... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pengaruhi Orang Gila, Intelijen Gunakan Doktrin

Foto: Orang gila (ilustrasi)

KIBLAT.NET, Jakarta – Pengamat Intelijen dan Pertahanan, Jaka Setiawan, menilai ulama kerap dijadikan objek operasi intelijen karena memiliki peran yang cukup besar di Indonesia. Hal itu ia kemukakan melihat fenomena orang diduga gila yang menyerang ulama baru-baru ini.

“Selama ini di Indonesia (ulama) memang punya peran besar, baik dalam politik elektoral (Pemilu) maupun politik keumatan. Ini menjadi psikologi war bagi ulama-ulama yang memobilisasi kesadaran umat untuk kembali berkiprah di tengah-tengah masyarakat, itu motifnya,” ungkapnya gamblang kepada Kiblat.net, Sabtu (10/02/2018).

Baca juga: Intelijen Diduga Dalangi Rentetan Insiden ‘Orang Gila’ Serang Ulama

Jaka lantas menyoroti subjek penyerang ulama, yang dilakukan oleh orang gila. Menurutnya, pelaku tidak mungkin murni orang gila, melihat pola serangannya yang menargetkan ustadz.

“Jadi pertama kita bisa lihat secara detil, apakah pelaku benar orang gila atau tidak. Adapun pihak yang bisa melakukan pemantauan ini menurut saya adalah media Islam yang mengawal kasus ini dan juga dari pihak korban,” ungkapnya.

“Korban pun yang punya tim advokasi bisa melihat apakah pelakunya adalah orang gila, atau tidak. Kalau kejadian yang menimpa Almarhum ustadz Prawoto dari Persis kemarin kan, sudah diketahui bukan orgil, tapi murni kriminal,” katanya.

Menurut Jaka, tindakan yang dilakukan oleh pelaku, tidak mungkin terjadi tanpa ada pemicunya. “Kan gak mungkin tiba-tiba dia membunuh karena resek doang, kan ga mungkin. Di sinilah peran intelijen bermain,” tambahnya.

BACA JUGA  Explore Kampanyekan Peduli Lingkungan di Muslim United

Jaka mengungkapkan, intelijen bisa saja mendoktrin orang yang kurang motivasi (orang gila,red) sehingga melakukan tindakan jahat.

“Ini sebenarnya cuma masalah perang opini, apakah dia orang gila. Faktanya di kasus Persis kemarin kan memang bukan orang gila. Kalaupun orang gila, ya banyak yang telah dilakukan dalam operasi-operasi seperti ini,” ungkap Jaka.

Baca juga: Orang Gila Bawa Sajam Berkeliaran, Pesantren Az-Zikra Tingkatkan Pengamanan

Untuk mendukung argumentasinya, Jaka kemudian mencontohkan operasi intelijen yang menggunakan orang gila.

“Jika saya punya infrastruktur, saya gampang, tinggal masukin anggota-anggota saya ke RSJ di seluruh Indonesia, lalu saya kasih anggota saya target untuk melakukan operasi, itu kan gampang dilakukan oleh intelijen, seperti itu mudah. Mudah banget, dan operasi seperti itu di intelijen bukan hal yang tabu,” ungkapnya.

Jaka menyebut kasus di Banyuwangi dengan motif dukun santet. “Tiba-tiba banyak muncul orang gila. Orang gilanya ketika ditanya menjawab, tapi ketika ditanya asalnya, tiba-tiba jadi gila. Dan ketika sudah selesai targetnya, tiba-tiba orang gila itu pada menghilang semua begitu saja,” tuturnya.

Dalam kasus sekarang ini, ia melihat pelakunya bukan intel organik, dalam artian anggota intel yang ditanam di RSJ untuk pura-pura gila.

“Saya melihat, kasus ini lebih kepada doktrin yang mungkin karena masalah ekonomi untuk kemudian orang yang melakukan tindakan kejahatan itu disogok uang, namun perlu juga kita buktikan teori ini,” ungkap Jaka.

BACA JUGA  Dinilai Menyinggung Warga Maluku, Wiranto Akhirnya Minta Maaf

Ia membandingkan kasus orang gila saat ini dengan pembantaian yang dilakukan orang gila di Banyuwangi pada 1998. Jika kasus terdahulu menggunakan intel berpura-pura menjadi orang gila atau intel organik, kalau yang terjadi saat ini menurutnya lebih kepada doktrin.

“Sama polanya dengan aksi terorisme. Terduga teroris tadinya orang biasa yang kemudian didoktrin untuk melakukan hal-hal ekstrem. Kalau ini kriminal yang saya rasa didoktrin juga dengan motivasi yang lain, dalam intelijen hal seperti itu bisa dilakukan,” ungkapnya.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: M. Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Trump Ingin Gelar Parade Militer, Begini Saran Anggota Senator

"Kenapa sulit menang di Afghanistan, karena presiden terus membuat definisi-definisi (kemenangan) yang mustahil bisa diwujudkan,” kata Paul.

Sabtu, 10/02/2018 17:40 0

Fikih

Gila dan Pura-pura Gila dalam Perspektif Fikih

Di dalam tulisannya Safar Ahmad Al-Hamdani menjelaskan kondisi-kondisi orang yang pura-pura gila. Ada kondisi pura-pura gila diperbolehkan dalam kajian fikih.

Sabtu, 10/02/2018 16:29 0

Amerika

DK PBB Kaji Usulan Gencatan Senjata 30 Hari di Suriah

Rancangan resolusi gencatan sementara yang disusun oleh Swedia dan Kuwait itu dibagikan kepada Negara anggota DK PBB yang berjumlah 15 negara pada Jumat.

Sabtu, 10/02/2018 13:14 0

Suara Pembaca

Racun Budaya Valentine

Atas dasar apakah kaum muslim rela diracun dengan budaya liberal berkedok hari kasih sayang?

Sabtu, 10/02/2018 13:14 0

Yaman

Lima Komandan Pemberontak Syiah Hutsi Tewas di Al-Jawf

Lima komandan Syiah Hutsi tewas dalam bentrokan dengan tentara Yaman

Sabtu, 10/02/2018 09:38 0

Suriah

4.000 Keluarga di Ghouta Timur Tinggal di Bunker Bawah Tanah

Lebih dari 4.000 keluarga sipil di Ghouta Timur tinggal di ruang bawah tanah untuk menghindari pemboman

Sabtu, 10/02/2018 08:11 0

Suriah

Ghouta Timur Dibombardir Rezim, Ratusan Warga Suriah Terbunuh

Serangan selama empat hari di Ghouta Timur menyebabkan sedikitnya 200 warga Suriah menianggal dunia

Jum'at, 09/02/2018 21:11 0

Opini

Banjir Lagi, Jakarta Butuh Lebih Dari Sekadar Pemimpin Mumpuni

Banjir sudah menjadi langganan ibu kota. Setiap  pergantian pemimpin, masyarakat tak henti berharap solusi tuntas persoalan banjir. Pertanyaannya, apakah cukup sosok pemimpin mumpuni menyelesaikan banjir Jakarta?

Jum'at, 09/02/2018 17:54 0

Suara Pembaca

Radikalisme Islam, Bahayakah?

Pertanyaannya mengapa jika kata radikalisme disandingkan dengan Islam malah memiliki konotasi negatif?

Jum'at, 09/02/2018 16:12 0

Suriah

Koalisi AS Serang Milisi Assad, untuk Bela Rakyat Suriah?

Sedikitnya 100 milisi pro-rezim Suriah Bashar Assad tewas oleh serangan udara koalisi AS.

Jum'at, 09/02/2018 15:27 0

Close