... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Perang Afrin: Ujian Kekuatan Militer dan Hubungan Diplomatik Turki

Foto: Operasi militer Turki

KIBLAT.NET, Ankara – Operasi militer dengan sandi “Cabang Zaitun” di kota Afrin, Aleppo, Suriah, membawa Turki ke fase baru dalam konfontrasi militer milisi Kurdi PKK. Setelah pukulan keras terhadap PKK di wilayah Turki dan penghancuran pangkalan mereka di Gunung Qandil, nampaknya “Cabang Zaitun” menjadi perang darat pertama antara Ankara dan PKK di Suriah.

Diplomasi politik yang dilakukan Turki, setidaknya sampai saat ini, telah berhasil memastikan banyak kekuatan-kekuatan besar yang bermain di konflik Suriah—terutama Rusia, AS, Inggris dan Jerman— diam. Turki telah mampu menghindari krisis diplomatik serius dengan sekutu lama di Barat, khususnya AS, di tengah keberatan Rusia dan Iran. Sementara kekuatan-kekuatan Arab, seperti biasa, tampaknya terlalu lemah untuk ikut campur.

Dari sisi militer, meski terlalu dini menilai operasi Turki tersebut, Angkatan Udara Turki telah mampu meluncurkan operasi besar dengan melibatkan sedikitnya 72 pesawat di hari pertama. Bahkan, Turki mengerahkan pesawat pengisi bahan bakar udara dan pesawat tanpa awak Awakis. Ini melihatkan kekuatan udara Turki masih mumpuni meski banyak angkatan udaranya dipecat karena dituduh terlibat kudeta gagal pada pertengahan Juli 2016. Selain itu, AS juga telah menolak mengirim pelatih penerbang baru, begitu juga dengan Pakistan yang menolak mengirim pilotnya untuk membantu Turki.

Dari sisi kekuatan darat, nampaknya belum dimulai sepenuhnya. Milisi Kurdi tidak mungkin membiarkan Turki dengan mudah merebut Afrin. Maka, skenario pertempuran sengit sangat mungkin terjadi. Milisi Kurdi mungkin akan menggulirkan pertempuran selama mungkin sehingga berhasil meraih dukungan internasional untuk mengubah medan tempur terhadap Turki, sebagaimana yang pernah terjadi di Kobani saat melawan ISIS.

Akhirnya, setelah empat tahun bermanuver, PKK harus memilih antara Rusia dan Amerika sebagai satu-satunya sekutu kekuatan besar dunia. Kendati saat ini PKK bersekutu dan didukung AS, namun Negara tersebut tidak mungkin di barisan Kurdi memerangi Turki, setidaknya sampai saat ini. Pasalnya, Turki merupakan Negara sekutu AS di NATO.

BACA JUGA  Erdogan: Kami Tidak Tinggal Diam Jika Assad Terus Provokasi

Sementara itu, kemungkinan Rusia untuk berdiri di barisan Kurdi PKK juga sangat kecil kendati PKK mengaku bahwa Rusia tengah mengkaji mengirim bantuan ke Afrin untuk membantu PKK menghadapi Turki. Pernyataan PKK itu dibantah oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Erdogan menegaskan bahwa operasi “Cabang Zaitun” didukung Rusia.

“Kami bertekad, masalah Afrin akan diselesaikan, kami tidak akan mundur. Kami telah berbicara dengan teman-teman Rusia kami dan kami setuju,” kata Erdoga.

Dengan demikian, manuver-manuver Turki sejak awal menunjukkan bahwa operasi di Afrin di bawah koordinasi penuh dengan Moskow. Ankara juga menyampaikan operasi itu kepada AS sebelum dimulai, sebagaimana kata Menhan AS James Mattis kepada media sehari setelah operasi dimulai.

Sementara pernyataan pertama Iran mengenai “Cabang Zaitun” tampaknya mendekati netralitas. Menteri Luar Negeri Iran Bahram Qasimi menegaskan pada Ahad (21/01/2018) bahwa sikap Negaranya mengikuti dengan seksama dan memantau kejadian yang terjadi di kota Afrin. Dia menambahkan bahwa “kelanjutan krisis di Afrin dapat menyebabkan penguatan kelompok teroris di wilayah utara Suriah dan menambah kehancuran baru di Negara Suriah.”

Tak berselang lama, Kepala Staf Turki Jenderal Khulosi Akkar langsung menghubungi kolega Irannya Jenderal Muhammad Baqeri. Keduanya bertukar pandangan mengenai masalah keamanan di Suriah dan kerja sama dalam memerangi organisasi teroris, sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.

Dalam pembicaraan itu, sumber terpercaya Turki mengungkapkan kepada Al-Araby Al-Jadid, proses operasi “Cabang Zaitun” dipersiapkan sesuai pemahaman Rusia saja, yang tampaknya tidak menguntungkan Iran. Rusia meminta Turki menarik seluruh pasukannya di Afrin jika operasi itu selesai dan menyerahkannya kepada rezim. Namun permintaan itu ditolak. Karena tidak ada jaminan rezim Suriah tidak akan menyerahkannya untuk kesekian kalinya kepada milisi PKK, untuk menekan kami dalam setiap fase pertempuran yang nampaknya tak akan berakhir.

BACA JUGA  Turki Siap Beli Rudal Patriot AS Setelah S-400 Rusia

Bagaimana pun, tambah sumber tersebut, komitmen terhadap kesatuan wilayah Suriah merupakan urusan yang sangat penting dalam kepentingan keamanan nasional. Kami katakan kepada mereka, jika konferensi Astana dan Sochi sukses dan seluruh pihak sepekat dengan hasil pemilu dan konstitusi, Afrin akan menjadi milik Damaskus.

“Iran tidak mendukung, dalam posisi mereka, PKK dengan cara apa pun. Namun mereka menolak untuk memiliki koridor antara Afrin dan Idlib, bagaimanapun negosiasi terus berlanjut, dan saya rasa kompatibilitas dengan Iran tidaklah sulit,” pungkasnya.

Perancis, melalui pernyataan Menteri Luar Negerinya Jean-Marc Ayrault , menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas operasi Turki di Afrin dan meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan untuk membahas kemerosotan tajam situasi di Suriah. Menlu Turki, Mevlut Cavusoglu, Ahad, segera menghubungi kolega Jean menegaskan bahwa keberatan apapun terhadap operasi Turki berarti mendukung teroris, maksudnya PKK. Tapi, karena operasi Turki di Afrin adalah hasil dari kesepakatan Turki-Rusia, maka Rusia sangat mungkin menentang kesepatan Dewan Keamanan. Moskow melihat kesempatan bersejarah untuk meningkatkan keratakan hubungan Turki dan AS.

Terkait sikap Prancis, sumber Turki mengatakan bahwa “Belum terjadi negosiasi dengan Prancis saat persiapan operasi. Namun mereka dikabari setelah operasi berjalan. Prancis tidak ingin memahami bahwa situasi di wilayah tersebut telah berubah dan Suriah tidak lagi menjadi koloni mereka.”

Sementara itu, Turki tampaknya juga ingin membuka front dengan milisi PKK di Iraq. Namun pemerintah Iraq kemungkinan besar tidak mendukung karena AS menolak, begitu juga Iran tidak menyetujui.

Sumber: Al-Araby Al-Jadid
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dahnil Anzar: Kasus Novel Jangan Seperti Siyono

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak berharap agar penanganan kasus ini tak seperti Siyono dan Munir.

Selasa, 23/01/2018 20:12 0

Opini

Ketika Khalid Tak Sengaja Menista

Rasulullah SAW masih memarahinya ketika Khalid bin Walid ra “keceplosan” mencela Abdurrahman bin Auf ra

Selasa, 23/01/2018 19:40 0

Indonesia

Ini Alasan Kenapa RUU Larangan Minol Tak Kunjung Digolkan

RUU Larangan Minuman Beralkohol tak kunjung rampung. Hal itu diakui oleh ketua Pansus RUU Larangan Minol, mengingat Pansus ini sudah dibentuk sejak 2015 lalu.

Selasa, 23/01/2018 19:17 0

Indonesia

Guru Besar IPB: Revisi KUHP Harus Perluas Pasal LGBT

"Kami meminta pencabulan sesama jenis oleh siapapun dikatakan ilegal, baik di tempat terbuka atau tempat tertutup"

Selasa, 23/01/2018 18:14 0

Indonesia

Ustadz Fathuddin Ja’far Diperiksa terkait Ceramah Maheer At-Thuwailibi

Ustadz Fathuddin Ja'far hari ini dipanggil oleh pihak kepolisian. Ustadz Ja'far diperiksa bukan karena terjerat kasus tertentu. Namun diperiksa sebagai saksi atas ceramah Maheer At-Thuwalibi.

Selasa, 23/01/2018 17:32 0

Indonesia

AILA: Upaya Melegalkan LGBT Bukan Isapan Jempol

Rita mengatakan hal itu adalah pertarungan ideologis. Ia berharap semoga anggota dewan yang memiliki wewenang menentukan isi KUHP masih sadar bahwa ideologi negara ini berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.

Selasa, 23/01/2018 17:00 0

Indonesia

Fahira Idris Ajak Masyarakat Kawal RUU terkait Miras dan LGBT

“Jika benar nanti undang-undang membolehkan miras dijual di warung-warung yang bisa kita lakukan selain melawan secara konstitusional adalah ‘menghukum’ mereka yang mendukung,” kata Fahira Idris melalui rilisnya pada Senin (23/01/2018) malam.

Selasa, 23/01/2018 16:16 0

Video Kajian

Ust. Bachtiar Nasir: Memilih Pemimpin dalam Pilkada 2018

KIBLAT.NET – Syuro atau musyawarah adalah pendekatan Islam dalam menentukan pemimpin dan kandidat yang layak...

Selasa, 23/01/2018 16:10 0

Indonesia

Eksepsi Ditolak, Pengacara: Alfian Tanjung Belum Terbukti Bersalah

Koordinator Tim Advokasi Ustad Alfian Tanjung (TAAT) menyebut Alfian Tanjung Belum Terbukti Bersalah

Selasa, 23/01/2018 13:40 0

Indonesia

Impor Beras, Jokowi Dinilai Mengkhianati Nawacita

Koordinator Komunitas Anak Muhammadiyah (KAM), Amirullah Hidayat menegaskan bahwa kebijakan impor beras adalah pengkhianatan terhadap Nawacita. Padahal, Nawacita merupakan janji kampanye Jokowi.

Selasa, 23/01/2018 13:34 0

Close