingkar janji, pasti ada sesuatu yang belum kita penuhi sehingga doa kita tidak dikabulkan. Jawabannya mungkin sebuah sabda Rasulullah, “Seseorang dari kalian akan terkabul doanya selama dia tidak tergesa-gesa.” Seorang sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu tergesa-gesa?” Beliau pun menjawab, “Ketika seseorang mengatakan, ‘Aku telah banyak berdoa, tetapi aku tak kunjung melihatnya terkabul,’ lalu ia merasa rugi.”

Yah saya cukup paham bahwa ketergesa-gesaan bukanlah sebuah adab yang baik dalam berdoa. Tetapi waktu tujuh tahun tidaklah sebentar, dan Allah juga telah berjanji untuk tidak membebani hambanya di luar kemampuannya.

Saya pun memikirkan kemungkinan lainnya, mungkinkah kita semua seperti seorang musafir yang memakai pakaian kumal wajah berdebu lalu mengangkat tangan ke arah langit sembari berucap Ya Rabbi Ya Rabbi namun doanya tertolak dikarenakan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan memenuhi kebutuhannya dengan harta haram.

Namun mustahil rasanya jika satu milyar muslim dunia bersepakat untuk melanggar ketentuan ini. Meskipun penyakit korupsi merajalela, tetapi saya yakin pasti masih banyak muslim yang jujur dan amanah di muka bumi ini.

Di sisi lain kesadaran umat muslim akan pentingnya makanan halal justru semakin membaik, seminar serta lokakarya mengenai pentingnya makanan halal serta kewaspadaan terhadap keharaman makanan menjamur di mana-mana, bahkan saya pernah mengikuti sebuah seminar tersebut, di mana kita diminta lebih berhati-hati ketika membeli martabak, dikarenakan sebagian besar kuas martabak yang beredar terindikasi berbahan dasar babi.

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Pada akhirnya saya harus berpikir lebih keras lagi mengenai penyebab tidak terkabulnya doa kita, karena saya masih memiliki keyakinan bahwa Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Saya pun teringat nasehat Dr. Najih Ibrahim dalam risalahnya yang berjudul risalah ila kullu man ya’malu lil Islam, beliau menyampaikan bahwa bagi tiap-tiap doa itu mempunyai waktu dan ukurannya. Tidaklah masuk akal jika kita hari ini memohon kepada Allah untuk tegaknya khilafah Islamiyyah lalu kita berharap akan menyaksikannya esok hari.

Menurut beliau doa semulia ini mempunyai takaran, ukuran, syarat, sebab, dan upaya-upaya yang harus diikuti dengan kerja keras, usaha sungguh-sungguh, dan pembinaan generasi secara sempurna.

Bisa jadi seperti inilah doa-doa yang selama ini kita panjatkan untuk Ghouta dan Aleppo. Doa-doa yang kita panjatkan ini terlampau mulia. Sehingga doa-doa kita tak akan terkabul jika sebatas dilafalkan, karena doa-doa kita ternyata menuntut kesungguhan kita dalam berikhtiar.

Bukankah sebagian mufassir menafsirkan bahwa jarak antara doa Musa AS dalam surat Yunus ayat 88 yang isinya memohon kehancuran atas kekuasaan Firaun dengan ijabahnya dalam surat Yunus ayat 89  adalah empat puluh tahun, tak kurang tak lebih.

Mari kita renungkan, yang berdoa adalah Musa AS, yang mengamini adalah Harun AS, yang didoakan kehancurannya adalah Firaun, yang kedhalimannya benar-benar melampaui batas. Namun Allah tidak langsung mengijabahi doa tersebut, masih ada proses ikhtiar yang harus dilalui kedua Nabi tersebut.

