... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Abu Hafs Al-Urduni, Singa Syam yang Berkiprah di Chechnya

Foto: Abu Hafs Al Urduni, Komandan mujahidin Arab di Chechnya

KIBLAT.NET – Mungkin namanya tidak melambung tinggi seperti rekan senegaranya, Abu Mush’ab Az-Zarqawi yang dikenal sebagai Al-Qaidah generasi kedua. Namun, sebagaimana Abu Mush’ab, ia juga berasal dari Zarqa’ dan dilahirkan dari suku Bani Hassan dan berkiprah di jihad Chechnya

Rupanya darah kepemimpinan juga mengalir di dalam tubuhnya. Abu Mush’ab adalah pimpinan Tandzim Qaidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn. Begitu pula mujahid yang satu suku dan asal dengan Zarqawi ini juga dipercaya menjadi pemegang estafet kepemimpinan setelah jenderal Khattab dan Abu Al-Walid Al-Ghamidi rahimahumallah di Chechnya.

Mujahid ini bernama Farid Yusuf Amirat atau lebih dikenal dengan nama Abu Hafs Al-Urduni rahimahullah.

Mengenal Abu Hafs Al-Urduni

Lahir di Zarqa’, Yordania pada 1973. Tidak banyak terekam mengenai masa kecil dan juga riwayat pendidikannya. Yang pasti Abu Hafs melangkahkan kakinya ke dunia jihad setelah selesai mengenyam pendidikan dari universitas. Ia pernah terjun dalam medan jihad di Afghanistan melawan Soviet yang berjalan dari Desember 1979 hingga 1989.

Kemudian ia keluar dari bumi Afghan setelah terjadinya konflik bersaudara di sana dan menuju ke Tajikistan (1994-1995) sebelum hijrah ke Chechnya pada 1995. Selama di Tajikistan, Abu Hafs berada di bawah kepemimpinan Khattab membantu membantu pasukan Islam yang dipimpin Said Abdullah Nuri. Sekelompok mujahidin ini melawan pemerintah komunis yang tetap mengendalikan wilayah tersebut pasca runtuhnya negara Beruang Merah. Abu Hafs termasuk anggota kelompok kecil Khattab yang berjuang di medan penuh salju dengan senjata kurang memadai.

Tidak banyak data yang ada mengenai perannya di medan jihad Afghan dan Tajikistan. Rekam jejak jihadnya mulai banyak terpublikasi ketika berperan di jihad Chechnya. Dalam sebuah wawancara yang diadakan sebuah surat kabar Turki “Vakit Newspaper“, Abu Hafs menceritakan perjalanan jihadnya pada Adem Ozkese, sang interviewer.

Kisahnya bermula dari awal kedatangan Abu Hafs di bumi jihad Chechnya. Bumi Chehcnya adalah salah satu bumi jihad yang menyita perhatian mujahidin. Tak terkecuali Abu Hafs. Ia mendengar adanya penduduk muslim Chechnya yang ingin membebaskan tanah mereka dari cengkeraman Rusia. Rakyat Chechnya juga berkeinginan hidup berasaskan syariat Allah.

Rusia juga melakukan tindakan represif pada rakyat muslim Chechnya. Mereka membunuh semua jiwa yang beragama Islam baik tua, muda, wanita bahkan anak-anak. Kekejaman-kekejaman pun diiringi dengan kekejian di luar nalar manusia. Dengan kondisi yang sedemikian genting, Abu Hafs melangkahkan kaki ke bumi Chechnya pada tahun 1995.

Abu Hafs bergabung dengan kelompok mujahidin arab yang dipimpin oleh jenderal Khattab. Ia pun mengikuti beberapa operasi yang dipimpin oleh pimpinan mujahid dari Saudi itu. Ia juga diangkat sebagai pelatih militer di kamp mujahidin karena pengalamannya yang banyak di medan jihad bersama Khattab. Pada tahun itu juga, Abu Hafs menikahi seorang wanita Chechnya.

Salah satu operasi fenomenal ia ikuti adalah “Shatoy Ambush”. Penyergapan konvoi kendaraan militer Rusia di dekat desa Yarysh Mardyini itu dilakukan pada tanggal 16 April 1996. Bisa dibilang Abu Hafs berperan aktif dalam setiap operasi yang digelar jenderal Khattab. Selama kepemimpinan Khattab ini mujahidin berhasil memberikan beberapa serangan telak pada Rusia yang mengakibatkan kerugian besar. Beberapa bulan setelah “Shatoy Ambush”, kembali diadakan operasi serangan ke sebuah kamp Rusia yang mengakibatkan penghancuran sebuah helikopter dengan rudal anti-tank AT-3 Sager. Seluruh operasi juga direkam, dan sekelompok pejuang berpartisipasi dalam serangan Grozny yang terkenal pada bulan Agustus 1996.

BACA JUGA  Nasib Wanita Terduga ISIS: Tak Dapat KTP dan Terancam Dieksploitasi

Setelah perang Chechnya pertama usai, para mujahidin berkonsentrasi pada pembangunan dan pembentukan jaringan mujahidin di daerah pegunungan. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi adanya serangan kedua dari Rusia. Jadi, selagi ada kesempatan, para mujahidin berusaha untuk memperkuat diri menyongsong pertempuran selanjutnya.

Memasuki masa tenang, Abu Hafs melakukan sebuah misi khusus ke negara Georgia. Di sana ia melakukan sebuah misi yang tidak disebutkan secara jelas. Namun, dari bukti fisik yang ada, Abu Hafs membangun sebuah masjid dan rumah sakit militer di Georgia. Pembangunan rumah sakit militer ini belum begitu sempurna karena tebalnya salju dan es yang turun. Maka, kelanjutan operasionalnya memerlukan kerjasama dengan pemerintah Georgia.

Tiga tahun kemudian tepatnya pada 26 Agustus 1999, Rusia kembali memulai agresi militer ke wilayah Chechnya. Maka, setelah itu dimulailah kembali perang Chechnya kedua. Saat pecahnya babak baru pertempuran itu, Abu Hafs masih berada di wilayah Georgia. Ia kembali dipanggil pulang ke  Chechnya setelah gugurnya pimpinan tertinggi mujahidin arab, jenderal Khattab karena sebuah pengkhinatan.

Jenazah jenderal Khattab

Jenazah jenderal Khattab saat dimasukkan ke kuburan

Abu Walid Al-Ghamidi, pengganti Khattab secara resmi meminta Abu Hafs kembali untuk dijadikan wakil mendampingi sang pimpinan baru. Maka semenjak itu ia kembali berkiprah pada perang Chechnya menemani Abu Walid sebagai wakil pimpinan umum. Pada tahun yang sama, Abu Hafs menikahi janda dari pemimpin mujahidin Yaman, Abu Al-Ja’far.

Pada episode kedua peperangan panjang ini, Rusia gencar menargetkan pimpinan mujahidin. Setelah mereka berhasil menargetkan Khattab dengan cara pengecut, kini pimpinan baru kembali ditargetkan. Pada 16 April 2004, Abu Walid syahid karena sergapan tentara Rusia. Abu Hafs sebagai wakil menyatakan secara ekslusif berita kesyahidan ini. Masa kekosongan kepimpinan terjadi setelah gugurnya Abu Walid. Maka, secara otomatis Abu Hafs sebagai wakil naik menjadi pimpinan umum mujahidin arab. Keputusan Abu Walid memanggil pulang Abu Hafs ternyata keputusan yang tepat. Sebuah firasat tajam dari seorang Abu Walid Al-Ghamidi.

Abu Hafs Al-Urduni menjadi Amir Mujahidin Arab

Setelah Abu Hafs muncul dalam sebuah video untuk mengumumkan kesyahidan pendahulunya, Abu Walid –rahimahullah, ia pun segera melaksanakan tugasnya sebagai  amir mujahidin Arab. Mujahid Yordania ini mengalami masa sulit karena kondisi yang keras dalam pertempuran bagi dirinya dan mujahid lainnya.

Pasukan Federasi Rusia begitu gencar berburu komandan-komandan mujahid untuk melemahkan perlawanan mujahidin. Begitu juga adanya masalah dalam pendanaan yang sulit untuk masuk dan dimanfaatkan mujahidin. Rusia mengggunakan segala cara dari berbagai lini untuk menghimpit pergerakan tentara-tentara Allah.

BACA JUGA  Ketua FPI Laporkan Ade Armando ke Polisi

Namun, semua yang dilakukan musuh Allah itu tidak menyurutkan semangat Abu Hafs untuk melawan. Pada 12-13 Juli 2004, Abu Hafs mengerahkan sekelompok mujahidin untuk menyerang daerah Avtury. Pasukan mujahidin memblokir semua pintu masuk ke Avtury dan memulai kontak senjata dengan tentara pemerintah pro Rusia.

Mujahidin Chechnya

Mujahidin Chechnya

Jadi, ketika  rakyat Chechnya berjibaku melawan penjajah Rusia, ada sebagian yang justru menjadi penjilat Rusia dan berjuang untuk Moskow. Tentara pemerintahan boneka Rusia yang sengaja dibentuk untuk dibenturkan pada mujahidin. Dalam serangan ini lima mujahid syahid dan 50 tentara pemerintah pro Rusia tewas di tangan mujahidin.

