Pengalaman Yunahar di Suriah: Negeri Indah, Pemimpinnya Bengis

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketum PP Muhammadiyah, Yunahar Ilyas menceritakan pengalamannya berkunjung ke Suriah di tahun 2011 menjelang pecahnya konflik. Saat itu Suriah masih dalam keadaan damai, meski rezim Al Assad saat itu dikenal sangat otoriter.

Yunahar mengatakan Suriah adalah negeri yang indah, subur tanahnya dan tak seperti negara Timur Tengah lainnya yang tandus atau padang pasir. Di sana banyak peninggalan bersejarah, begitu pula peninggalan para nabi.

“Saya sedih sekarang di sana rumah sudah pada hancur, jadi ya memang sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, kalau mau Indonesia berperan bisa untuk menghubungkan antara negara-negara besar untuk serius mengatasi masalah Suriah paling kurang menghentikan peperangan,” ujarnya kepada Kiblat.net, Selasa, (27/02/2018).

Dia melihat Suriah dipimpin oleh keluarga Al-Assad yang memang bengis. Parahnya, bila terjadi aksi unjuk rasa penindakannya dengan melepaskan tembakan senjata api ke arah massa. Selain itu, Yunahar mengaku memiliki teman seorang warga Suriah. Namun temannya itu enggan pulang ke kampung halamannya dan telah 30 tahun lebih menetap di Afghanistan.

“Soalnya kalau dia pulang maka ikut wajib militer kalau tidak wajib militer itu, moralnya dirusak dengan nggak boleh sholat, dilarang puasa, dipaksa minuman keras dan dipaksa berzina. Bengis tentaranya Al Assad diperbolehkan menembak mati rakyat yang protes,” pungkasnya.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: Syafi’i Iskandar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat