... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Tragedi Sa’i dan Keadaban Bangsa

Foto: Sa'i nyeleneh

KIBLAT.NET – Mendadak viral video yang menampilkan sekelompok jama’ah Umrah dari Indonesia menyanyikan lagu syubanul wathan saat ibadah sa’i di tanah suci. Cibiran pun datang dengan berbagai pandangan. Sebagian mengatakan tak pantas dilakukan menyanyikan syair yang bukan bagian ritual.

Ketua Komisi Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengatakan, “Tidak ada larangan, cuma membaca syair itu tidak pada tempatnya.” Respon pun datang dari pemerintah Arab Saudi melalui Dubes RI untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, mereka sangat menyayangkan terjadinya aksi yang ‘tidak biasa’ di Mas’a yang dilakukan oleh segelintir jama’ah umrah Indonesia.

“Untuk diketahui bersama, pemerintah Kerajaan Arab Saudi melarang keras segala bentuk upaya yang mempolitisasi Umrah dan Haji.” Kata pesan berantai dari KBRI di Arab Saudi. Protes itu dilakukan dengan alasan dapat menganggu hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Arab Saudi sekaligus mengganggu jama’ah Umrah yang lain dalam sakralnya beribadah.

Beberapa waktu yang lalu sempat kontroversi pula dengan momen yang sama. Sekelompok jama’ah Umrah asal Indonesia melafadzkan pancasila saat melakukan ibadah sa’i dan hal itu pun mendapat protes pula dari pemerintahan Arab Saudi. Sudah kedua kalinya kejadian ini terjadi di tanah suci pada ibadah yang sama. Klarifikasi dari pihak penyelenggara Umrah mengatakan bahwa hal itu dilakukan secara spontanitas sebagai wujud kecintaan mereka terhadap Indonesia.

Sebagai muslim, kita cukup menyayangkan hal itu terjadi hingga dua kali. Ibadah Umrah dan Haji adalah ibadah sakral yang seharusnya dirasakan dengan penuh ta’dzim dan ketaatan total. Kekhusyu’an itu malah ternoda dengan nyanyian yang bukan pada tempatnya. Sa’i adalah rukun dalam ibadah Haji dan Umrah.

BACA JUGA  Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

Memang tidak ada bacaan khusus yang dibaca di dalamnya karena esensi dari sa’i adalah berlari kecil dari bukit Shofa ke Marwah sebanyak 7 kali. Namun, terlalu berlebihan jika harus mengikutsertakan nyanyian dalam ibadah yang merupakan rukun iman. Apakah nyanyian lebih utama dari dzikir dan berdoa kepada Allah SWT? Maka tak heran, jika banyak pihak yang menyayangkan nyanyian itu dinilai tak menjaga adab dalam beribadah.

Pemerintah Arab Saudi menganggap nyanyian syubanul wathan dan pelafalan pancasila di tengah ibadah Haji dan Umrah adalah bentuk politisasi dan tak mengindahkan adab. Anggapan tersebut tak bisa disalahkan. Faktanya, memang syubanul wathan atau pancasila hanya dikenal bangsa Indonesia. Bernyanyi dengan syair ke-Indonesia-an ketika berada di sebuah negeri bukan milik sendiri memang salah tempat. Tanah suci adalah tempat ibadah bukan tempat bernyanyi. Haji dan Umrah adalah salah satu wujud ibadah seorang hamba di hadapan Tuhannya. Ras, suku, kulit, dan bangsa semua dilepasnya dengan hanya berpakaian ihram yang sama. Lalu mengapa kita tidak pernah mengambil pelajaran dari ibadah tersebut?

Bahwa derajat taqwa dan iman seseorang tidak ditentukan seberapa besar dia mencintai tanah airnya, akan tetapi sebesar apa dia mencintai Allah dan NabiNya. Sebagaimana Allah nyatakan dalam firmanNya: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Q.S. Ali Imran: 31). Ketika seseorang mencintai Allah dan NabiNya, ia tak akan rela kemaksiatan terjadi di negerinya, itulah wujud cinta tanah air yang sesungguhnya. Mencegah kerusakan negeri dari murka Ilahi. Ingatlah, ulama Aswaja senantiasa mengajarkan iman dan taqwa di atas segalanya. Ahlu Sunnah Wal jama’ah, berarti mereka yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi saw, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jejak dan jalan mereka, baik dalam hal aqidah, perkataan , maupun perbuatan. Seperti itulah wujud perilaku Aswaja hakiki.

BACA JUGA  Darurat Corona Akankah Menjadi Darurat Negara?

Seharusnya mereka yang bersyair di tengah ibadah sa’i patut berpikir dan merenungkan, apakah wujud mencintai negeri dengan bernyanyi di tengah Sa’i, sedang mereka tidak menyadari bahwa perbuatan itu juga turut mempermalukan negeri sendiri di tengah jama’ah muslimin dari luar negeri. Hingga teguran dilayangkan kepada Indonesia dari pemerintah sana. Buatlah Indonesia berbangga atas kemuslimannya bukan karena kebangsaannya. Sejatinya bangsa Indonesia tak akan ada ketika Islam tak ada di sana.

Maka, janganlah berlebihan dalam mengamalkan sesuatu yang tidak pada tempatnya hingga menghilangkan akal logika kapan dan dimana mewujudkannya sesuai adab islam mengajarkannya. Sa’i bagian dari Islam, mencintai negeri juga bagian dari Islam, namun tempatkan secara proporsional dan kadar amalnya dalam syariat Islam. Syariat Islamlah yang harus dijadikan pegangan bukan akal dan nafsu liar.

 

Ditulis Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan Peradaban – LSPP)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Ritel AS Naikan Batas Usia Beli Senjata Pasca Penembakan di SMA

raksasa ritel AS Walmart memberlakukan langkah itu setelah Dick Sporting Goods menyatakan akan menghentikan penjualan senjata bergaya penyerangan.

Kamis, 01/03/2018 14:22 0

Indonesia

Krisis Ghouta Timur, Pemerintah Indonesia Diminta Tegur Bashar Assad

Pemerintah Indonesia diminta melakukan pembicaraan dengan OKI menyikapi krisis kemanusiaan di Ghouta Timur

Kamis, 01/03/2018 13:47 0

Indonesia

Luncurkan Buku, Dahnil Anzar: Politik Kita Dipenuhi Nalar Rente

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak meluncurkan buku berjudul Nalar Politik Rente

Kamis, 01/03/2018 12:46 0

Indonesia

Kekerasan Seksual Anak Merebak, KPAI Minta Guru Jadi Pelindung di Sekolah

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis fakta mengejutkan tentang kekerasan seksual terhadap anak.

Kamis, 01/03/2018 12:12 0

Suriah

Warga Ghouta Timur Tolak Gunakan “Jalur Kemanusiaan” Rusia

“Jalannya terbuka lebar, akan tetapi sampai saat ini, di hari kedua, tak ada satupun yang datang,” kata sumber militer Suriah kepada kantor berita AFP, seperti dinukil Al-Sarq Al-Ausath, Rabu.

Kamis, 01/03/2018 11:45 0

Palestina

Tentara Israel Bunuh Diri di Kompleks Markas Militer

Tentara tersebut sempat dilarikan ke rumah sakit Rambam di Haifa dengan menggunakan pesawat terbang sebelum akhirnya dokter mengumumkan telah tewas.

Kamis, 01/03/2018 11:19 0

Indonesia

DDII: Internasionalisasi Haji Picu Situasi Chaos

Internasionalisasi dua tanah suci sejak dahulu dipopulerkan oleh pemimpin spiritual tertinggi Syiah sekaligus pemimpin Revolusi Iran, Khomeini.

Kamis, 01/03/2018 10:44 0

Suriah

PBB: Gencatan Senjata di Ghouta Timur Belum Teraplikasi

korban tewas dan luka-luka masih terjadi di distrik Chifoniya, Gouta Timur, akibat bom gas klorin.

Kamis, 01/03/2018 08:36 0

Suriah

Gerakan Jihadis Baru Terbentuk di Suriah, Ini Seruan Pertamanya

Dewan Syariatnya merupakan para komandan Organsiasi Al-Qaidah yang diutus ke Suriah. Mereka adalah Abu Julaybib Thubas, Abu Khudaijah Al-Urduni, Sami Al-Uraydi, Abu Al-Qassam dan Abu Abdurrahman Al-Makky. Komandan-komandan tinggi lainnya mayoritas pernah bergabung dengan Jabhah Nusrah, sebelum memutuskan memisahkan diri dari Al-Qaidah.

Kamis, 01/03/2018 07:21 0

Indonesia

Aa Gym Seru Bangsa Indonesia Bantu Ghouta Timur

"Lakukan apa yang bisa dilakukan, bantulah mereka dengan donasi, ya paling tidak dengan doa," ungkapnya saat ditemui Kiblat.net usai bertemu Duta Besar Arab Saudi Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi di Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Kamis, 01/03/2018 06:01 0

Close