Kaleidoskop 2017: Kontroversi Kebijakan Donald Trump

KIBLAT.NET- Kehadiran Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat ke-45 menjadi perbincangan hangat sepanjang tahun 2017. Ia dilantik pada 20 Januari 2017, disambut meriah dan diberitakan di berbagai media di seluruh dunia. Para pemimpin negara pun menyampaikan ungkapan selamat atas dilantiknya presiden Amerika Serikat yang baru.

Namun siapa sangka, hari itu pula menjadi awal dari beragam peristiwa yang penuh polemik. Perbincangan tentang Donald Trump tetap hangat hingga akhir tahun 2017.

Kurang setahun Trump menjabat, banyak tindakan dan keputusannya yang mengundang reaksi dunia. Semua itu karena sejumlah keputusan kontroversial Donald Trump yang Kiblat.net rangkum dalam Kaleidoskop 2017 berikut ini:

Pemecatan Direktur FBI dan Terungkapnya Intervensi Rusia di Pemilu AS

Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS tak bisa lepas dari Pemilu 2016. Kejadian itu memang menarik untuk dibahas dan diulas kembali. Terlebih lagi, tesiar kabar yang menyebutkan ada campur tangan Rusia dalam memanangkan Trump dan menjatuhkan Hirary Clinton. Isu itu kian berhembus dan baru terungkap di tahun 2017 pula.

Kebenaran intervensi Rusia dalam pemilu AS ditemukan setelah adanya hasil penyelidikan FBI. Bekas Direktur FBI, Robert Mueller ditunjuk oleh Wakil Jaksa Agung AS Rod Rosenstein untuk menyelidiki kasus ini.

Penyelidikan itu kemudian dikuatkan dari hasil investigasi Facebook yang menemukan adanya iklan politik melalui ratusan akun-akun palsu yang berkoordinasi dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilihan AS kala itu. Iklan politik yang disebar biasanya berkaitan dengan ras, LGBT, kontrol senjatan dan imigran.

BACA JUGA  Disuntik Vaksin Sinovac, Jokowi Mengaku Agak Pegal

Namun lantaran penyelidikan kasus itu, beberapa pejabat AS diberhentikan oleh Donald Trump. Jaksa Agung AS Sally Yates juga turut dipecat Trump pada Januari atau beberapa hari setelah resmi menjadi presiden AS. Lalu diganti oleh Jeff Sessions yang hanya bertahan beberapa bulan saja.

Di Bulan Mei 2017 isu ini kembali mencuat. Setelah, James Comey Direktur FBI menjadi salah satu pejabat Amerika yang dipecat Trump menyusul penyelidikan yang dilakukan FBI terhadap kasus keterlibatan Rusia.

Larangan Warga 7 Negara Muslim Masuk AS

Selang sepekan memimpin AS, Donald Trump kembali memberi kejutan ke dunia. Tepatnya 27 Januari 2017, Surat Perintah Eksekutif dikeluarkan berupa larangan masuk ke wilayah AS bagi warga dari 7 negara Muslim yaitu Irak, Libya, Iran, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Trump berdalih bahwa langkah ini diambil untuk mengekang teroris masuk ke wilayah AS. Namun keputusan ini ditentang oleh banyak pihak.

Dampak pelarangan tersebut langsung terasa. Ratusan warga dari 7 negara tersebut seketika tertahan di bandara-bandara internasional di Amerika Serikat. Meski telah memegang visa resmi untuk masuk AS, namun langkah mereka justru terhenti di pintu bandara.

Tak cuma itu, Trump juga mengeluarkan larangan masuk bagi para pencari suaka terutama korban perang yang mengungsi. Bagi pengungsi asal Suriah, aturan tersebut berlaku penuh. Sementara pengungsi dari negara lainnya, akan ada pemeriksaan agama. Amerika hanya memprioritaskan pengungsi beragama Kritesn dan anggota kelompok minoritas untuk dapat masuk ke Amerika Serikat.

BACA JUGA  Front Persaudaraan Islam Instruksikan Anggotanya Bantu Korban Bencana Alam

Tembok Sepanjang Perbatasan Meksiko-AS

Masih di Januari 2017, Donald Trump terlibat gesekan dengan negara tetangganya sendiri yaitu Meksiko. Trump menuduh bahwa pelaku kriminal seperti obat-obatan, pemerkosa, dan lainnya berasal dari imigran gelap Meksiko.

Bahkan teroris disebutnya bisa masuk ke kawasan AS juga dari perbatasan Meksiko. Guna menghalau itu semua, Trump meneken Surat Perintah Eksekutif untuk membangun tembok perbatasan Amerika-Meksiko sepanjang 2.000 mill. Tinggi dinding pembatas sekira 35 sampai 50 kaki. Ini dimaksudkan untuk menghentikan aliran imigran gelap dari Meksiko.

Kendati demikian, Donald Trump tampaknya juga menjaga jarak dari orang-orang Meksiko. Bahkan, Jorge Ramos adalah pembawa acara terkenal keturunan Meksiko yang bekerja untuk Univision jaringan televisi hispanik terbesar di Amerika Serikat ditolak saat mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab dengan Donald Trump.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat