Shalat Gerhana Sendirian, Bolehkah?

KIBLAT.NET – Para ulama sepakat bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah. Boleh dilaksanakan secara sendirian di rumah atau di tempat-tempat yang lain. Menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali, tidak ada perbedaan antara gerhana bulan dan matahari. Kedua-duanya disunnahkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Sementara dalam mazhab Hanafiah dan Malikiah menyatakan tidak disunnahkan berjamaah dalam shalat gerhana bulan.

Dalam kitab Bada’i Shana’i, Al-Kasani berkata, “Menurut pendapat yang masyhur tidak menganjurkan berjamaah pada shalat gerhana bulan. Sebab, sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam berbunyi, ‘Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk melaksanakan shalat,’ (HR. Bukhari no. 1047). Pengertian hadis ini, menurut kami tidak ada anjuran untuk berjamaah.”

Imam An-Nafrawi, dalam kitab Al-Fawaqih Ad-Dawani berkata, ”Dalam persoalan shalat gerhana bulan, tidak ada anjuran untuk berjamaah. Ketika terjadi gerhana hendaklah dia shalat sendiri-sendiri. Sebab, demikianlah yang disunnahkan. Maka lebih utama melaksanakannya di rumah.”

Sementara itu dalam Mazhab Syafi’i tetap dianjurkan secara berjamaah. Ibnu Hajar mengatakan, “Pendapat yang sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Sebab, jika tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di lapangan (tanah lapang) agar lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Baari, 4/10)

Jadi, mengenai boleh atau tidaknya shalat gerhana sendirian, para ulama sepakat mengatakan boleh. Namun, mana yang lebih utama, berjamaah atau sendirian? Di sini mereka berbeda pendapat. Syafiiah dan hanabilah mengatakan lebih utama di masjid. Sementara menurut Hanafiah dan Malikiah lebih utama dilaksanakan sendirian di rumah. Wallahu a’lam bis shawab!

 

Fakhruddin

Sumber: islamweb.net

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat