... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ketika Ustadz Abdul Somad Mendakwahi Kaum Quraisy

Foto: Ustadz Abdul Somad Lc MA

KIBLAT.NET – Lelaki kurus itu sering dipanggil Ustadz Abdul Somad. Itupun tergantung siapa yang memanggil. Mereka yang tidak suka, ogah menyebut dengan embel-embel “Ustadz.” Sementara mereka yang sebenarnya jengah tapi masih malu-malu, menyebutnya dengan singkatan: UAS. Tapi kata William Shakespare, “Apalah arti sebuah nama.” Apalah arti sebuah panggilan.

Secara tiba-tiba, lelaki yang hari ini menjadi buah bibir rakyat sebuah negara itu mengumpulkan kaumnya. Di sebuah lembah tandus di antara lautan padang pasir, ia menyeru kaumnya untuk hanya beribadah kepada Allah, meninggalkan segala bentuk isme-isme yang diciptakan berdasarkan hawa nafsu, fanatik kebangsaan dan golongan serta tendensi duniawi lainnya.

Menakjubkan!

Semua orang yang hadir menyambut baik seruannya. “Baiklah, kami percaya… kami beriman kepada Allah sebagaimana yang engkau serukan.” Sejak itu, Ustadz Abdul Somad menjadi panutan semua manusia. Ia bebas memimpin shalat di depan Ka’bah tanpa ada yang melemparinya dengan kotoran onta.

Negara, dengan Abu Jahal dan Abu Lahab sebagai pemimpin, hadir mengawal dakwah yang diusungnya. “Siapa berani persekusi Ustadz Abdul Somad, akan berhadapan dengan aparat keamanan,” tegasnya.

Dakwah membuat kehidupan duniawi Ustadz Abdul Somad membaik. Ia disanjung banyak orang, seluruh fasilitas hidup ditanggung oleh negara. Dia tak perlu hijrah ke Thaif—hingga tubuhnya berdarah-darah karena dilempar batu orang sana—atau Habasyah untuk menyelamatkan keyakinannya. Tak perlu repot-repot kirim surat dakwah ke raja-raja sekitar negerinya.

Kalau pun ada gosip yang kurang enak didengar, itu cuma karena wajahnya bukan tampang kota (saya tidak bilang ndeso, lho!). Beberapa emak di pasar ngerumpi—anggap saja waktu itu belum ada sosial media—jangan-jangan ada seribu tipu di balik wajah tidak kotanya itu.

BACA JUGA  Menyikapi Corona: Antara Aqidah, Fiqih dan Adab

Maklum, mereka sedang galau harga bumbu dan BBM meroket, padahal pemimpin mereka waktu kampanye dulu menjanjikan semua harga murah. Entah kebetulan atau tidak, wajah pemimpin mereka itu mirip Ustadz Abdul Somad: sama-sama bukan tampang kota.

Singkat kata, kehidupan Ustadz Abdul Somad te o pe be ge te, lah!

Tapi Ustadz Abdul Somad dalam cerita di atas hanyalah fiksi. Semua lokasi dan peristiwanya mengadopsi kejadian nyata yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW—kecuali soal wajah dan emak-emak ngrumpi, tentunya. Masih ingat apa yang dialami oleh Rasulullah SAW saat pertama kali mendakwahkan Islam, bukan?

Kisah fiksi Ustadz Abdul Somad di atas adalah satire untuk menggambarkan bahwa konsekuensi yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW berkebalikan 180 derajat. Itu wajar, karena dakwah Nabi SAW langsung menusuk jantung keyakinan dan nafsu-nafsu yang selama ini mereka bergelimang menikmatinya.

Setiap pengemban risalah yang lurus, akan blak-blakan menyampaikan risalah Tuhan-nya tanpa pertimbangan untung-rugi atau manfaat-mudarat bagi dirinya pribadi. Pun tak peduli ketika risalah Tuhan yang harus ia sampaikan itu bikin penguasa sakit hati, atau mengusik keyakinan sekelompok minoritas—dalam jumlah, tapi mayoritas dalam kekuatan.

Itulah yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW dan siapapun yang meniti keteguhannya dalam berdakwah. Tanpa harus memuji dan menyanjung melebihi apa yang Allah nilai, demikian pula halnya dengan Ustadz Abdush Shomad.

BACA JUGA  Lockdown, Simalakama bagi Jokowi

Ketika dakwahnya ditolak di suatu tempat—bahkan sampai dideportasi dari Hongkong, itu bukan karena dakwahnya mengajak kepada kebencian atau mencetak umat yang beringas, sebagaimana dituduhkan akhir-akhir ini. Tetapi sebagai konsekuensi karena Ustadz Abdul Somad tutup mata dan telinga dalam berdakwah. Ia terus bicara apa kata Allah dan Rasul-Nya, tanpa takut celaan orang-orang yang mencela.

Indikasi mudahnya, kalau memang dakwah Ustadz Abdul Somad itu melenceng dari Islam sehingga menebarkan kebencian, membuat umat jadi beringas, tentu ulama lain di negeri ini tidak akan tinggal diam. Mengapa standarnya ulama?

Karena agama Islam itu ada ilmunya, tidak sembarang orang dengan asumsinya bisa menilai benar atau salah. Dan yang memiliki ilmu itu adalah ulama, bukan wartawan media olah-raga apalagi politikus beda agama.

Jadi, santai saja. Apa yang sekarang ini dialami oleh Ustadz Abdul Somad hanyalah rekaman yang terjadi pada para pendahulunya. Kita doakan saja semoga Allah mengabulkan cita-cita orangtuanya ketika memberi nama “Abdul Somad,” seorang hamba dari Dzat yang menjadi tempat bergantung. Karena Islam memandang penting arti sebuah nama, bukan seperti kata Shakespare di atas.

Semoga beliau terus hanya bergantung kepada Allah. Bukan bergantung kepada intimidasi lawan, atau sebaliknya, bergantung kepada jutaan pengikut yang kini menyambut dakwahnya. “Teruslah bergantung kepada Allah, wahai guruku. Dan ajari kami untuk ikut bergantung kepada-Nya dalam segala hal.”

Penulis: Tony Syarqi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Bayi Kembar Tiga Lahir di Gaza, Nama Mereka ‘Al-Quds, Ibu Kota, Palestina’

Pasangan suami istri di kampung Khan Yunis, Jalur Gaza bagian selatan melakukan cara unik untuk menanggapi klaim sepihak Presiden AS Donald Trump terkait Yerusalem (Al-Quds).

Jum'at, 29/12/2017 11:45 0

Indonesia

Istri Hidayat Tetap Tegar Meski Suami Dipindah Lapas

Istri Muhammad Hidayat, Rahayu membenarkan suaminya dipindahkan dari LP Bekasi ke Lapas Gunung Sindur, Bogor. Menurut Rahayu, pemindahan ini dilakukan sejak hari Selasa lalu.

Jum'at, 29/12/2017 11:15 0

Indonesia

Hidayat, Terpidana Kasus ITE Dipindah ke Lapas Gunung Sindur

Terpidana kasus ITE, Muhammad Hidayat dipindahkan tempat penahanannya dari LP Bekasi ke Lapas Gunung Sindur, Bogor. Hal ini menimbulkan pertanyaan pengacara Hidayat, Abdullah Al-Katiri.

Jum'at, 29/12/2017 10:50 0

Suriah

Bom Barel Kembali Menghujani Idlib

Militer Suriah dan milisi sekutunya, Kamis (28/12), melanjutkan serangan intensif dengan roket dan bom barel (birmil) ke kota-kota dan desa-desa di pedesaan Hama dan Idlib timur, yang menjadi bagian dari zona de-eskalasi keempat yang disepakati dalam konferensi Astana.

Jum'at, 29/12/2017 10:16 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at: Toleransi Ala Kaum Musyrik

Khutbah Jum’at: Toleransi Ala Kaum Musyrik Khutbah Pertama: الحمد لله الذي أصلحَ الضمائرَ، ونقّى السرائرَ،...

Jum'at, 29/12/2017 10:11 0

Yaman

Kaleidoskop 2017: Tahun Kebuntuan Politik dan Militer di Yaman

Tahun 2017 menjadi tahun kebuntuan militer dan politik untuk konflik Yaman.

Jum'at, 29/12/2017 08:40 0

Indonesia

IHW: Industri Halal di Indonesia Jalan di Tempat

Ketua IHW, Ihsan Abdullah menegaskan bahwa industri halal di Indonesia masih tertinggal dengan negara lain.

Jum'at, 29/12/2017 07:58 0

Afrika

Perancis Tegaskan Perang Hadapi Jihadis Afrika Berlanjut

Presiden Perancis Emmanuel Macron tiba di Niger pada hari Jumat (22/12) malam pekan lalu untuk memompa semangat pasukan Perancis yang sedang menjalankan misi & kampanye militer memerangi jihadis. Macron menyampaikan pesan bahwa perang melawan kelompok-kelompok jihadis akan terus berlanjut di tahun 2018

Jum'at, 29/12/2017 06:57 0

Indonesia

Kaleidoskop 2017: MK Tolak Uji Materi, Homoseksual Urung Dipidana

MK menolak uji materi pasal perzinaan, perkosaan dan pencabulan homoseksual

Kamis, 28/12/2017 22:01 0

Indonesia

Kak Seto: LGBT adalah Kekejian

LGBT salah satu bentuk kejahatan psikis dan seksual

Kamis, 28/12/2017 21:03 0

Close