... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: (Densus) Belajar dari Kasus Siyono

Foto: Densus 88 anti-teror

KIBLAT.NET – Pada Maret 2016, seorang imam masjid bernama Siyono dijemput oleh sekelompok orang tak dikenal. Tiga orang lelaki berbadan tegap, ikut shalat maghrib di Masjid yang menempel rumah Siyono di Cawas, Klaten, Jawa Tengah. Usai shalat maghrib mereka menyeret Siyono ke dalam sebuah mobil dan menjelaskan kepada jamaah Masjid bahwa hal tersebut terkait perkara utang-piutang.

Selang beberapa hari, keluarga Siyono mendapat panggilan dari pihak kepolisian, bahwa Siyono telah tiada. Rupanya, sekelompok pria itu adalah anggota Densus 88 dan menuding Siyono terlibat urusan terorisme, bukan utang-piutang. Keluarga diminta mengambil jenazahnya di kamar mayat RS Polri Kramat Jati dan diminta menandatangani sejumlah surat pernyataan.

Kita tak bisa membayangkan bagaimana pilunya istri Siyono ketika ia sepanjang jalan menemani jasad suami tercintanya yang direnggut paksa oleh aparat bersenjata.

Kasus Siyono ini kemudian mendapat sorotan yang luas, setelah Komnas HAM dan PP Muhammadiyah memberikan pendampingan hukum. Titik baliknya ialah ketika istri Siyono mengembalikan uang sebanyak dua gepok yang diberikan kepada ayah dan istri Siyono. Gepokan senilai Rp100 juta itu kemudian diserahkan kepada Komnas HAM untuk ditelusuri dari mana asal muasalnya.

Setelah itu, desakan untuk autopsi jenazah Siyono pun dilakukan secara independen oleh dokter forensik dari Muhammadiyah. Ada upaya intervensi dari aparat kepolisian saat proses autopsi berlangsung, namun hal itu dapat diatasi dengan komunikasi secara langsung kepada Kapolri Badrodin Haiti.

Pada akhirnya, hasil autopsi membuktikan bahwa Siyono meninggal akibat kekerasan dalam penyiksaan. Ditemukan fakta bahwa jantung Siyono robek akibat patahan tulang rusuk akibat siksaan aparat. Aparat tak bisa lagi membantah, semua klaim polisi kepada media yang menjelaskan kematian Siyono mentah di tangan ilmu forensik. Sayangnya, polisi tak pernah berani mengungkap apa hukuman dan sanksi bagi pelaku penyiksaan terhadap Siyono. Kasusnya masih menggantung hingga kini.

BACA JUGA  Mesir Tangkap Orang-orang yang Dituduh Rencanakan Makar

Setelah hampir dua tahun berselang, kasus terorisme yang menyebabkan kematian hampir jarang terdengar di media nasional. Hingga pada akhirnya, ketika pada 7 Februari 2018, seseorang bernama Muhammad Jefri (MJ) tiba-tiba meninggal dunia setelah ditangkap Densus 88 di Indramayu.

Dari fakta di lapangan, didapati sejumlah keganjilan dalam penangkapan MJ. Di antaranya ialah perbedaan keterangan antara pihak klinik dan kepolisian saat menerangkan waktu kapan MJ dibawa ke klinik. Polisi bilang tanggal 7 malam saat MJ ditangkap. Sementara menurut pihak klinik, MJ dibawa pada tanggal 8, sehari setelah penangkapan. Situasi pun nampak sekali sudah dikondisikan oleh aparat. Saat di RS Polri Kramat Jati, hanya tiga pihak keluarga yang diperkenankan melihat jasad MJ. Sesampainya di rumah duka di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung tak boleh ada yang membuka kain kafan MJ.

Proses pemakaman pun terbilang singkat. Pukul lima pagi tiba, pukul tujuh semua selesai. Tak banyak tetangga yang ikut melayat. Menurut adik MJ, banyak pelayat yang tak dikenal warga setempat. Diduga mereka aparat yang berpakaian sipil. Sama dalam kasus Siyono, pihak keluarga pun diberikan uang sogok dari kepolisian senilai Rp40 juta. Sebanyak 20 juta rupiah diberikan kepada ayah MJ di Lampung, sementara 20 juta rupiah lainnya dihaturkan kepada keluarga istri MJ di Indramayu.

Dari kasus MJ di atas, rupanya terlihat ada perubahan strategi yang dilakukan oleh Densus 88 dalam penanganan korban penyiksaan. Bukan strategi interogasi dengan penyiksaan yang dikendurkan, namun pengetatan dalam pengawalan korban. Korban yang telah hilang nyawanya ini jangan sampai bersuara keras lagi seperti mayat Siyono yang masih nyaring bunyinya. Strategi interogasi dikawinkan dengan teknik torture (penyiksaan) telah menjadi standar baku dalam menghadapi pelaku yang dituduh teroris. Hal ini telah berlaku dari Guantanamo hingga sel Mako Brimob Kelapa Dua.

BACA JUGA  Jejak Perjuangan Syaikh Ahmad Surkati di Tanah Betawi

Namun, belajar dari kasus Siyono ada momentum yang perlu dikawal oleh kepolisian sehingga terbongkarnya penyiksaan oleh aparat kepada korban terorisme tak boleh terulang lagi. Pertama, adalah strategi pemberian uang sogok yang sering disebut media arus utama sebagai uang santunan kematian. Densus 88 belajar rupanya jumlah bukanlah masalah. Yang penting bisa diterima oleh pihak keluarga. Percuma memberi uang Rp1 Milyar tapi ditolak oleh keluarga. Kedua, jasad harus dikebumikan secepat mungkin supaya tidak ada asumsi awal dari pihak keluarga bahwa jasad korban mengalami penyiksaan. Hal inilah yang terjadi dalam kasus Siyono, ketika ayah korban mendesak ingin mengganti kain kafan Siyono. Penggantian kain kafan ini kemudian membuka tabir sesungguhnya jasad Siyono yang secara fisik penuh luka lebam di sekujur tubuhnya.

Ironisnya, jika kematian Siyono seiring masa-masa awal pembahasan RUU terorisme. Kematian MJ ini bertepatan dengan berakhirnya masa pembahasan RUU tersebut. Anggota Komisi III DPR RI Arsul Sani bahkan menyebut RUU Terorisme ini sebagai RUU Siyono Jefri. Namun kematian mereka, sama sekali tak memberikan pelajaran bagi pihak terkait. Baik polisi, ombudsman, maupun para legislator. Masih belum ada pengaturan yang tegas terkait rehabilitasi korban salah bunuh atau hukuman bagi anggota Densus yang lalai dalam tugas, justru yang ada malah menambah ruang semakin luas kepada aparat untuk bertindak sewenang-wenang.

Selama belum ada tindak pidana terorisme dikenakan kepada orang yang di luar beragama Islam, meskipun ada barang bukti serupa bom atau senjata api, maka jangan salahkan masyarakat jika asumsi yang terbentuk adalah: Densus 88 dan UU Terorisme dibuat untuk menghabisi umat Islam.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Editorial: (Densus) Belajar dari Kasus Siyono”

  1. HENDI

    SETUJU SEKALI….DENSUS + KEPOLISIAN MUSUH UMAT ISLAM

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Pasukan Assad di Ghouta Timur Bukan Memerangi Teroris, Tapi Warga Sipil

Rezim Assad sengaja menargetkan infrastruktur dan rumah sakit sipil. Akses kemanusiaan ke wilayah tersebut juga dihalangi untuk memaksa pejuang oposisi menyerah.

Kamis, 22/02/2018 14:05 0

Afrika

AS Tetapkan Ansharul Islam di Sahel Afrika sebagai Organisasi Teroris

Ansharul Islam dibentuk pada tahun 2016 di kawasan hutan Mondoro, Mali, oleh Boureima Dicko, seorang imam setempat yang juga dikenal dengan nama Ibrahim Dicko.

Kamis, 22/02/2018 13:43 0

Indonesia

Habib Rizieq Soroti Kasus Korupsi Honggo hingga PK Ahok

Meski tak jadi pulang ke Indonesia, Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Shihab tetap mengapresiasi segenap panitia dan umat Islam yang hadir dalam acara istighosah dan penyambutan dirinya di Masjid Baitul Amal, Cengkareng. 

Kamis, 22/02/2018 12:28 0

Suara Pembaca

Solidaritas Muslim Salurkan Donasi untuk Keluarga Anggota FPI Klaten 

Donasi diserahkan melalui keluarga Sulis di rumah orangtuanya di Klaten Jawa Tengah yang dibersamai oleh Ketua FPI Klaten.

Kamis, 22/02/2018 11:31 0

Suriah

Rusia Pasok Suriah Senjata Sebelum Pembantaian Ghautah Timur Dimulai

Harian online Suriah, Zaman Al-Wasl, pada Rabu (21/02) melaporkan bahwa Moskow mengirim senjata dan bom udara kepada militer Assad sehari sebelum penyerangan intens di Ghauta Timur.

Kamis, 22/02/2018 09:50 1

Suriah

Warga Ghautah: Kami Menunggu Antrian Mati

“Kami menunggu antrian mati,” ujarnya kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa itulah ungkapan yang bisa kami katan.

Kamis, 22/02/2018 09:27 0

Eropa

Uni Eropa Ancang-ancang Hadapi Ancaman Sanksi AS

Uni Eropa memperingatkan, Selasa (20/02), akan mengambil “langkah-langkah yang tepat” untuk melindungi kepentingannya apabila AS menerapkan sanksi, dengan menetapkan tarif tinggi bagi ekportir Eropa. Hal itu dinyatakan UE menyusul rencana Trump yang akan menerapkan kebijakan proteksionisme perdagangan.

Kamis, 22/02/2018 08:25 0

Suriah

PBB Desak Stop Pembantaian di Ghautah Timur

"Yang ingin saya tekankan terhadap semua pihak yang terlibat adalah untuk segera menangguhkan semua kegiatan perang di Ghautha Timur," katanya pada Rabu (21/02).

Kamis, 22/02/2018 08:14 0

News

Penyidik Polri Jadi Saksi Fakta, Pengacara Alfian Tanjung Heran

Saksi fakta yang dihadirkan adalah Davit Permana. Davit merupakan penyidik yang memeriksa Alfian Tanjung pertama kali. Sontak tim penasihat hukum Alfian Tanjung keberatan. Karena seharusnya penyidik menjadi pihak yang independen dan tidak menjadi saksi fakta yang memberatkan terdakwa.

Rabu, 21/02/2018 21:00 0

News

Sebelum Ditangkap Densus, Muhammad Jefri Tak Pernah Keluhkan Sakit

Trisno mengungkapkan bahwa dalam pertemuan itu, keluarga istri MJ menyampaikan kronologi penangkapan versi keluarga. Ia menegaskan bahwa saat ditangkap oleh Densus 88, keluarga tidak diberi pemberitahuan terlebih dahulu. Dan dalam keadaan sehat.

Rabu, 21/02/2018 20:45 0

Close