Lantas bagaimana dengan doa-doa kita, yang melafalkan tidak semulia Musa AS, yang mengamini tidak sholih seperti Harun AS, dan yang didoakan kehancurannya mungkin belum sedhalim Firaun, sementara kegigihan dan kesungguhan ikhtiar kita belum ada seujung kuku bila dibandingkan dengan ikhtiar mereka berdua.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Polri Bantah Tebang Pilih Tangani Kasus Hoaks

Ketika ditanyakan soal kasus Ade Armando, Iqbal menyatakan proses hukumnya masih berjalan. "Penyidik sekarang ini dalam tahap pencukupan pembuktian, penyelesaian berkas," ungkapnya.

Rabu, 07/03/2018 14:00 1

Suriah

Ini Daftar Kejahatan Perang Rezim Suriah dan Rusia di Ghouta Timur

Rezim Assad telah melakukan kejahatan perang dengan menggunakan senjata kimia dan menolak untuk mengevakuasi warga di Ghouta timur.

Rabu, 07/03/2018 13:41 0

Indonesia

Rupiah Anjlok, DPR Peringatkan Pemerintah Soal Utang Luar Negeri

DPR mengingatkan pemerintah untuk memperhatikan kemampuan membayar utang

Rabu, 07/03/2018 12:23 0

Indonesia

Ketua DPR: Pelarangan Cadar di UIN Suka Tak Berdasar Hukum

Bamsoet meminta kepada Komisi X DPR agar mendorong Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk memberikan imbauan kepada setiap rektor seluruh universitas di Indonesia agar dapat menerapkan kebijakan yang lebih persuasif terhadap mahasiswa-mahasiswi.

Rabu, 07/03/2018 11:13 0

Rusia

Dephan Rusia: Seluruh Korban Antonov 26 Tentara Aktif

Dephan Rusia mengungkapkan bahwa seluruh korban tewas adalah anggota militer aktif Rusia. Mereka terdiri dari 26 penumpang dan 6 awak pesawat. Tidak ada yang selamat dalam kecelakaan tersebut.

Rabu, 07/03/2018 09:35 0

Indonesia

Pelarangan Cadar di UIN Yogyakarta Dinilai Langgar Pancasila

"Yang tidak kalah fatal adalah tindakan ini memalukan dan tidak berakal, hal itu dilakukan di dalam negara yang berbingkai Pancasila dan keberagaman," kata Aziz pada Selasa (6/3/2018).

Rabu, 07/03/2018 09:00 1

Indonesia

Fahira Idris Seru Umat Islam Lawan Stigma Cadar Atribut “Terorisme”

"Saya justru menilai kekhawatiran pihak kampus terhadap ideologi radikal yang menyusup ke kampus dan mahasiswa tidak serta merta dilawan dengan melarang pengenaan cadar dan menstigma mereka yang bercadar berkaitan erat dengan ideologi radikal," ucapnya

Rabu, 07/03/2018 08:20 0

Indonesia

Hakim Gugurkan Pengajuan Praperadilan Empat Anggota FPI Klaten

"Melihat dari pertimbangan pututsan MK, bukan melihat amar Keputusan MK, dan ini yang agak aneh," ungkapnya kepada kiblat.net di Pengadilan Negeri Klaten pada Selasa (6/3/18).

Rabu, 07/03/2018 08:04 0

Indonesia

Pushami: Larangan Cadar di UIN Jogja Tabrak Instruksi Menristek Dikti

"Jadi yang perlu dibina adalah rektornya, karena diduga mengidap Islamphobia. Masa iya, di kampus Islam khazanah Islam mau dibredel, aneh. Kalau overdosis deradikalisai kebablasan, ya ujungnya bakal Islamphobia," ungkapnya.

Rabu, 07/03/2018 07:24 0

Indonesia

MUI: Cadar Khilafiyah, Harus Ada Toleransi

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menegaskan bahwa pelarangan cadar di UIN Kalijaga menyinggung dua hal. Pertama adalah ranah agama, dan kedua ranah hukum positif.

Selasa, 06/03/2018 22:06 0

Close