... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pernyataan ARSA Terkait Pembantaian 10 Rohingya di Inn Din

Foto: 10 jasad pria Muslim Rohingya tersungkur dalam satu liang dangkal di desa Inn Din. Gambar ini diperoleh Reuters pada 22 November 2017 (Reuters)

KIBLAT.NET, Rakhine – Hasil investigasi yang dirilis oleh Reuters tentang pembantaian 10 Rohingya di desa Inn Din, Maungdaw, Rakhine kini menjadi perhatian banyak pihak. Meski dua wartawan yang menginvestigasi kejadian itu kini terancam 14 tahun penjara, hasil liputan itu kini telah membuktikan bahwa pembantaian terhadap Rohingya itu benar adanya.

Pada 13 Januari 2018 lalu, gerilyawan Rohingya ARSA telah berbicara terkait perlakuan sadis militer Myanmar itu. Pernyataan ARSA muncul seiring adanya isu yang dihembuskan oleh pemerintah Myanmar bahwa mereka yang diekseskusi merupakan bagian dari ARSA.

Baca jugaMyanmar Hanya Akui Bunuh 10 Rohingya, ARSA: Tidak Masuk Akal

ARSA menegaskan bahwa 10 warga Rohingya korban pembantaian itu bukanlah anggotanya, melainkan hanya penduduk biasa. ARSA juga membantah bahwa para korban pernah berhubungan dengan kelompok yang dipimpin oleh Ataullah Abu Ammar Jununi.

“Dengan ini, kami menyatakan bahwa sepuluh warga Rohingya yang tidak bersalah yang ditemukan di kuburan massal tersebut saat tragedi Desa Inn Din bukanlah anggota ARSA dan juga tidak memiliki hubungan dengan ARSA,” tegasnya seperti dikutip dari rilisnya di Twitter pada Sabtu (13/01/2018).

 

Sepuluh jasad itu mulanya ditemukan pada 18 Desember 2017 lalu. Mereka dibunuh oleh tentara dan penduduk desa setempat mayoritas Buddha. Identitas para korban ini kemudian terungkap melalui hasil investigasi Reuters yang dirilis pada 8 Februari 2018.

BACA JUGA  4 Fakta di Balik Daftar 200 Mubalig Ala Kemenag

Baca juga: ARSA: Kejahatan Burma Akan Kami Ungkap pada Waktunya

Kesepuluh korban antara lain, Abul Hashim (25 tahun), Abdul Malik (30 tahun), Nur Mohammer (29 tahun), Rashid Ahmed (18 tahun), Habizu (40 tahun), Abulu (17 tahun), Shaker Ahmed (45 tahun), Abdul Majid (45 tahun), Shoket Ullah (35 tahun), Dil Mohammed (35 tahun).

10 pria Muslim Rohingya menjelang diekseskusi, tangannya terikat, dan bersimpuh dan dikelilingi oleh tentara Myanmar yang berjada di desa Inn Din (Reuters)

Mereka dilaporkan tewas oleh Reuters setelah dibunuh oleh penduduk desa dan tentara Myanmar pada 2 September 2017 di Rakhine. Sayangnya, selama menulis hasil laporan investigasi ini, kedua wartawan yang menyelidiki pembantaian ini ditangkap atas tuduhan mendapatkan informasi rahasia.

Baca juga: ARSA: Aung San Suu Kyi Berbohong pada Dunia

Tak hanya itu, pada saat yang sama ARSA juga bercerita tentang susahnya akses bantuan kemanusiaan ke kawasan Rakhine. Menurutnya, pemerintah Myanmar kerap kali mempersulit bantuan untuk masuk ke kamp-kamp atau kawasan yang ditinggali Rohingya.

“Alur cerita yang dijual oleh tentara Burma tidak masuk akal dan tidak dapat diterima bahkan oleh anak kecil sekalipun. Selain itu, pemerintah teroris Burma harus memberikan Misi Pencarian Fakta Internasional Independen (IFFM) atau badan internasional lainnya izin akses ke semua wilayah yang terkena dampak untuk melakukan investigasi yang rinci dan sistematis,” jelas ARSA.

