... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Visi 2030: Di Bawah Muhamad Bin Salman, Arab Saudi Semakin Liberal

Reformasi tersebut di antaranya termasuk kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga dua kali lipat. Harga BBM oktan 91 yang biasa dijual 0,75 riyal (sekitar Rp2.700 dengan kurs saat ini) naik menjadi 1,37 riyal. Sementara oktan 95 dijual 2.04 riyal, naik dari 0,90 riyal per liter. Sedangkan diesel untuk truk tidak berubah. Dengan harga BBM sebelumnya yang berada di bawah 1 riyal, harga seliter bensin lebih murah dibanding harga sebotol air mineral atau sebungkus roti besar yang berisi 4 lembar.

Per 1 Januari 2018, pemerintah Saudi menaikkan harga BBM.

Selain kenaikan harga BBM, pada 1 Januari 2018 ini, Arab Saudi juga menetapkan pajak pertambahan nilai (PPN) dengan tarif 5%. Sejumlah barang seperti makanan, pakaian, barang elektronik, tagihan telepon air, listrik dan biaya penginapan di hotel mengalami kenaikan. Satu porsi ayam goreng Albaik, yang cukup favorit di Saudi biasanya hanya seharga 10 riyal, kini naik menjadi 10,5 riyal. Media-media lokal memberitakan, pemerintah Arab Saudi memperkirakan akan mendapat kenaikan dari pengenaan PPN dan berencana untuk mengurangi subsidi. Subsidi terbesar di Saudi ialah subsidi untuk makanan dan sembako. Meski begitu, negara tersebut diperkirakan menghadapi defisit anggaran setidaknya hingga tahun 2023.

Kenaikan harga BBM dan PPN ini tentu saja banyak mempengaruhi orang-orang di dalam dan di luar Saudi. Ongkos haji dan umrah tahun 2018 tentu akan melonjak seiring dengan kenaikan harga yang ditetapkan pemerintah Saudi. Saya tidak bisa memperkirakan item apa saja yang mengalami kenaikan selain biaya hotel, tapi yang jelas harga barang-barang timur tengah untuk oleh-oleh pasti mengalami kenaikan. Jadi, kalau ada teman dan keluarga yang berhaji atau berumrah di tahun ini, harap berlapang dada jika tidak bisa membawakan buah tangan yang banyak :p.

BACA JUGA  Romo Syafii: Darurat Sipil Bentuk Ketidakpedulian Pemerintah Terhadap Rakyat

Di lain sisi, sebagaimana keresahan yang ditulis oleh jurnalis Al-Watan, para pekerja asing di Saudi juga terdampak secara drastis. Salah seorang pekerja dari Indonesia yang menemui saya di pelataran Masjidil Haram mengeluhkan masalah kenaikan harga bahan pokok. “Pemerintah menaikkan harga barang tapi gaji kita tetap segitu aja. Sementara buat makan saja setiap bulan setidaknya bisa sampai 800 riyal, belum buat kirim untuk keluarga di kampung,” ujar Abdullah, yang sudah dua tahun bekerja sebagai supir dinas kebersihan kota di Mekkah.

Ironisnya, kenaikan harga barang dan BBM itu dibarengi dengan kebijakan pemerintah yang mulai keluar dari konservatisme Islam menuju kebijakan yang lebih terbuka dan liberal. Baru-baru ini, Saudi memutar tayangan film setelah 35 tahun lamanya tidak pernah ada pertunjukan film di teater bioskop. Bioskop permanen pertama di Saudi diperkirakan akan beroperasi pada awal bulan Maret 2018, setelah pihak kerajaan mencabut larangan pemutaran film.

Sebelumnya, dalam upaya yang disebut sebagai reformasi oleh MBS, Saudi telah membolehkan wanita Saudi untuk menyetir mobil sendiri dan menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion, walaupun dipisah antara tribun lelaki dan perempuan. Langkah liberalisasi berselubung slogan reformasi yang diprakarsai putera mahkota itu mencabut sejumlah larangan agar bisa mendongkrak kegiatan ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap minyak. Reformasi ditujukan untuk memberikan kebebasan yang lebih besar kepada kaum perempuan. Padahal sebelumnya, kaum perempuan di Saudi banyak mendapatkan batasan karena merujuk pada aturan agama Islam.

Wanita Saudi dibolehkan menonton pertandingan sepakbola di stadion.

Hingga saat ini, saya belum mendapati komentar ulama di dalam maupun di luar Saudi terkait liberalisasi Saudi yang dimotori oleh MBS. Jika melihat upaya konsolidasi terhadap keluarga kerajaan yang sangat tegas, hingga mengurung dan memenjarakan keluarganya sendiri, bukan tak mungkin hal itu dilakukan sebagai ancaman dari MBS kepada siapapun yang berupaya melawan visi 2030-nya. Padahal sesuai hukum fisika, semakin besar gaya yang diberikan maka akan semakin besar pula tekanan yang dihasilkan. Suatu saat, MBS pasti akan kena batunya.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Jika sebelumnya Iran digoncang aksi demonstrasi di dalam negeri akibat kebijakan ekonomi yang merugikan rakyatnya, nampaknya pergolakan di Arab Saudi hanya tinggal menunggu waktu. Meski Saudi berupaya tetap mempertahankan subsidi dan meminimalisir sekecil apapun ketidaknyamanan yang timbul dari warga negaranya, gejolak politik perlahan-lahan bisa menggerogoti singgasana Muhammad Bin Salman. Suara-suara kritis seperti Saleh al-Shehi pasti bukan yang pertama dan terakhir. Kini, dua kekuatan utama di Timur tengah, Saudi dan Iran sama-sama mendapat guncangan dari dalam. Siapa yang paling kuat bertahan? Biarlah waktu yang nanti akan menjawabnya.

 

Penulis: Fajar Shadiq

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ini Penyebab Kelangkaan Beras di Pasar Menurut Pedagang

Harga beras terus meroket di pasaran. Penjual beras di Pasar Induk Beras Cipinang mengaku merasakan kelangkaan beras sejak Desember 2017.

Selasa, 16/01/2018 22:59 0

Indonesia

Soal Impor Beras, Gerindra: Jangan-jangan untuk Dana Politik

Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono menilai bahwa seharusnya pemerintah melakukan operasi pasar terlebih dahulu untuk mencari akar masalah. Sebab, Ferry menilai impor ini karena masyarakat di kota merasa beras terlalu mahal.

Selasa, 16/01/2018 22:37 0

Suriah

Sikapi 30 Ribu Pasukan AS di Suriah, Turki Siap Gempur Kurdi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin (15/01/2018) bahwa pasukan Turki siap kapan saja untuk menggelar operasi militer terbaru di perbatasan yang terkepung di area Afrin dan Manbij, Suriah.

Selasa, 16/01/2018 21:42 0

Iran

Protes Iran Berlanjut Hingga Ke Stadion Sepakbola

Teriakan matilah diktator muncul saat pertandingan Sabahan dan Thub Ahan di Stadion Naghsh-e Jahan, Isfahan

Selasa, 16/01/2018 19:43 0

Indonesia

Gerindra: Ada yang Terima Fee dari Impor Beras

Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono mengatakan bahwa ada oknum tertentu yang mengambil keuntungan pribadi di balik impor beras yang direncanakan pemerintah. Menurutnya, telah banyak pihak yang melihat potensi tersebut.

Selasa, 16/01/2018 19:03 0

Suriah

AS Siapkan 30 Ribu Pasukan Dukung Kurdi di Suriah, Turki Geram

Amerika Serikat menyatakan pada hari Ahad (14/01/2018) bahwa mereka akan bekerja sama dengan pihak pemberontak Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Force, SDF) yang dikelola oleh etnis Kurdi.

Selasa, 16/01/2018 17:46 1

Indonesia

Bertolak ke Mesir, Menag Tegaskan Indonesia Tetap Dukung Palestina

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bertolak menuju Mesir untuk menghadiri Konferensi Internasional di Al Azhar.

Selasa, 16/01/2018 17:00 0

Indonesia

Komisi IV: Kondisi Beras Stabil, Kenapa Ada Impor?

Pasalnya, bahan pangan di Indonesia saat ini terbilang stabil. Ditambah lagi, produksi beras dari petani di Indonesia melimpah karena akan panen dalam waktu dekat.

Selasa, 16/01/2018 16:22 0

Suriah

Ratusan Pasukan Assad Tewas di Ghauta Timur, Ini Rinciannya

Pejuang oposisi di Ghouta Timur merilis jumlah korban dari pasukan Bashar Assad sejak awal serangan rezim ke wilayah itu pada akhir 2017.

Selasa, 16/01/2018 16:12 0

Indonesia

Impor Beras, Swasembada Pangan Jokowi Dipertanyakan

Kebijakan impor beras bertentangan dengan janji pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara swasembada pangan. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI), Andi Fajar Asti, menilai kebijakan itu kontrapoduktif.

Selasa, 16/01/2018 14:02 0

Close