... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kaleidoskop 2017: Kontroversi Kebijakan Donald Trump

Cekcok dengan Presiden Korea Utara Kim Jong-Un

Sebenarnya ini adalah peristiwa dengan episode terpanjang di tahun 2017. Karena memang, sejak menjelang menjabat hingga hampir setahun menjadi Presiden AS, Donald Trump terus menerus mengkritisi proyek rudal Korut dan memposisikan diri sebagai lawan.

Namun penghujung tahun 2017, netizen dibuat terheran-heran dengan tingkah presiden asal Amerika yang satu itu. Pasalnya, perang dingin antara Korea Utara dan Amerika Serikat tampaknya mulai merambah ke media sosial.

Kisruh Presiden Donald Trump dan Presiden Kim Jong un tak cuma berbuntut saling ancam antara keduanya, sebagaimana yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Misalnya, Korea Utara mengancam akan melepaskan rudal ke wilayah Guam yang merupakan negara bagian AS.

Namun, di media sosial kedua pemimpin tersebut justru terlibat adu ejek. Lucunya lagi, Presiden Korut menjuliki pria 75 tahun itu dengan sebutan “dotard,” sebuah julukan untuk orang tua dan mulai beranjak pikun. Seakan tak terima, Donald Trump membalas ejekan itu dengan menjuluki Kim Jong Un dengan “pendek dan gemuk.”

“Mengapa Kim Jong Un menghina saya dengan memanggil saya tua, padahal saya tidak akan pernah memanggilnya ‘pendek dan gemuk?’ Oh well, saya berusaha sekuat tenaga untuk menjadi temannya-dan mungkin suatu hari nanti itu akan terjadi!” kata Trump di Twitter pada Ahad (12/11/2017).

BACA JUGA  Ahok Lelang Batik yang Dikenakan Saat Sidang, Ditawar Sampai Rp 100 Juta

Mengakui Al Quds sebagai Ibu Kota Israel

Yang terakhir ini disebut-sebut kebijakan ‘tergila’ Donald Trump di tahun ini. Bagaimana tidak? Akibat kebijakan itu Trump ‘sukses’ memicu aksi protes di seluruh dunia. Tak cuma itu, ia pun ‘berhasil’ membuat sejumlah sekutunya berbalik mengecam Amerika Serikat.

Pasca pecahnya Perang Teluk 1967, Israel semakin berani mengklaim bahwa Al Quds atau Yerusalem adalah ibu kota negaranya. Klaim itu semakin menjadi-jadi ketika Yerusalem Timur jatuh ke tangan Israel.

Kendati demikian, tak ada satu negara pun yang mengakui klaim negara Yahudi tersebut, termasuk dua negara adidaya kala itu sekalipun. Namun bukan Donald Trump namanya bila tak membuat kehebohan.

Sejak ia menjabat, isu pemindahan Kedubes AS untuk Israel ke Yerusalem terus mencuat. Dampak pemindahan ialah timbulnya pengakuan Amerika Serikat bahwa Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Pada Rabu 06 November 2017, isu itu benar-benar terjadi. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Amerika Serikat di bawah Donald Trump mengakui Al Quds sebagai ibu kota Israel. Kedubes AS untuk Israel yang awalnya berada di Tel Aviv juga akan dipindahkan ke Al Quds.

Sontak, pernyataan tersebut mengundang reaksi protes dari seluruh dunia. Keputusan Trump dinilai akan menimbulkan konflik baru. Sehingga dapat merusak stabilitas regional dan kesepakatan damai antara Israel dan Palestina.

Aksi protes pecah di mana-mana. Kecaman dan kutukan tertuju pada Trump. Begitu pula di Indonesia, langsung di bawah komando Majelis Ulama Indonesia, umat Islam diajak berkumpul di Monumen Nasioanal untuk menggelar Aksi Bela Palestina.

BACA JUGA  Arab Saudi Tetap Gelar Ibadah Haji, Tapi Dibatasi

Berbagai mediasi juga tak membuat Trump menarik keputusannya tersebut. Mulai dari sidang darurat Organisasi Kerjasama Islam di Istanbul hingga sidang darurat khusus di Markas PBB New York, 21 Desember 2017 yang menelurkan resolusi soal status Yerusalem yang didukung oleh 128 negara. Sebaliknya, Trump malah mengancam akan memutuskan bantuan keuangan terhadap negara-negara penyongkong resolusi dan menolak keputusannya itu.

