... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Banjir Lagi, Jakarta Butuh Lebih Dari Sekadar Pemimpin Mumpuni

Foto: Banjir di Kampung Melayu pada Februari 2018.

KIBLAT.NET – Sejumlah wilayah di Jakarta kembali terendam banjir. Hujan deras di daerah Bogor dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir memicu luapan Sungai Ciliwung. Akibatnya, pada Senin (5/2/2018), terpantau beberapa titik tergenang air.

Di sekitar aliran sungai di Pejaten, Jakarta Timur misalnya, banyak rumah terendam dan sejumlah warga diungsikan. Di Kampung Melayu dan Srengseng, air sudah mencapai lutut orang dewasa. Sementara di Lenteng Agung, air bahkan sudah mencapai pinggang orang dewasa.

Banjir juga melanda kawasan Sunter Agung. Rumah-rumah tampak terendam air, atau setidaknya dikepung air.

Banjir sudah menjadi langganan ibu kota. Setiap  pergantian pemimpin, masyarakat tak henti berharap solusi tuntas persoalan banjir. Pertanyaannya, apakah cukup sosok pemimpin mumpuni menyelesaikan banjir Jakarta?

Dalam sejarahnya, banjir selalu menyapa, bahkan tak pernah lenyap dari bumi Jakarta. Berbagai literatur menyebutkan, banjir pernah terjadi pada 1621187218781909191819231932, dan 1959. Bahkan pada abad ke-5 ketika Jakarta berada di bawah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara, wilayah ini telah kerap terendam banjir saat puncak musim hujan. Tulisan di Prasasti Tugu yang ditemukan di Jakarta Utara pada 1878 menjadi bukti otentik bahwa Jakarta sudah mengalami banjir sejak dahulu kala.

Letak geografis Jakarta dinilai menjadi penyebab potensi banjir kerap melanda. Jakarta terletak di dataran rendah pada ketinggian rata-rata 8 meter dpl. Bahkan sebanyak 40% wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut. Ini yang membuat Jakarta semakin rentan akan ancaman banjir. Selain berasal dari luapan ketiga belas sungai yang ada, juga dari pasang laut atau banjir rob.

Jakarta juga merupakan daerah ketinggian tektonik yang selalu turun. Hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) memperlihatkan hal ini, bahwa Jakarta memiliki sifat tektonik yang khas yang membuat Jakarta memiliki dataran banjir.

Seiring bergulirnya waktu, banjir Jakarta tak lagi semata karena faktor alam, namun juga dipicu kerusakan lingkungan. Kerusakan ini adalah akibat tata kelola kota yang semrawut, seperti drainase yang buruk dan makin tergerusnya daerah resapan akibat pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan.

BACA JUGA  Menjawab Orasi Politik Grace Natalie

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap beberapa data terkait. Salah satunya adalah perubahan kondisi pembangunan DKI Jakarta dari tahun ke tahun. Memasuki tahun 2014 hingga 2017, nyatanya situasi Ibu Kota justru menjadi salah satu kota yang rawan terhadap bencana banjir.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei, menyatakan, “Perubahan pembangunan di Jakarta kalau kita lihat 1972 sampai 2014 bahwa hampir semuanya merah, tidak ada warna-warna hijau. Artinya Jakarta rawan terhadap banjir sekarang (banjir Jakarta 2017),” tutur Willem di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (22/2/2017).

Willem membeberkan sejumlah perubahan geografis Jakarta. Sebelum 2014, Daerah Aliran Sungai (DAS) di ibu kota dapat menahan sekitar 45 persen dengan lintasan air ke sungai sebanyak 65 persen. Sementara saat ini, air hujan yang dapat ditahan DAS hanya 15 persen. Selebihnya langsung turun ke dataran rendah.

Sementara itu, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, banjir yang menerjang sejumlah wilayah, utamanya disebabkan karena drainase yang ada di Jakarta buruk, sehingga tak mampu menahan air yang mengalir di permukaan.

“Banjir lebih disebabkan karena drainase perkotaan yang tidak mampu menampung aliran permukaan,” kata Sutopo lewat keterangan tertulis yang diterima Okezone tahun 2017 lalu.

Selain soal drainase, permasalahan sosial juga dinilai menjadi salah satu penyebab banjir.

“Isu pertumbuhan penduduk dan urbanisasi juga mempengaruhi (banjir Jakarta),” tegas Willem Rampangilei, Kepala BNPB.

Berdasarkan kenyataan tersebut, ada dua kelompok besar faktor penyebab banjir Jakarta, pertama faktor alam dan yang kedua faktor pembangunan oleh manusia. Faktor alam berupa kondisi geografis, jelas berada di luar kekuasaan manusia untuk menanganinya, sementara faktor yang kedua, yakni pembangunan, maka manusia bisa mengupayakan untuk mengaturnya.

Membangun Jakarta tidak sekadar membutuhkan gubernur yang cakap, tapi juga konsep tata kelola kota yang handal yang terintegrasi dengan pengelolaan sumber daya alam dan manusia juga kebijakan politik yang unggul (yang juga integral dengan kebijakan politik di wilayah lain). Sehingga gubernur yang tegas dan cerdas, atau santun dan berkomitmen saja tidak cukup.

