... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Visi 2030: Di Bawah Muhamad Bin Salman, Arab Saudi Semakin Liberal

Foto: Putera Mahkota Muhammad bin Salman saat mengenalkan Visi 2030 pemerintahan Arab Saudi.

KIBLAT.NET – Ketika visa untuk berangkat ke Arab Saudi keluar di menit terakhir jelang keberangkatan, ada tiga hal yang saya khawatirkan. Pertama, terkait profesi saya sebagai jurnalis. Saudi merupakan negara di Timur Tengah yang mengekang kebebasan pers. Kartu pers dan kartu nama yang menegaskan profesi saya sebagai jurnalis, biasanya saya bawa ketika hendak keluar negeri. Kali ini terpaksa saya tinggalkan di meja kantor.

Organisasi jurnalis terkemuka, Reporters Without Border merilis negara petrodollar itu berada di urutan ke 163, tepat di bawah negara remeh seperti Kazakhstan, Rwanda dan Srilanka. Saudi berada di daftar merah yang menyebut bahwa kondisi iklim jurnalistik di dalam negeri sangat memprihatinkan. Bandingkan dengan Indonesia yang berada di tingkat 139, masih aman bercokol di daftar kuning. Hal ini bisa terlihat jelas dari banyaknya jumlah aktivis dan publik figur yang ditangkap sejak September 2017 lalu, momen ketika Putera Mahkota Muhammad Bin Salman (MBS) berupaya mengkonsolidasikan kekuatan di tengah keluarga raja.

Sehari sebelum saya menaiki pesawat untuk bertolak ke Jeddah, pemerintah Saudi menangkap Saleh al-Shehi, seorang kolumnis surat kabar Al-Watan. Ia ditangkap karena kerap mengkritik kebijakan pemerintah Saudi. Tulisan-tulisannya menyinggung soal anggaran pengeluaran terkait dana pemberantasan korupsi, kebijakan ekonomi pemerintah dan perlakuan buruk negara itu terhadap para pekerja asing, termasuk kepada para Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Dengan berani, al-Shehi pernah menudingkan telunjuknya bahwa sumber utama korupsi di Saudi ialah para keluarga raja. “Setiap warga Saudi yang memiliki kontak dengan keluarga kerajaan atau yang terkait dengan mereka secara otomatis bisa membeli lahan strategis meskipun sebenarnya tanah itu tidak tersedia untuk publik,” tulis al-Shehi suatu kali.

BACA JUGA  PKS Minta Menhan Waspadai Kedatangan Misionaris ke Papua

Kedua, ialah iklim gurun yang tidak bersahabat. Sebagai makhluk hidup yang terlahir di alam tropis, menghadapi cuaca panas padang pasir tentu membuat kita harus banyak menyesuaikan diri. Kedatangan saya di bulan Januari, sebenarnya bertepatan dengan musim dingin. Jadi, waktu malamnya lebih panjang dibanding waktu siang. Matahari terbit sekitar pukul 7 pagi, sementara maghrib sudah masuk waktunya tatkala jam menunjukkan pukul 6 sore. Tapi, sedingin-dinginnya iklim gurun, di siang hari sinar mentari tetap menyorot tajam. Agar kulit tak kering, saya harus mengoleskan lotion pelembab supaya tak terasa gatal. Aih!

Selama di Jeddah, suhu di siang hari bisa berkisar hingga 29°C, sementara di malam hari suhu bisa mencapai 21°C. Tapi di Madinah, kota suci Rasulullah SAW membangun peradaban Islam, musim dingin lebih menggigit. Di siang hari, suhu bisa mencapai 26-28°C, di waktu malamnya, suhu udara melonjak turun hingga 8°C. Brrrr! Meski demikian, satu hal yang membuat saya salut adalah, meski udara begitu dingin, masjid-masjid tetap menyalakan pendingin ruangan. Keruan, para peserta daurah dari Indonesia selalu mengenakan jaket atau sorban yang dililit di leher selama mengikuti majelis ilmu yang disampaikan para masyayikh.

Ketiga, ialah kondisi terkini ekonomi Saudi yang akan berefek kepada daya beli (lebih tepatnya daftar titipan oleh-oleh dari Tanah Air, red) dan nilai tukar uang rupiah. Tentu saja saya sangat bersyukur dapat berkunjung untuk pertama kalinya berangkat ke tanah suci. Selain dapat menunaikan ibadah umrah, saya juga kelimpahan berkah bisa menuntut ilmu dari para masyayikh yang bersambung sanad ilmunya hingga Rasulullah SAW. Tapi saya datang di tahun yang kurang menguntungkan. Tepat di awal Januari 2018, Kerajaan Saudi melakukan reformasi yang ambisius. Sesuai dengan platform kebijakan Visi 2030 di bawah rencana besar Muhammad Bin Salman (MBS).

BACA JUGA  Hendak Kemana (Ke)Menteri(an) Agama?

Baca halaman selanjutnya: Reformasi tersebut di...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ini Penyebab Kelangkaan Beras di Pasar Menurut Pedagang

Harga beras terus meroket di pasaran. Penjual beras di Pasar Induk Beras Cipinang mengaku merasakan kelangkaan beras sejak Desember 2017.

Selasa, 16/01/2018 22:59 0

Indonesia

Soal Impor Beras, Gerindra: Jangan-jangan untuk Dana Politik

Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono menilai bahwa seharusnya pemerintah melakukan operasi pasar terlebih dahulu untuk mencari akar masalah. Sebab, Ferry menilai impor ini karena masyarakat di kota merasa beras terlalu mahal.

Selasa, 16/01/2018 22:37 0

Suriah

Sikapi 30 Ribu Pasukan AS di Suriah, Turki Siap Gempur Kurdi

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada hari Senin (15/01/2018) bahwa pasukan Turki siap kapan saja untuk menggelar operasi militer terbaru di perbatasan yang terkepung di area Afrin dan Manbij, Suriah.

Selasa, 16/01/2018 21:42 0

Iran

Protes Iran Berlanjut Hingga Ke Stadion Sepakbola

Teriakan matilah diktator muncul saat pertandingan Sabahan dan Thub Ahan di Stadion Naghsh-e Jahan, Isfahan

Selasa, 16/01/2018 19:43 0

Indonesia

Gerindra: Ada yang Terima Fee dari Impor Beras

Wakil Ketua Umum Gerindra, Ferry Juliantono mengatakan bahwa ada oknum tertentu yang mengambil keuntungan pribadi di balik impor beras yang direncanakan pemerintah. Menurutnya, telah banyak pihak yang melihat potensi tersebut.

Selasa, 16/01/2018 19:03 0

Suriah

AS Siapkan 30 Ribu Pasukan Dukung Kurdi di Suriah, Turki Geram

Amerika Serikat menyatakan pada hari Ahad (14/01/2018) bahwa mereka akan bekerja sama dengan pihak pemberontak Pasukan Demokratik Suriah (Syrian Democratic Force, SDF) yang dikelola oleh etnis Kurdi.

Selasa, 16/01/2018 17:46 1

Indonesia

Bertolak ke Mesir, Menag Tegaskan Indonesia Tetap Dukung Palestina

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bertolak menuju Mesir untuk menghadiri Konferensi Internasional di Al Azhar.

Selasa, 16/01/2018 17:00 0

Indonesia

Komisi IV: Kondisi Beras Stabil, Kenapa Ada Impor?

Pasalnya, bahan pangan di Indonesia saat ini terbilang stabil. Ditambah lagi, produksi beras dari petani di Indonesia melimpah karena akan panen dalam waktu dekat.

Selasa, 16/01/2018 16:22 0

Suriah

Ratusan Pasukan Assad Tewas di Ghauta Timur, Ini Rinciannya

Pejuang oposisi di Ghouta Timur merilis jumlah korban dari pasukan Bashar Assad sejak awal serangan rezim ke wilayah itu pada akhir 2017.

Selasa, 16/01/2018 16:12 0

Indonesia

Impor Beras, Swasembada Pangan Jokowi Dipertanyakan

Kebijakan impor beras bertentangan dengan janji pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara swasembada pangan. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Indonesia (HMPI), Andi Fajar Asti, menilai kebijakan itu kontrapoduktif.

Selasa, 16/01/2018 14:02 0

Close