Perusahaan Cina Bidik Ladang Minyak Raksasa di Iraq

KIBLAT.NET, Baghdad – Sebuah perusahaan Cina, ZhenHua Oil, akan mengembangkan ladang minyak di dekat Baghdad berdasarkan kesepakatan dengan Iraq. Demikian dikutip Middle East Eye dari kementerian minyak pada hari Ahad (24/12/2017).

Seorang juru bicara kementerian mengatakan bahwa target perusahaan tersebut adalah untuk memproduksi 40.000 barel per hari dari sektor selatan lapangan Baghdad Timur dalam waktu lima tahun berdasarkan kesepakatan antara ZhenHua dan Midland Oil Company di Iraq.

Pengawas minyak Iraq memperkirakan ladang minyak di Baghdad Timur menjadi sebuah “raksasa super” dengan sekitar 8 miliar barel cadangan minyak mentah. Ladang itu berpotensi menghasilkan 120.000 barel minyak per hari.

“Berdasarkan kesepakatan awal yang akan diumumkan dalam upacara formal yang akan diadakan di Baghdad pada hari Senin, perusahaan Cina tersebut akan berkomitmen untuk membangun sebuah ‘kompleks perumahan minyak’,” kata pernyataan tersebut.

Pejabat Kementerian Perminyakan mengatakan peningkatan produksi minyak mentah Baghdad Timur akan membantu memberi makan kilang dan pembangkit listrik terdeka, serta membebaskan lebih banyak minyak untuk ekspor dari wilayah selatan. Iraq memproduksi dan mengekspor sebagian besar minyak mentahnya dari wilayah selatan.

Didirikan pada tahun 2003, ZhenHua, sebuah unit kelompok militer China North Industries Group Corp (NORINCO), mengoperasikan 11 proyek eksplorasi dan produksi minyak dan gas di Mesir, Myanmar, Kazakhstan dan Iraq.

Sejak Perang Iraq pada tahun 2003, perusahaan energi Cina telah menginvestasikan sekitar $ 10 miliar di industri minyak Iraq yang baru lahir. Dalam beberapa tahun terakhir, Cina telah menjadi tujuan sekitar setengah dari ekspor minyak Iraq.

Pada 2014, impor minyak Cina dari Iraq meningkat sekitar 50 persen. Hal ini membuat minyak Iraq sebagai sumber minyak mentah kelima terbesar di Cina, dengan minyak menyumbang sekitar 9 persen dari impor Cina. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), pada tahun 2035, 80 persen produksi Irak akan dikirim ke Cina.

Di sisi lain, Cina mengaku tidak terlibat dalam koalisi kontra-ISIS di Iraq. Kendati demikian, menurut Menteri Luar Negeri Irak Ibrahim Jafari, Cina bersedia membantu Iraq memerangi ISIS dengan berbagi intelijen dan memberikan pelatihan personil.

Jafari mengungkapkan bahwa, dalam sebuah pertemuan anti-terorisme PBB di New York, mitranya dari Cina, Wang Yi, mengusulkan untuk membantu Iraq dengan serangan udara terhadap ISIS.

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat