... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Laporan Perjalanan Wartawan JITU ke Agats: Kota Tanpa Polusi

Foto: Seorang bocah Asmat terlihat di jalanan Kota Agats, Kabupaten Asmat, Papua.

KIBLAT.NET – Aktifitas warga Agats, Kabupaten Asmat dihubungkan dengan jalan kayu selebar satu meter. Kita tidak akan menemui jalan beraspal di sini, kecuali jalan beton.

Saat memasuki kota dari dermaga, akan terlihat jalan beton selebar empat meter. Bisa dibilang jalan ini adalah jalan protokolnya atau “Jalan Tol” kota Agats. Kendaraan roda dua biasa berlalu-lalang di sini.

Jalan beton dibangun di sepanjang Jalan Yos Sudarso. Jalan serupa juga mulai dibangun di distrik-distrik luar ibu kota dengan konstruksi beton dan komposit.

Pada 2017 silam, Pemkab Asmat mencanangkan jalan beton pada 11 titik dan dua titik jalan komposit di tiga distrik, yaitu Distrik Atsj, Fayit, dan Suator.

Jalan Yos Sudarso adalah pusat aktifitas warga ibu kota Agats. Sebagian gedung pemerintahan  berdiri di sana, di antaranya Kantor Pelabuhan, Kantor Polsek, Bank, Rumah Sakit Daerah, Taman Baca. Pertokoan juga berdiri di sepanjang jalan itu.

Mereka menjual beragam barang, mulai dari pernak-pernik, pakaian, rumah makan, sayur-sayuran dan kebutuhan pangan lainnya. Warga juga banyak yang berdagang di pinggir jalan. Kebutuhan warga mayoritas disuplai dari Timika dan Merauke.

Jalanan Sunyi Tanpa Polusi di Agats

Satu-satunya kendaraan bermotor yang bisa ditemui di Agats adalah motor listrik. Kendaraan listrik dipilih untuk menghindari pencemaran lingkungan. Sulitnya mencari BBM juga jadi faktor motor bermesin bensin dilarang. Jasa cas motor menjamur di sini, kisaran harganya Rp20.000 per jam.

BACA JUGA  Indonesia Beri Pelatihan Pertambangan Bagi 65 Orang Perwakilan Afghanistan

Kasie Perhubungan Darat Kabupaten Asmat, Norbertus Kamona mengatakan, larangan motor bensin juga tertuang dalam Peraturan Daerah. “Itu ada di Perda. Ada Perda tentang lingkungan hidup,” katanya.

Ditinjau dari  topografinya, memang tidak banyak pilihan untuk berkendara. Berada di pesisir pantai dan di atas rawa membuat warga hanya dapat berpegang pada transportasi air, motor listrik bahkan berjalan kaki.

Pantauan wartawan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) di lokasi, motor listrik ramai ditemui di Jalan Yos Sudarso yang berkonstruksi beton. Motor tersebut berlalu lalang menjadi angkutan setia masyarakat Agats. Angkutan pribadi, jasa transportasi, hingga membawa barang.

Motor listrik tersebut memiliki beragam bentuk dan gaya. Mulai bergaya matic hingga motor bergaya “laki”. Kebanyakan motor listrik di gerakkan dengan sumber tenaga aki. Kapasitasnya beragam, ada yang 26 ampere, 20 ampere dan 18 ampere.

Kendaraan bermotor ini memiliki kode nomor plat berbeda dari kendaraan pada umumnya di Indonesia. Nomor plat yang terpasang adalah nomor identitas untuk kewajiban retribusi berdasar Perda nomor 8 tahun 2011. Namun, banyak pemilik tidak memasangnya.

Plat kendaraan terdiri dari dua jenis, plat kuning dan plat hitam. Plat kuning digunakan untuk jasa transportasi, sedangkan plat hitam milik pribadi. Kecepatan motor listrik paling banter 40 kilometer per jam.

Norbertus menambahkan, jumlah motor listrik yang terdata saat ini ada sekitar 1.797 motor. Ada juga kendaraan yang menggunakan mesin. Hanya saja, kendaraan tersebut digunakan dalam situasi darurat.

BACA JUGA  Tudingan Radikal kepada Enzo Taruna Akmil Harus Dihentikan

Penggunaan motor listrik juga berimbas pada tingkat kebisingan kota. Meskipun banyak kendaraan berseliweran, tetapi bisa di bilang jalanan di Agats adalah jalanan paling sunyi. Tak ada suara bising dari tarikan gas pengendara. Jika tak hati-hati, pejalan kaki bisa bertabrakan dengan pengendara.

Motor-motor listrik di Kota Agats.

“Permisi” Sebagai Tanda Klakson

Ada semacam peraturan tidak tertulis dalam kegiatan berlalu lintas di Agats. Mereka tidak boleh membunyikan klakson untuk menyingkirkan orang atau kendaraan yang ada di depannya. “Permisi” adalah bunyi klakson yang umum digunakan di sini.

Menurut rekan jurnalis yang tinggal di Papua, warga Agats tidak suka mendengar bunyi klakson. Bunyi “Tiiin” bisa dianggap sesuatu yang menyebalkan.

Saya berkali-kali mendengar kata “Permisi” jika saya atau rekan jurnalis berjalan hingga ke tengah jalan, menghalangi laju kendaraan mereka. Boleh diimajinasikan, apa jadinya jika kebijakan ini diterapkan di ibu kota Jakarta.

 

Penulis: Suandri Ansah

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Putra Syaikh Al-Audah Sampaikan Kondisi Terakhir Ayahnya

Abdullah Al-Audah, putra dari Syaikh Salman Al-Audah, mengatakan bahwa ayahnya telah menghubungi keluarganya untuk pertama kalinya sejak ditangkap pihak berwenang Arab Saudi pada tanggal 10 September 2017.

Kamis, 08/02/2018 13:58 0

Afghanistan

Hamid Karzai: Kondisi Afghanistan Mengerikan Akibat Invasi AS

Karzai mengatakan bahwa negaranya terjerembab keadaan mengerikan setelah 16 tahun perang yang dipimpin AS terhadap Taliban.

Kamis, 08/02/2018 13:56 0

Investigasi

Kyai Umar Basri, Korban Teror Orang Gila Alami Trauma

Wartawan menanyakan langsung kepada Kyai akan kabarnya, Kyai mengatakan dirinya sehat alhamdulilah dan menghaturkan terimakasih atas kunjungannya. Namun, kala wartawan mencoba menanyakan perihal musibah yang dialaminya kang Aceng menangis sembari merintih sakit mengusap wajahnya

Kamis, 08/02/2018 13:06 0

Suara Pembaca

Pemuda Penjaga Syariat Ini Terpisah dari Keluarga, Mari Bantu!

KIBLAT.NET, Klaten – Dakwah Islam adalah sebuah amal yang menyeluruh. Tidak hanya berputar pada pengajian...

Kamis, 08/02/2018 11:48 0

Video Kajian

Apakah Mati dalam Khusnul Khatimah Bisa Disiapkan?

KIBLAT.NET – Apakah Mati dalam Khusnul Khatimah Bisa Disiapkan? Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan...

Kamis, 08/02/2018 11:45 1

Video Kajian

Enam Jebakan Iblis, Sebagian Anda Lakukan Tanpa Sadar!

KIBLAT.NET – Enam Jebakan Iblis, Sebagian Anda Lakukan Tanpa Sadar! Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, ketika menggoda...

Kamis, 08/02/2018 10:54 0

Amerika

AS Ingin Taliban Duduk di Meja Perundingan

Wakil Menteri Luar Negeri AS, John Sullivan, mengatakan pada Selasa (06/02) bahwa negaranya masih berharap untuk mendorong Taliban ke meja perundingan dalam rangka membicarakan solusi politik konflik di Afghanistan.

Kamis, 08/02/2018 09:23 0

News

Temui Ormas Islam di DDII, Tito Cerita Sering Shalat di Masjid Al-Furqan

"Saya sengaja silaturahmi kepada Majelis Ormas Islam di Dewan Dakwah. Saya pribadi jujur saja memang belum terlalu dekat dengan dewan dakwah, secara personal, semenjak menjadi kapolri belum pernah ke DDII, dan MOI, meskipun saya sudah beberapa di antaranya saya kenal," ungkap Kapolri, Rabu (07/02/2018).

Kamis, 08/02/2018 08:40 1

Profil

Amatullah Al-Masriyyah, Muslimah dalam Tiga Medan Jihad

Setelah tumbuh dan berkembang di Afganistan, Muslimah yang bernama Amatullah Al-Mashriyyah ikut dengan suaminya ke Yaman. Namun dia dan keluarga kembali lagi ke Afganistan

Kamis, 08/02/2018 05:32 0

Amerika

Mahalnya Ongkos Perang dan Mimpi Rekonsiliasi AS di Afghanistan

Empat puluh lima miliar dolar Amerika. Itulah ongkos yang harus dikeluarkan Amerika Serikat dalam perang di Afghanistan menurut Pentagon. Tanpa batas akhir, nominal itu diperkirakan akan terus naik yang diambil dari hasil pajak negara.

Rabu, 07/02/2018 17:37 0

Close