... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Feminisme yang Semakin Menguliti Kearifan Lokal Kita

Foto: Feminisme yang semakin menguliti kearifan lokal kita.

KIBLAT.NET – Anda boleh berbusa-busa semalam suntuk menjelaskan makna dan hakikat feminisme kepada teman anda. Entah tentang kebenarannya, kesalahannya, kebaikannya, ataupun keburukannya. Namun jangan harap perdebatan itu akan memberi makna, karena (mayoritas) masyarakat kita sudah terlanjur “seram” begitu mendengar kata feminisme.

Setelah sekian puluh tahun, gerakan feminisme tetap saja terkesan ahistoris dan akultural. Feminisme tetap saja dianggap sebagai gerakan yang “kebarat-baratan” tanpa pernah mendapat kesempatan berakulturasi dengan kearifan lokal negeri ini. Di sisi lain, para penggagas feminisme juga terkesan “menguliti” kearifan lokal kita ditambah tindak tanduk yang memancar dari kepribadian mereka juga kebarat-baratan.

Di daratan Eropa yang merupakan tempat asalnya, meskipun aliran dan gerakannya bersifat plural, namun ada satu keyakinan yang menyatukan mereka, yaitu perasaan bahwa tatanan hukum yang berlaku telah membentuk masyarakat yang mengidap “penyakit” patriarki.

Segala sesuatu yang -katanya- objektif hanyalah alat untuk mempertegas dominasi dan subordinasi pria terhadap wanita. Hingga akhirnya mereka menuntut tatanan hukum baru yang mampu menghapuskan dominasi dan subordinasi tersebut. Sayangnya, konsep seringkali bagaikan ide bersayap satu, tak mampu terbang tinggi mencapai puncak pembuktian yang ideal. Dalam perjalanannya, beberapa friksi feminisme terjebak dalam arogansi keberhasilan. Mereka tidak hanya menuntut kesetaraan pada tataran ekonomi dan pendidikan saja, namun merambah pada hal-hal yang bersifat kodrati (yang mustahil dihapuskan) seperti peran wanita sebagai ibu, sebagai yang dipimpin dalam rumah tangga, sebagai orang yang melahirkan.

BACA JUGA  Belanja Bahan Makanan Saat Pandemi Corona, Jangan Lupa Dibersihkan

Di Indonesia, gerakan feminisme sebenarnya sudah dimulai sejak masa-masa menjelang kemerdekaan. Pada tahun 1912 berdiri Poetri Merdeka di Jakarta, Istri Sedar berdiri pada tahun 1930 di Bandung, yang setelah kemerdekaan berganti nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Pada sebuah kesempatan, salah seorang anggota Istri Sedar pernah menulis di koran mereka sedar, “Apakah kewadjiban dari perempoean Indonesia sekarang? Ialah bekerdja soepaja sebagai manoesia sepenoeh-noehnja sebagai manoesia, jaitu soepaja diakui haknja haroes sama dengan lelaki.”

Pada masa orde baru, kaum feminis semakin “menjadi”. Mereka mulai mengabaikan hasil kongres Perempuan 1938 di Bandung yang menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu. Alih alih memperingatinya, mereka lebih memilih merayakan Hari Perempuan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 8 maret. Mereka mulai menggagas gerakan penolakan terhadap domestikasi peran perempuan sebagai ibu rumah tangga yang dianggap mempersempit ruang gerak perempuan.

Mereka juga menyindir Pancadharma ala Soeharto dengan sebutan “ibuisme negara”. Sebuah dharma yang menuntun bagaimana wanita indonesia seharusnya berperan, yang berisi: 1. Wanita sebagai Istri pendamping suami. 2. Wanita sebagai ibu penerus keturunan. 3. Wanita sebagai pengurus rumah tangga. 4. Wanita sebagai pencari nafkah tambahan. 5. Wanita sebagai anggota warga negara. Menurut mereka, ibuisme negara hanyalah akan membonsai dan mereduksi peranan wanita dalam bermasyarakat.

Seperti yang saya singgung di awal tadi. Gerakan feminisme di indonesia tetap saja terkesan ahistoris dan akultural. Bukan karena ketidaksungguhan para penggagasnya. Tetapi lebih kepada persepsi umum wanita Indonesia bahwa budaya patriarki bukanlah sebuah masalah, wanita Indonesia tidak selalu merasa tertindas dan tereduksi perannya. Sehingga gerakan anti patriarki terkesan seperti gerakan yang melawan musuh imajiner, abstrak, dan mengada-ada.

BACA JUGA  Heal the World, Make it Better Place

Dan di sisi lain, patriarki ala Indonesia pun sebenarnya tidak terlalu mengekang wanita dalam berekspresi. Munculnya figur-figur semisal Rohana Kudus sebagai jurnalis wanita pertama dan Dewi Sartika dengan sekolah khusus perempuannya. Dan juga kemunculan organisasi perempuan seperti Perikatan Perempuan Indonesia, Fatayat NU, dan Aisyiah Muhammadiyah. Kesemuanya muncul pada zaman “ketertutupan” bangsa ini dan kemunculannya pun relatif lancar tanpa mempersoalkan budaya patriarki yang berkembang pada masa itu.

Dan akhirnya, tanpa bermaksud membenarkan siapapun. Setiap tanggal 22 Desember, saya selalu membayangkan beberapa puluh tahun yang lalu, sekitar tiga puluhan wanita dari berbagai etnis negeri ini berkumpul, bersepakat untuk “mengkultuskan” kata ibu sebagai pengingat bahwa wanita dapat terbang setinggi-tingginya tanpa melupakan kelembutan yang dianugerahkan pada dirinya. Kelembutan yang hanya dimiliki wanita, kelembutan yang mampu mendidik manusia baru, kelembutan yang akan memajukan peradaban manusia pada puncaknya.

 

 

Oleh: Rusydan Abdul Hadi
Referensi : http://jejakislam.net/hari-ibu-cermin-76-tahun-menolak-feminisme-di-indonesia/

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dubes Mesir di Indonesia: PBB Tak Serius Urusi Masalah Palestina

Dubes Mesir pun bertanya mengapa Amerika Serikat diberikan hak untuk memberikan suara, sedangkan dalam tradisi DK PBB, bahwa negara yang dimasalahkan dalam resolusi tidak diberikan hak untuk bersuara.

Sabtu, 23/12/2017 16:40 0

Opini

Agenda Media Islam Untuk Palestina

Sudah lebih satu tahun, pagelaran (International Conference of Islamic Media – ICIM) diselenggarakan di Jakarta. Hasil strategis yang dibahas adalah bagaimana penyatuan agenda media massa Islam dunia – kususnya Indonesia – untuk menjadikan Al-Quds Ashsharief sebagai wilayah yang harus dipertahankan oleh para pejuang media.

Sabtu, 23/12/2017 16:29 0

Yaman

Akhirnya Amerika Serikat Akui Lakukan Operasi Militer di Yaman

Pentagon menyebut telah menggelar berbagai operasi militer dengan mengerahkan pasukan darat di berbagai tempat dan 120 serangan udara

Sabtu, 23/12/2017 15:13 0

Suriah

Rezim Bashar Assad Bangun Pusat Rekrutmen Militer di Universitas-universitas Suriah

Salah satu pusat rekrutmen militer terdapat di Fakultas Hukum Universitas Damaskus

Sabtu, 23/12/2017 14:21 0

Indonesia

Ini Daftar Perkara Pro Rezim yang Belum Diproses Hukum

Tim Advokasi (TA) GNPF Ulama merilis laporan kasus pro rezim yang belum diproses secara hukum

Sabtu, 23/12/2017 13:07 0

Indonesia

Terjadi Kekosongan Hukum, Pelaku LGBT Gencar Promosi

"Masalahnya adalah sekarang jika tidak ada yang bilang LGBT itu ilegal, maka ini para pelaku promosi tidak bisa di tindak juga"

Sabtu, 23/12/2017 13:05 0

Irak

Milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi Menyebar di Perbatasan Suriah

Milisi Syiah Al-Hasd Al-Syakbi di Iraq, Jumat (22/12), menyebar ke wilayah perbatasan dengan Suriah.

Sabtu, 23/12/2017 11:56 0

Video Kajian

Rajin Shalat Tetapi Menolak Syariat Allah Lainnya, Kenapa?

KIBLAT.NET – Rajin Shalat Tetapi Menolak Syariat Allah Lainnya, Kenapa? Shalat adalah bagian atau salah...

Sabtu, 23/12/2017 11:46 0

Indonesia

Tim Advokasi GNPF: Total 27 Aktivis Aksi Bela Islam Dikriminalisasi

Habib Rizieq Shihab menempati urutan pertama paling banyak dikriminalisasi

Sabtu, 23/12/2017 11:43 1

Video Kajian

Drs. H. Wijaya Rahmat: Arti Toleransi dalam Islam

KIBLAT.NET – Drs. H. Wijaya Rahmat: Arti Toleransi dalam Islam. Masih banyak saudara kita muslim...

Sabtu, 23/12/2017 11:39 0

Close