BACA JUGA  Ustadz Syamsudin Uba Bersyukur Dikunjungi Baintelkam Mabes Polri

Reporter: Syafi’i Iskandar
Editor: Jon Muhammad

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Begini Semangatnya Ribuan Warga Ikuti Solo Quran Hours

Ribuan orang hadir dalam acara ini. Hal itu terpantau sejak menjelang acara dimulai. Hingga akhir acara, orang-orang yang ingin menyaksikan acara ini kian bertambah.

Ahad, 11/02/2018 14:59 0

Indonesia

Potongan Zakat Gaji PNS, Jokowi: Masih Wacana Belum Putusan

Presiden Joko Widodo memberikan penjelasan tentang wacana pengumpulan zakat yang diambil dari gaji aparatur sipil negara (ASN) beragama Islam.

Ahad, 11/02/2018 14:23 0

Indonesia

Bawaslu Urusi Khutbah Jumat, Muhammdiyah: Kebesaran Baju!

Maneger Nasution menegaskan bahwa Bawaslu tidak punya kompetensi untuk mengawasi khutbah Jumat.

Ahad, 11/02/2018 13:25 2

Indonesia

Polisi Klaim Teror Orang Gila di Bandung Tak Saling Berkaitan

Polrestabes Kota Bandung mengklaim bahwa dua peristiwa tindak kriminal penganiayaan ustadz dan penodongan senjata tajam di kota Bandung murni tindak kriminal. Sehingga tidak ada kaitan apapun antar peristiwa.

Ahad, 11/02/2018 12:48 0

Indonesia

Tulisan Wartawan Dikriminalisasi, JITU: Bentuk Kemunduran Reformasi

Jurnalis Islam Bersatu (JITU) sangat menyayangkan upaya yang ditempuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan melaporkan Asyari Usman ke Kepolisian. Asyari dianggap mencemarkan nama baik ketua umum PPP Romahurmuziy dalam tulisannya. 

Ahad, 11/02/2018 12:12 0

Indonesia

MIUMI Tegaskan Pentingnya Tema Kepemimpinan Umat Islam

Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) menilai kepemimpinan merupakan tema penting umat Islam yang saat ini sangat perlu untuk diseriusi.

Ahad, 11/02/2018 11:38 0

Indonesia

Wartawan Dipolisikan Karena Tulisan, Nasir: Parpol Jangan Anti Kritik

Wartawan senior, Asyari Usman diperiksa di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (09/02/2018) malam. Asyari dijadikan tersangka, setelah kuasa hukum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) melaporkannya atas tindak pidana pencemaran nama baik.

Ahad, 11/02/2018 11:07 0

Video Kajian

Jadi Tahu: Ulah Orang Gila Merugikan, Bagaimana Hukumnya?

Jadi Tahu: Ulah Orang Gila merugikan, Bagaimana Hukumnya? Bila ulah orang gila merugikan orang lain, misalnya mencuri, melukai orang lain, bahkan membunuh? Apalagi, baru-baru ini, banyak kabar beredar, orang gila menyerang ulama dan membawa senjata tajam, Apakah wajar orang gila melakukan tindakan seperti itu?

Ahad, 11/02/2018 09:52 0

Indonesia

Jurnalis Muslim Harus Perbanyak Tahajud Agar Karyanya Berkualitas

Pemimpin Majelis Az-Zikra, KH. Arifin Ilham berpesan jika jurnalis Muslim ingin karyanya berkualitas, maka harus membiasakan diri melakukan shalat tahajud dan membaca Al-Qur'an.

Ahad, 11/02/2018 09:44 0

Indonesia

Pengaruhi Orang Gila, Intelijen Gunakan Doktrin

Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan, menilai ulama kerap dijadikan objek operasi intelijen karena memiliki peran yang cukup besar di Indonesia.

Ahad, 11/02/2018 08:43 0

Close