BACA JUGA  Jalan Menuju Sekularisme dan Politik Machiavelli di Arab Saudi

Tata kelola kota sekeren apapun jika tidak diimbangi dengan pengelolaan SDA dan SDM yang mumpuni, tidak akan mampu bertahan untuk mengatasi banjir. Karena pembangunan dan maintanance segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung tata ruang kota yang terorganisir dengan apik, nyaman, indah, berlingkungan sehat, dan terarah perluasannya di masa depan, membutuhkan dana yang tidak sedikit juga keterlibatan masyarakat di dalamnya. Karena itu dukungan sistem ekonomi yang kuat dan sistem pendidikan yang mencerdaskan di tengah masyarakat sangatlah vital.

Tata kelola kota sekeren apapun juga tidak akan berguna tanpa kebijakan politik yang adil terhadap alam juga publik. Faktanya, kebijakan hari ini cenderung berpihak kepada para kapitalis ketimbang rakyat banyak. Lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal daripada mengurus problem masyarakat luas. Salah satunya terbukti dengan pembangunan fisik secara besar-besaran yang terus digalakkan tanpa memperhatikan masalah lingkungan juga kepentingan masyarakat banyak, sekadar berorientasi bisnis, menyebabkan ruang terbuka hijau terus tergerus, masyarakat kecil semakin tak berdaya dan terpinggirkan menyebabkan kemiskinan dengan pemukiman kumuh menjadi pemandangan biasa di tengah gedung-gedung pencakar langit.

Karena itu, sekali lagi tidak cukup pemimpin yang cakap dan amanah untuk membebaskan Jakarta dari banjir juga dari jeratan berbagai persoalan lain yang tak kunjung usai, tapi juga dibutuhkan sistem pengelolaan kota dengan segenap perangkat hukum, kebijakan politik juga ekonomi yang tangguh dan mumpuni, serta dukungan sistem lain yang komprehensif.

Jika tata kelola dan sistem pendukung yang kini tegak terbukti tak mampu menangani problem banjir, bahkan hingga berulang kali tampuk kepemimpinan berganti, mengapa tidak mengambil alternatif sistem yang berasal dari Ilahi? Yang tentu sempurna tanpa cela dan telah terbukti memberi solusi hingga berabad lamanya? Mari berpikir jernih dan mengambil pelajaran. Wallahu a’lam.

Allah berfirman,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50).

Ditulis Oleh: Rizki Ika Sahana, (Aktivis Dakwah, Pemerhati Masalah Sosial dan Blogger)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Orang Gila Berkeliaran Bawa Sajam, Ponpes Az-Zikra Akui Ada Keganjilan

Menurut Mudir Tanfidziy Pondok Pesantren Az-Zikra Sentul Bogor Ustadz Ahmad Syuhada, kejadian semacam ini sangatlah ganjil apabila dinalar secara akal sehat.

Jum'at, 09/02/2018 17:09 0

Indonesia

Korban Pembacokan Orang Gila di Bogor Bukan Ustadz

Ia juga mengungkapkan bahwa sebab pembacokan karena masalah harga durian. Selain itu, Dicky juga menyebut bahwa pembacok mengalami gangguan kejiwaan dan masih kerabat korban.

Jum'at, 09/02/2018 16:50 0

Indonesia

Pemerintah Zalim Jika Sembarangan Potong Zakat dari Gaji PNS

Zakit terkait erat dengan nisahb, jadi pemerintah zalim jika sembarangan potong zakat dari gaji PNS

Jum'at, 09/02/2018 16:25 0

Suara Pembaca

Radikalisme Islam, Bahayakah?

Pertanyaannya mengapa jika kata radikalisme disandingkan dengan Islam malah memiliki konotasi negatif?

Jum'at, 09/02/2018 16:12 0

Suriah

Koalisi AS Serang Milisi Assad, untuk Bela Rakyat Suriah?

Sedikitnya 100 milisi pro-rezim Suriah Bashar Assad tewas oleh serangan udara koalisi AS.

Jum'at, 09/02/2018 15:27 0

Investigasi

Penganiaya KH Umar Basri Ikut Shalat Subuh Lalu Teriak: Semuanya di Neraka!

Santri asal Majalengka itu melanjutkan, ketika para jamaah wiridan usai shalat pelaku justru bertingkah aneh dengan menendang kotak kayu tempat azan, sambil mengatakan: ieu mah pinerakaeun, nu di dieu mah pinerakaeun kabeh (ini mah neraka, yang di sini neraka semua).

Jum'at, 09/02/2018 15:25 0

Investigasi

Ada Upaya Adu Domba NU-Persis Usai Serangan Orang Gila di Bandung

"Katanya, penganiayaan Ketua Brigade Persis adalah bentuk balas dendam atas penganiayaan KH Umar Basri. Astagfirullah, sampai sejahat itu ingin mengadu-domba umat Islam," ujarnya.

Jum'at, 09/02/2018 14:45 0

Video Kajian

Al-Qur’an Turun Untuk Menyatukan Umat

KIBLAT.NET – Adakalanya seorang yang baru belajar bahasa Arab sedikit saja, ia merasa telah menguasai...

Jum'at, 09/02/2018 11:53 0

Palestina

Menteri Israel Ingin Ubah Masjid Al-Aqsha Jadi Kuil Yahudi

Lebih jauh, Ariel meminta pemerintah Israel untuk mennyatakan kedaulatan penuh atas wilayah Palestina.

Jum'at, 09/02/2018 11:41 0

Feature

Belilah Meski Engkau Tak Butuh, Cerita Inspiratif Seorang Jurnalis

Siang itu kendaraanku terhenti ketika melihat seorang kakek yang tengah beristirahat di pinggir jalan sambil memijit kakinya yang sudah tampak keriput dan rapuh.

Jum'at, 09/02/2018 11:10 0

Close