... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Download

Laporan Syamina: 72 Bidadari

KIBLAT.NET – Salah satu metode agama dalam mendorong pengikutnya atau anggotanya untuk menaati norma-norma aturannya di antaranya yaitu dengan penghargaan (reward) dan hukuman (punishment). Islam sebagai satu-satunya agama yang berasal dari Allah juga menerapkan hal yang sama terhadap pengikutnya. Oleh itu, dalam kitab suci umat Islam, Al Qur`an, akan banyak didapati penghargaan berupa Surga bagi mereka yang beriman dan taat, selain juga hukuman berupa Neraka bagi mereka yang ingkar dan durhaka.

Dalam Islam, besar suatu penghargaan atau hukuman tersebut berbanding lurus dengan besar pengorbanan atau kejahatan yang dilakukan seseorang. Atas dasar ini, Allah pun menjanjikan beberapa penghargaan bagi seorang Muslim yang berjuang di jalan-Nya dengan mengorbankan nyawanya, untuk menikahkannya dengan tujuh puluh dua bidadari.

Inti dari teologi Islam adalah iman kepada Allah, yaitu“Satu-satunya Tuhan.” Ajaran ini disampaikan oleh seorang Nabi  berkebangsaan Arab, Nabi Muhammad melalui perantaran Firman Allah, yaitu Al Qur`an.

Konsep Allah yang diajarkan Al Qur`an ini jelas memiliki konsekuensi. Kepercayaan kepada Allah, Tuhan Satu-satunya, menuntut perubahan kesadaran yang menyakitkan. Kaum Muslim generasi pertama dituduh sebagai penganut “ateisme” yang membahayakan masyarakat. Kaum Quraisy tampaknya merasa keterputusan dengan dewa-dewa leluhur mereka sebagai ancaman besar, dan tak lama kemudian nyawa Muhammad sendiri pun terancam.

Konsekuensi terpenting dari keimanan kepada Allah dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad merupakan nabi dan rasul yang diutus Allah yaitu seorang Muslim harus mempercayai apa pun yang dikabarkan melalui Al Qur`an dan berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad. Terkhusus kabar dan berita tentang hari akhir; mencakup di dalamnya hari pembalasan.

Setiap Muslim dituntut untuk mengimani hari akhir dan hari pembelasan meski nalar dan akal mereka belum bisa, bahkan meski tidak mampu, untuk mencernanya. Al Qur`an memang menganjurkan Muslim untuk menggunakan akalnya dalam usaha memahami Al Qur`an dan agama Islam. Namun dalam Islam, akal memiliki keterbatasan.

BACA JUGA  Mendaras (Hari) Pahlawan

Al Qur`an menggambarkan kehidupan di dunia sebagai kesempatan yang singkat tapi berharga, kesempatan yang memberikan pilihan sekali-untuk-selamanya. Kehidupan sempurna dan hakiki tersebut hanya kehidupan di akhirat.

Di sana, hanya ada dua tempat kembali bagi seluruh manusia, yaitu Surga atau Negara. Surga bagi manusia yang mengimani dan menaati Allah dan Neraka bagi mereka yang kufur dan mendurhakai Allah.

Dalam bahasa Arab, surga disebut dengan jannah. Jannah sendiri secara etimologis berarti kebun atau taman yang penuh dengan tumbuhan dan pepohonan. Surga merupakan di antara anugerah paling besar yang Allah berikan kepada para hamba-Nya yang selalu taat dan tunduk kepada-Nya.

Meski suatu yang masih abstrak, gambaran Surga dapat dikatakan demikian detail disebutkan baik dalam Al Qur`an maupun Hadits, serta dideskripsikan dengan sangat indah dan menawan. Meski demikian detiil gambarannya, dalam bahasa singkat, Nabi Muhammad tetap menyebutkan bahwa semua kenikmatan yang ada dalam surga tidak pernah dilihat, didengar, dan dibayangkan serta terlintas dalam hati manusia.

Dari sekian banyak pesona Surga, salah satu daya paling mempesona di sana yaitu bidadari. Dalam bahasa Arab, bidadari diartikan dengan al-huur al-Iin. Al-Huur merupakan bentuk plural dari hauraa`, yang berarti wanita berusia muda yang cantik mempesona, kulitnya mulus dan biji matanya sangat hitam.

Al Quran menyebutkan beberapa sifat dan karakter bidadari. Di antaranya yaitu: menundukkan pandangan dengan hanya memandang suaminya; penuh cinta kepada suaminya; berakhlak baik dan suci, yaitu suci dari perkataan keji, suci dari mengumbar pandangan, dan suci pakaian serta tubuhnya dari kotoran; dan dipingit di kemah-kemah. Selain itu, Al Quran juga menggambarkan bidadari sebagai wanita yang sangat cantik menawan; berumur sebaya yang tidak mengalami penuaan; belum pernah pernah tersentuh manusia dan jin; dan senantiasa perawan.

BACA JUGA  Kepolisian Tak Hadir, Sidang Praperadilan Sukmawati Ditunda

Di Surga kelak, setiap lelaki penghuni Surga akan mendapatkan paling tidak dua istri (bidadari). Lebih dari itu, tidak terdapat hadits shahih yang menyebutkan secara definitif berapa jumlah bidadari yang dimiliki seorang laki-laki penghuni Surga. Adapun tambahannya, hal itu sesuai dengan tingkatan dan amalan laki-laki tersebut selama di dunia.

Hadits shahih yang menjanjikan pelakunya mendapat tujuh puluh bidadari di akhirat kelak adalah bagi para syuhada. Sebagaimana yang terdapat dalam sabda Rasulullah, “Seorang yang mati syahid akan mendapatkan enam anugerah dari Allah: dosanya diampuni pada tetesan pertama dari darahnya; tempat untuknya diperlihatkan dalam surga; diselamatkan dari azab kubur; diselamatkan dari bencana dahsyat; mahkota keagungan dipakaikan di atas kepalanya, yaitu yang terbuat dari Yaqut yang lebih baik daripada dunia beserta segala isinya; ia juga dinikahkan dengan tujuh puluh dua bidadari surga; dan dia juga memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang dari kerabat-kerabatnya.”

Janji Allah berupa Surga beserta seluruh kenikmatannya, termasuk di dalamnya tujuh puluh dua bidadari, bagi seorang Muslim yang rela berjuang di jalan-Nya dengan mengorbankan nyawanya, pada hakikatnya bukan pada persoalan penghargaan tersebut. Melainkan berkaitan dengan diri seorang Muslim yang berhasil menjalankan perintah-perintah Allah dengan baik dan menjaga diri dari bujukan hawa nafsunya.

Menahan diri untuk mendapatkan suatu kesenangan demi untuk mendapatkan kesenangan yang lebih, barangkali inilah doktrin yang diajarkan Islam kepada pengikutnya. Oleh itu, bagi seorang Muslim, dunia ibarat penjara bagi mereka. Sebaliknya, dunia bagi orang kafir laksana taman-taman Surga. Karenanya, kebebasan dan kesenangan sejati setiap Muslim adalah di akhirat kelak.

Selain itu, dalam Islam, mengharapkan tujuh puluh dua bidadari dengan mengorbankan diri di jalan Allah bukan lah persoalan keputusasaan terhadap dunia. Melainkan dorongan keimanan dan keyakinan yang kuat terhadap janji Allah yang sampaikan melalui lisan Rasul-Nya, Nabi Muhammad.

Laporan Syamina: 72 Bidadari
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Iran

Kekayaan Negeri Iran Gagal Mendatangkan Kemakmuran

Demonstrasi sipil telah meletus di Iran, bahkan saat negara itu bergerak keluar dari resesi menyusul pelonggaran sanksi internasional tahun lalu. Namun pemulihan ekonomi belum memberikan efek berarti bagi rakyat.

Ahad, 07/01/2018 06:05 0

Indonesia

Politik di Indonesia Dinilai Berlebihan

Gejaolak yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini dinilai karena politik menentukan apa saja

Sabtu, 06/01/2018 23:54 0

Somalia

Operasi Al-Syabab Menyasar Lima Perwira Polisi di Perbatasan Kenya-Somalia

Lima orang perwira polisi tewas dalam serangan pejuang Al-Syabab di perbatasan Kenya-Somalia

Sabtu, 06/01/2018 23:25 0

Iran

50 Orang Tewas Sepanjang Aksi Demo di Iran

PIhak oposisi mencatat sebanyak 50 orang pendemo tewas akibat tindakan represif pasukan rezim Iran

Sabtu, 06/01/2018 23:15 0

News

Himpunan Alumni Pesantren Islam Al Irsyad Satukan Visi Dakwah

Himpunan Alumni Pesantren Islam Al-Irsyad (HAPIA) menggelar acara Reuni Akbar untuk menyatukan visi dakwah di Indonesia

Sabtu, 06/01/2018 22:09 0

Indonesia

Mahasiswa Diharapkan Makin Bersatu di Tahun 2018

"Melihat fenomena politik hari ini seharusnya menjadikan mahasiswa semakin bersatu untuk gerakan mahasiswa dan membangun visi bersama untuk Indonesia"

Sabtu, 06/01/2018 21:51 0

Arab Saudi

Besarnya Faidah Ilmu Menurut Syaikh Hamid bin Ahmad Bukhori

Kajian pertama merupakan kajian Kitab Al-Ilmu, yang ditulis oleh Abi Khaitsamah. Pengisi materinya adalah Syaikh Hamid bin Ahmad Bukhari. Beliau adalah seorang Muhaddits, juga pengisi tetap kajian taklim di Madinah Munawarah.

Sabtu, 06/01/2018 11:49 0

Indonesia

Komisi III: BSSN untuk Bungkam Penyuara Kebenaran

"Pertanyaannya, untuk apa? Kewenangan ini diarahkan untuk siapa?"

Sabtu, 06/01/2018 08:20 0

Indonesia

“Semua Badan yang Dibentuk Pemerintah untuk Tangkapi Bangsa Sendiri”

Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafii turut menyoroti keinginan kepala Badan Siber dan Sandi Nasional (BSSN) yang ingin melakukan penangkapan bagi penyebar hoax. Muhammad Syafii menilai bahwa era saat ini banyak badan yang dibentuk oleh pemerintah untuk menghukum rakyat sendiri.

Sabtu, 06/01/2018 07:37 0

Indonesia

Pakar: Pembentukan BSSN Bentuk Kepanikan Pemerintah terhadap Medsos

Pakar Hukum Universitas Juanda Bogor, Dr Muhammad Taufik, SH, menilai bahwa pembentukan Badan Siber Sandi Negara (BSSN) oleh Presiden Joko Widodo sebagai pelarian dari kepanikan pemerintah menghadapi pemberitaan dan kritik di media sosial.

Sabtu, 06/01/2018 07:31 0

Close