Kendati demikian, AS kian dikucilkan oleh negara Barat dan Arab sekutunya, yang memberikan suara dukungan terhadap resolusi. Seperti, Mesir, Yordania dan Irak yang banyak menerima bantuan militer atau ekonomi dari AS.

Tak dapat dipungkiri pula, ancaman Trump telah mempengaruhi hasil pemungutan suara. Meski ada 128 negara yang mendukung termasuk Indonesia, ada juga negara yang menyatakan abstain yaitu Kanada dan Meksiko. Sementara ada sembilan negara yang menolak, Amerika Serikat, Israel, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo. Sedangkan masih ada 21 negara lainnya yang tidak hadir untuk memberikan suara.

Penulis: Syafi’i Iskandar


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pemberantasan Korupsi Era Jokowi Semakin Parah

Selama ini Jokowi dianggap bersih dan punya komitmen pemberantasan korupsi,Tapi pada tiga tahun kita temukan fakta sebaliknya,"

Rabu, 27/12/2017 13:00 0

Indonesia

Pengacara Alfian Tanjung Siap Ajukan Eksepsi

Salah satu poin yang ditekankan adalah kedudukan PDIP apakah sebagai partai politik atau sebuah golongan, sebagaimana ditujukan dalam pasal 310 tentang pencemaran nama baik.

Rabu, 27/12/2017 12:43 0

Indonesia

Pengacara Nilai Kasus Alfian Tanjung Berlebihan

Ketua Tim Pengacara untuk Ustadz Alfian Tanjung, Ahmad Michdan mengungkapkan bahwa persidangan dan kasus yang dijeratkan kepada kliennya terlalu cepat dan berlebihan, tidak sesuai fakta yang ada.

Rabu, 27/12/2017 12:01 0

Indonesia

Disegel Pasca Penelanjangan Santriwati Tasikmalaya, Toko Ratu Paksi Minta Maaf

Toko Aksesoris Ratu Paksi, Tasikmalaya disegel usai insiden penelanjangan seorang santriwati

Rabu, 27/12/2017 10:41 1

Indonesia

Putra Alfian Tanjung Berharap Kriminalisasi Ayahnya Segera Berakhir

Pengamat Komunis Indonesia, Ustadz Alfian Tanjung hari ini menjalani persidangan perdana di Pengadilan Negeri Kelas 1 Jakarta Pusat terkait cuitan di Twitternya tentang "85% Kader PKI ada di PDIP".

Rabu, 27/12/2017 10:34 0

Artikel

Kaleidoskop 2017: Ketika Pewaris Nabi Dipersekusi

KIBLAT.NET- Ulama, ia adalah manusia yang sepatutnya mendapat penghormatan dari umat Islam. Karena merekalah, warotsatul...

Selasa, 26/12/2017 22:03 0

Indonesia

Fadli Zon: Penolakan Ustadz Abdul Somad ke Hongkong, Pelecehan terhadap WNI

KIBLAT.NET, Jakarta- Penolakan Ustadz Abdul Somad masuk ke Hongkong oleh otoritas setempat, setibanya di bandara...

Selasa, 26/12/2017 21:08 0

Indonesia

Alfian Tanjung Jalani Sidang Perdana di PN Jakarta Pusat Esok

Sidang di PN Jakarta Utara esok terkait kasus kicauan Alfian Tanjung di Twitter yang menyebut 85% Kader PKI ada di PDIP

Selasa, 26/12/2017 20:07 0

Tarbiyah Jihadiyah

Kontribusi Perjuangan Adalah Konsekuensi Keimanan

Berkontribusi dalam perjuangan adalah konsekuensi keimanan. Apalah arti sebuah keimanan jika hati beku melihat Al-Quds, kiblat pertama umat Islam diklaim sebagai ibukota penjajah Israel.

Selasa, 26/12/2017 19:29 0

Indonesia

Perlawanan Palestina terhadap Penjajahan Israel Sah di Mata Hukum

Pemateri Ustadz Zikrullah mengungkapkan bahwa perlawanan yang dilakukan oleh warga Palestina terhadap penjajahan Zionis Israel merupakan suatu perbuatan yang sah di mata hukum.

Selasa, 26/12/2017 19:13 0

Close