JAS Ajak Umat Tak Ridho Atas Kesewenangan Densus terhadap MJ

KIBLAT.NET, Solo – Kematian Muhammad Jefri (MJ) masih menyisakan tanda tanya di kalangan masyarakat. Sebab, ayah satu anak itu dalam keadaan sehat saat ditangkap Densus 88 tak jauh dari kediamannya di Indramayu. Beberapa jam kemudian, Jefri dikabarkan sudah tidak bernyawa.

Tak cukup di situ, kabar tak diizinkannya keluarga ditemui oleh media atau pihak lain pun semakin menambah kecurigaan di balik kematian Jefri. Klaim Polisi yang menyebut Jefri meninggal karena penyakit dalam tak membuat kecurigaan itu hilang.

Hal itu juga yang menjadi pertanyaan juru bicara Jama’ah Anshoru Syari’ah (JAS) Ustadz Abdurrahim Baasyir. Sikap aparat yang menghalangi orang lain bertemu keluarga MJ untuk menanyakan perihal kematian tersebut memunculkan rasa curiga sehingga masyarakat berasumsi, ‘pasti ada yang disembunyikan’.

“Justru itu menimbulkan pertanyaan, kenapa kok dilarang, kalau memang tidak ada kesalahan kenapa harus ada yang ditutupi? Kalau memang betul-betul polisi tidak salah, ceritakan saja apa adanya, berikan akses kepada pihak-pihak independen. Sehingga menjawab keraguan yang ada di masyarakat kita,” ujar Ustadz yang akbrab disapa Ustadz Iim ini kepada kiblat.net, Ahad (18/02/18) di lapangan Kota Barat, Solo, Jawa Tengah.

“Justru ini akan mencoreng nama Densus 88 yang ‘katanya’ fokus memerangi terorisme,” tambahnya.

Putra Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini, juga meminta kepada umat muslim untuk tidak ridho terhadap perlakuan sewenang-wenang Densus 88 terhadap MJ. Karena menurutnya, nyawa seorang muslim sangat bernilai dihadapan Allah.

BACA JUGA  PKS Minta BNPB Lebih Memperhatikan Puskesmas

“Tidak boleh kita umat Islam di Indonesia ini merasa ridho, dan harus terus menuntut kejelasan. Seperti kata Rasulullah, ‘Walaupun Ka’bah dibongkar satu persatu batunya, maka itu dihadapan Allah lebih ringan dari pada ditumpahkan darah seorang muslim tanpa hak’ ,” imbuhnya.

Terakhir, ia juga mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas dalang dibalik peristiwa ini, dan memberi hukuman bagi mereka yang telah melakukan tindakan aniyaya yang menyebabkan nyawa orang hilang. “Tidak cukup hanya sebatas dengan membiarkan atau sekedar minta maaf,” tutupnya.

Reporter: Usamah Rabbani
Editor: Hunef Ibrahim

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat