... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Pasti Tiba, Hari Pembalasan untuk Pengolok

Foto: Editorial.

KIBLAT.NET – Lagi-lagi umat Islam digegerkan oleh sindiran dan olok-olok berbau SARA. Di panggung komedi, Joshua Suherman dan Ge Pamungkas berusaha meraih tawa penontonnya dengan menyelipkan kata-kata nyinyir terhadap keyakinan yang dianut mayoritas rakyat Indonesia.

Tak perlu kita menulis redaksi kalimat nyinyir tersebut. Membaca teks semata bisa memunculkan tafsir beragam. Namun jika dilihat gestur dan mimik muka melalui video yang ramai disebar di media sosial, setidaknya maksud sebenarnya dari pemilik ucapan bisa diterka lebih objektif.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus olok-olok terhadap agama Islam. Kita sulit menduga apakah semua ini konsekuensi dari revolusi informasi oleh internet, atau lebih karena sistem di negeri ini yang kurang tegas dan kurang berpihak demi menjaga perasaan umat Islam.

Namun yang membuat prihatin, mengapa cari uang dengan mengundang tawa orang lain mesti dilakukan dengan menyindir agama? Dua nama di atas bukanlah nama besar dalam dunia standing-up comedy. Bangsa ini juga mempunyai banyak nama pelawak legendaris yang tetap bisa mengundang tawa tanpa harus menyindir agama.

Agama atau keyakinan lain boleh berbeda dalam berinteraksi dengan pemeluknya. Namun Islam mengajari pemeluknya untuk mensyukuri dan mencintai ajaran ini sebagai petunjuk dari Allah. Salah satu bentuk kecintaan itu adalah rasa tersinggung dan marah bila ada yang mengolok-olok agama (istihza’).

BACA JUGA  Di Balik Goyahnya Rupiah

Agaknya dalam mengimplementasikan kecintaan terhadap agamanya, umat Islam yang tinggal di negara ini, pada hari ini, masih harus sering mengelus dada. Perangkat hukum yang seharusnya dibuat untuk melindung rakyat—sekaligus keyakinannya—seperti tak bergigi bila objek kasusnya adalah Islam.

Pada saat bersamaan, jika ada umat Islam yang melakukan reaksi di luar perangkat hukum yang ada, akan langsung ditindak. Reaksi tersebut kemudian dibesar-besarkan sebagai tindakan yang tidak beradab, minimal dituding sebagai anarkis dan intoleran.

Keadaan seperti itu seolah disengaja untuk memampatkan emosi umat Islam hingga pada suatu keadaan tertentu. Bila tiba waktu dan momentum yang tepat, akan dipantik menjadi sebuah peristiwa yang diperlukan untuk maksud dan kepentingan tertentu. Maju kena, mundur pun seperti tak punya wibawa.

Dalam kondisi menyakitkan seperti itu, kita perlu berterimakasih dan angkat topi kepada sejumlah pihak yang mencoba membawa kasus olok-olok agama ini ke ranah hukum. Topi yang sama pun kita angkat untuk mereka yang melawan di ranah sosial. Setidaknya hal itu akan membuat para pengolok itu merasa was-was mata pencahariannya bakal susut.

Beruntunglah umat yang berusaha semampunya untuk membela agamanya dari olok-olok, selemah apapun usaha itu. Meski mereka yakin, sebagai pemilik risalah, Allah pasti sudah mempunyai perhitungan tersendiri. Sebab, meski tak tahu waktunya, hari pembalasan itu pasti akan tiba.

BACA JUGA  Jadi Mualaf, Kepala Suku Asal Afrika Ini Hadiri Pertemuan Ulama di Jakarta

Akan terulang kisah Ka’bah yang hendak dirobohkan. Ketika Abdul Muthalib tidak mungkin melindunginya dari bala-tentara Abrahah, sang Pemilik Ka’bah turun tangan langsung dengan mengirim pasukan Ababil.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Buntut Lawakan Singgung Islam, Joshua Bisa Diancam 4 Tahun Penjara

Joshua bisa dikenakan UU ITE Pasal 27 ayat 3 pasal 28 ayat 2 UU No 19 Tahun 2016 atas perubahan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 156a KUHP dengan ancaman empat tahun penjara

Kamis, 11/01/2018 15:15 4

Indonesia

Komentari Pembakaran Kapal Asing, Nasionalisme JK dan Luhut Dipertanyakan

Nasionalisme JK dan Luhut dipertanyakan setelah meminta Menteri KKP Susi Pudjiastuti menghentikan pembakaran kapal asing pencuri ikan di perairan Indonesia

Kamis, 11/01/2018 14:24 0

Indonesia

Selain Melakukan Tindak Pidana, Joshua Juga Dinilai Melanggar HAM

"Seseorang harus bisa merasa dan menghormati perasaan dan apalagi perasaan keagamaan orang lain. Penghormatan terhadap identitas keagamaan orang lain adalah kasta tertinggi dalam HAM. Kasus tersebut diduga kuat melanggar HAM," jelasnya.

Kamis, 11/01/2018 13:50 0

News

ACT Dorong Masyarakat Indonesia Bantu Palestina

Presiden Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahyudin mengimbau kepada masyarakat Indonesia supaya turut andil dalam membantu warga Palestina.

Kamis, 11/01/2018 13:14 0

Indonesia

Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Sarankan Joshua Minta Maaf

"Sebelum terlambat, yang bersangkutan segera meminta maaf dan menyatakan penyesalan secara terbuka ke publik atas ucapan dugaan penistaan agama tersebut"

Kamis, 11/01/2018 13:00 0

Indonesia

YLBHI: Proyek Menggila, Kelompok Bisnis Bajak Politik Indonesia

Koordinator YLBHI, Arif Yogi mengatakan rezim Joko Widodo semakin memperkuat kekuasaannya. Hal itu dinilai dari beberapa ciri, antara lain kekerasan justru semakin meningkat, terjadi penghalangan kebebasan berekspresi dan menyampaikan berpendapat.

Kamis, 11/01/2018 12:05 1

Artikel

Membersamai Para Penuntut Ilmu di Kota Jeddah

Kami dibuat terkejut ketika hari pertama daurah, seorang yang datang dari Sudan menodongkan pertanyaan, “Apakah Anda dari Jami’ah Islamiyah?” Kami yang belum mengetahui apa itu Jami’ah Islamiyah sempat kebingungan.

Kamis, 11/01/2018 12:01 0

Opini

Remaja Brutal, Tanggung Jawab Siapa?

KIBLAT.NET – Definisi remaja menurut Wikipedia adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja...

Kamis, 11/01/2018 11:23 0

Indonesia

Cegah Paham Syiah, Annas Kabupaten Pangkep Terbentuk

Terbentuknya Annas pangkep, kata Husnan, untuk mencegah dan meminimalisir paham Syiah di Kabupaten Pangkep yang dapat membahayakan generasi.

Kamis, 11/01/2018 09:11 0

Myanmar

Militer Myanmar Akui Eksekusi 10 Muslim Rohingya, Begini Caranya

Warga Budha, yang disebutnya marah karena kerabatnya tewas akibat serangan warga Rohingya, ikut menyiksa 10 “tawanan” itu. Mereka menggali kuburan dan memaksa para tawanan masuk ke dalamnya. Sementara pengikut Budha menusuki tubuh mereka. Polisi kemudian mengeksekusi dengan puluhan peluru panas sesudah 10 warga Muslim itu masuk ke liang lahat.

Kamis, 11/01/2018 08:10 0

Close