Racun Budaya Valentine

Hari kasih sayang, kehormatan diri melayang. Maksiat dibalut coklat, seolah lupa negeri akhirat. Padahal, muda tak ada jaminan punya jatah lama di dunia. Tua pun tak berarti duluan dijemput Sang pencabut nyawa. Namun yang pasti, semua akan mengalami penghisaban.

Laksana makanan, dalam budaya pun bisa ada racun yang tersimpan. Tatkala budaya tumbuh dari aqidah yang salah, pasti ia akan mengandung racun yang parah. Salah satunya adalah valentine day.

Sudah begitu banyak cerita, dan dari semuanya jelaslah ia bukan budaya Islam. Menurut kristolog, Ustadzah Irene, setidaknya ada 3 versi asal muasal valentine day.

Pertama, St Valentine adalah seorang pemuda bernama Valentino yang kematiannya pada 14 Pebruari 269 M karena eksekusi oleh Raja Romawi, Claudius II (265-270). Ia menentang ketetapan raja, memimpin gerakan yang menolak wajib militer dan menikahkan pasangan yang masih muda.

Versi kedua, Valentine seorang pastor di Roma yang berani menentang Raja Claudius II dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi. Ia kemudian meninggal karena dibunuh dan oleh gereja dianggap sebagai orang suci.

Ketiga, seorang yang meninggal dan dianggap sebagai martir, terjadi di Afrika di sebuah provinsi Romawi. Meninggal pada pertengahan abad ke-3 Masehi. Dia juga bernama Valentine. Lalu, di manakah ketiga versi ini yang islami? Tak ada satu pun kawan.

Legenda bisa dibuat, heroik pemuja cinta bisa direka-reka. Tetapi yang mudah, lihatlah faktanya. Valentine berpijak pada liberalisme. Melahirkan paham kebebasan perbuatan yang berbuah pergaulan bebas. Muda-mudi yang belum menikah berpasang-pasangan, saling mengungkapkan kasih sayang, kemudian tak sedikit berakhir dengan perzinaan. Dengan doktrin valentine, seolah semuanya menjadi halal dilakukan.

Ingatlah teman! Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (TQS Al-Isra [17]: 32).

Tak hanya berzina, mendekatinya pun sudah diharamkan dalam Islam. Berdua-duan, bersepi-sepian, saling mengungkapkan kasih dan sayang. Manusia normal tentu akan bergairah karenanya. Jika bukan pasangan yang sah? Kemanakah syahwat tersebut tertumpah? Tentu ujungnya, maksiat menjadi pilihan yang sesat.

Namun bukan berarti merayakan valentine menjadi mubah bagi pasangan yang sah. Rasulullah Saw melarang kita tasyabbuh (menyerupai kaum kafir), beliau bersabda: “Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-,
“Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Selain mereka, lantas siapa lagi?“ (HR. Imam al-Bukhari)

Lalu, atas dasar apakah kaum muslim rela diracun dengan budaya liberal berkedok hari kasih sayang? Jika karena ketidaktahuan, maka saatnya sekarang untuk meninggalkan. Namun jika karena kesombongan dan ketamakan, biarlah Allah Swt yang menentukan.

Allahumma fa innaka al-Hadi ila sabili ar-Rosyadi.

Penulis: Ary H. – Pengelola FP Mudah Nulis

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat