... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Menyongsong Generasi Kebangkitan Islam

Ketiga, Lembut Terhadap Orang Mukmin dan Keras Terhadap Orang Kafir.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Maidah: 54)

Dalam tafsir Adwaul Bayan; 1/440, Imam Asy-Syinqiti menafsirkan, “Dalam ayat ini, Allah ta’ala mengabarkan kepada orang-orang mukmin bahwa seandainya sebagian mereka murtad maka Allah pasti menggantikan mereka dengan kaum yang di antara sifatnya dalah berlemah lembut dengan orang mukmin. Rendah hati terhadap semama mereka dan keras terhadap orang-orang kafir. Ini merupakan kesempurnaan iman seorang hamba. Dan sikap ini pula yang diperintahkan Allah kepada Nabi;

 واخفض جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِين

“..Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. Al-hijr: 88)

Kemudian Allah ta’ala juga memuji sikap Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam yang senantiasa bersikap lembut terhadap orang-orang mukmin,Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Lalu dalam ayat yang lain Allah ta’ala menegaskan bahwa bersikap lembut dengan sesama mukmin dan tegas terhadap orang-orang kafir merupakan karakter Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

 مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ الله والذين مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الكفار رُحَمَآءُ بَيْنَهُم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka,” (Al-Fath: 29)

Dari rangkaian ayat di atas dapat dipahami bahwa orang mukmin wajib bersikap lembut sesuai dengan kondisinya. Sama halnya wajib bersikap keras ketika dituntut untuk keras. Sebab, bersikap lembut pada kondisi harus tegas adalah lemah sedangkan keras pada kondisi harus lembut adalah kebodohan.

Keempat, Berjihad di Jalan Allah

BACA JUGA  Menganalisa Faktor Kemunduran Umat Islam

Allah ta’ala berfirman:

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“….Mereka berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela..” (Al-Maidah: 54)

Ibnu katsir berkata, “Yakni mereka tidak pernah mundur setapak pun dari prinsipnya, yaitu taat kepada Allah, memerangi musuh-musuhnya, menegakkan batasan-batasan-Nya dan melakukan amar ma’ruf serta nahi munkar. Mereka sama sekali tidak pernah surut dari hal tersebut, tiada seorangpun yang dapat menghalang-halangi mereka, dan tidak pernah takut terhadap celaan orang-orang yang mencela dan mengkritiknya.” (Tafsir Ibnu katsir: 2/97)

Jihad merupakan wasilah yang dicontohkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam untuk meraih kejayaan Islam. Dengan jihad, izzah kaum muslimin akan tegak. Dengan jihad pula kemenangan agama Allah akan terus berlanjut. Cukuplah salah satu hadis berikut ini menjadi dasar yang kuat untuk menjelaskan bahwa jihad merupakan cara utama menjaga kemulian Islam. Dan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa ketika jihad ditinggalkan maka umat ini akan berada dalam keadaan hina.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem inah, mengikuti ekor sapi, rela dengan pertanian, serta meninggalkan jihad (di jalan Allah), niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabutnya dari kalian, hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Itulah mengapa para sahabat tidak suka terlibat dalam pertanian bila mengalihkan perhatiannya dari jihad.” (Alhikamul Jadirah bil Idza’ah, hal; 14)

Kelima, Sabar dan Teguh dalam Memegang Prinsip

Rasulullah SAW adalah teladan bagi umat ini. Di antara teladan yang beliau ajrkan kepada kita adalah keteguhan memegang prinsip. Diriwayatkan dalam sirah Ibnu Hisyam bahwa ketika dakwah Nabi semakin mendapat tentangan dari Quraisy, hingga mereka mendatangi Abu Thalib, kemudian Abu Thalib pun menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Muhammad SAW, mendengar hal itu Nabi Muhammad SAW berkata :

يا عمّ، والله لو وضعوا الشمس في يمينى والقمر في يساري على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله، أو أهلك فيه ما تركته

BACA JUGA  Ustadz Abdul Somad: Islam Bangkit dengan Ilmu

Artinya, “Wahai paman, Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan ini (risalah ini) saya tidak akan meninggalkan penyampaian risalah ini hingga Allah memenangkannya atau saya mati dalam (memperjuangkannya).” (Sirah Ibnu Hisyam)

Sebuah kalimat yang menggambarkan keteguhan, sebuah kalimat yang menyiratkan bahwa risalah ini tidak bisa dibeli dengan apapun, inilah contoh yang rasul berikan kepada generasi umat ini agar teguh dalam perjuangan.

Terlebih, tantangan berislam dewasa ini menuntut orang-orang beriman untuk teguh dalam memegang agamanya. Kondisi ini seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW :

يأتي على الناس زمان القابض على دينه كالقابض على الجمر

Artinya, “Akan kepada manusia suatu zaman di mana orang yang berpegang teguh terhadap agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi)

Ibrah sabar dan teguh dalam menghadapi seluruh tantangan bisa juga kita ambil dari sosok nabi Yusuf –alaihi salam-, yang tergambar dalam firman Allah SWT :

Allah ta’ala berfirman:

قَالُواْ أَإِنَّكَ لَأَنتَ يُوسُفُ قَالَ أَنَاْ يُوسُفُ وَهَذَا أَخِي قَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَيْنَا إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيِصْبِرْ فَإِنَّ اللّهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Mereka berkata: “Apakah kamu ini benar-benar Yusuf?” Yusuf menjawab: “Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami”. Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Yusuf: 90)

Nabi Yusuf –alaihi salam– telah diuji dengan serangkaian ujian yang datang bertubi-tubi. Lalu beliau bersabar dan teguh di atas prinsip yang diyakininya tanpa bergeser sedikit pun. Karena itu, Allah pun mendatangkan kemenangan kepadanya dan memberi kekuasaan di muka bumi ini.

Kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, namun kebangkitan tersebut erat kaitannya dengan terpenuhinya sebab –sebab kebangkitan pada diri umat. Untuk mewujudkan sebab tersebut, maka dibutuhkan kerjasama dari berbagai elemen umat dan terus menerus di berbagai aspek. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Perjalanan Relawan HASI Dampingi Kesehatan Ratusan Korban Gempa Jabar

Lembaga Kemanusiaan, Hilal Ahmar Solo menggelar bakti sosial berupa penyaluran bantuan dan pendampingan kesehatan kepada korban gempa di Jawa Barat.

Rabu, 27/12/2017 21:26 0

Indonesia

API Jabar: Alfian Tanjung Menjaga NKRI

"Ustaz Alfian Tanjung merupakan dai yang berjuang bagaimana negeri ini benar-benar mengamalkan Pancasila. Yang beliau lakukan adalah menjaga NKRI dari paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila"

Rabu, 27/12/2017 20:56 1

Afghanistan

Kaleidoskop 2017: Taliban Mengakar, Amerika Semakin Pudar

Dari 34 provinsi di Afghanistan, Taliban tak satupun absen dari kehadiran. Provinsi paling mini tempat Taliban berpijak hanya di Panjshir di area timur laut. Sementara itu, Operasi Omari menentang pasukan asing pada 2016 masih berlanjut.

Rabu, 27/12/2017 20:41 0

Artikel

Masih Bingung Bedanya Penyidik dan Penyelidik? Ini Penjelasannya

Dalam dunia tindak pidana, istilah penyidik, penyelidik, penyidikan dan penyelidikan kerap kali disebut-sebut. Tak ayal kosa kata yang empat itu, sangat familiar di telinga kita. Apalagi, bagi yang sering berurusan dengan kepolisian

Rabu, 27/12/2017 19:00 0

Artikel

Ketika Filsafat Islam Menjadi Sorotan

KIBLAT.NET – Sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan bahwa setiap bangsa yang mampu melewati berbagai...

Rabu, 27/12/2017 18:37 0

Indonesia

TPM: Alfian Tanjung Harusnya Diberi Penghargaan Bukan Dikriminalisasi

Koordinator Tim Pengacara Muslim, Ahmad Michdan mengungkapkan, seharusnya Ustadz Alfian Tanjung, yang saat ini menjadi terdakwa kasus pencemaran nama baik, diberi penghargaan oleh pemerintah.

Rabu, 27/12/2017 17:59 0

Artikel

Perang Salib di Masa Shalahuddin Al-Ayyubi

Perang salib bukanlah satu peperangan yang singkat dan khusus, sebagaimana lazimnya suatu peperangan. Peperangan ini merupakan satu rangkaian dari pertikaian antara Barat dan Timur ( Nasrani dan Islam),

Rabu, 27/12/2017 17:41 0

Tazkiyah

Jawaban Nabi Isa Ini Membuat Iblis Bungkam

Nabi Isa menjawab,"Hai Iblis, makhluk yang terlaknat, sungguh Allah-lah yang akan menguji hamba-hamba-Nya, seorang hamba tidak dapat menguji Allah."

Rabu, 27/12/2017 17:30 0

Indonesia

Periksa Saksi, Polda Bali Dalami Persekusi UAS dan Keterlibatan Arya Wedakarna

Menindaklanjuti persekusi yang menimpa Ustadz Abdul Somad Lc MA, hari ini Rabu (27/12/2017) Polda Bali meminta keterangan saksi pelapor

Rabu, 27/12/2017 17:00 0

Indonesia

DSKS Pertanyakan Sikap Walikota Solo Ajak PNS Ucapkan Selamat Natal

KIBLAT.NET, Solo –  Baru-baru ini beredar video yang tersebar melalui akun Facebook Pemerintah Kota Surakarta...

Rabu, 27/12/2017 16:49 0

Close