Pada 20 Agustus 2004, Abu Hafs mengeluarkan pernyataan yang ditujukan pada konferensi Islam dan Liga Arab.  Pernyataan ini mendesak negara-negara anggota untuk menghindari partisipasi dalam pemilihan presiden Chechnya. Peringatan ini secara tidak langsung memberikan pengertian bahwa peran mereka sebagai pengamat menawarkan legitimasi  tindakan tentara Rusia. Tindakan di luar nalar kemanusiaan seperti pembunuhan warga sipil tak berdosa yang tidak bersenjata baik orang tua, perempuan dan anak-anak, perkosaan wanita Chechnya , penjarahan kekayaan minyak, upaya untuk menaklukkan bangsa Chechnya dan pemusnahan identitas keislaman. Ketika pihak Rusia sudah putus asa menghadapi kegigihan mujahidin, maka mereka mengangkat tentara dari bangsa mereka sendiri untuk saling berperang. Strategi adu domba yang kerap diterapkan penjajah persis yang terjadi di negara kita Indonesia di masa penjajahan.

Serangan lainnya juga terjadi di daerah Avtury pada 4 July 2006. Serangan yang berlangsung satu jam ini dilakukan untuk menuntut balas atas syahidnya salah satu pemimpin Chechnya Abdul Halim Sadulayev. Mujahidin hanya berkekuatan 20 personel mampu 40 tentara Rusia dan melukai 30 lainnya. Sedangkan di pihak mujahidin tidak ada korban satu pun.

Seperti biasa, para musuh Islam melabeli serangan ini sebagai serangan teroris. Pada hari itu juga presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa serangan Avtury itu adalah serangan terorisme. Sekarang dengan kejujuran hati kita masing-masing bisa menilai, sebenarnya siapa yang teroris dan yang memulai berbuat kerusakan?

Kesyahidan Abu Hafs Al-Urduni

Selang 4 bulan setelah serangan Avtury, pada 26 November 2006, Abu Hafs kembali terlibat dalam sebuah  konfrontasi dengan tentara khusus Rusia di Khasav-Yurt, Daghestan. Kontak senjata terjadi selama empat jam itu membuat dua mujahid syahid menurut rilisan dari Kavkaz Center. Salah satu dari mujahid yang gugur adalah Abu Hafs Al-Urduni.

Qoqaz News pada 9 Desember 2006 mengumumkan bela sungkawa atas syahidya pemimpin mujahidin arab, Abu Hafs Al-Urduni –rahimahullah. Sekaligus saat itu juga diumumkan pergantian kepemimpinan beralih pada komandan Muhannad. Semoga jiwa pantang menyerah Abu Hafs Al-Urduni juga mengalir di setiap jiwa mujahidin dan kaum muslimin. Apapun makar yang dilakukan musuh Allah tidak akan menjadi halangan untuk berjuang, karena Allah selalu bersama kita. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber :

  1. https://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=95134
  2. http://www.zuhlool.org/wiki/
  3. https://jamestown.org/program/abu-hafs-al-urdani-the-quiet-mujahid-2/
  4. https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Hafs_al-Urduni
  5. /2017/11/22/abul-walid-al-ghomidi-mujahid-penerus-perjuangan-jendral-khatthab/2/
  6. /2016/04/01/khattab-bin-ladin-chechnya-33/
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Foto

MK Tolak Kriminalisasi Kaum Homoseks, Warganet Edarkan Meme-meme Cerdas Ini!

KIBLAT.NET, Jakarta – Mahkamah Konstitusi ( MK) pada Kamis (14/12) lalu menolak permohonan uji materi Pasal...

Jum'at, 15/12/2017 20:53 0

Indonesia

FPI: Wajib Hadir ke Aksi Bela Palestina 1712

"Aksi Bela Palestina yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2017 adalah merupakan wujud persatuan umat dan rakyat Indonesia serta bentuk solidaritas konkret dalam upaya membela Palestina"

Jum'at, 15/12/2017 20:41 0

Indonesia

PKS Sayangkan Putusan MK Tolak Uji Materi Pasal Kesusilaan di KUHP

Fraksi PKS DPR RI menyayangkan Putusan MK yang tidak mengabulkan permohonan uji materi pasal kesusilaan dalam KUHP.  Menurut Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini, materi pemohon berangkat dari realitas nyata perilaku asusila dan amoral yang semakin marak dan mengancam masa depan generasi bangsa.

Jum'at, 15/12/2017 20:08 0

Indonesia

LGBT Dapat Dikriminalisasi dalam KUHP

Rancangan KUHP yang diajukan Pemerintah ke DPR tahun 2015 telah memperluas draft berkaitan dengan perzinahan, namun soal LGBT belum

Jum'at, 15/12/2017 20:08 0

Indonesia

HUT ke-30, Hamas: Keputusan Trump Tak Boleh seperti Deklarasi Balfour!

Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh menegaskan bahwa keputusan Trump yang mengakui Al Quds sebagai ibu kota Israel sangat menyakitkan rakyat Palestina.

Jum'at, 15/12/2017 20:01 0

Indonesia

Warga Palu Ikut Bersuara Tolak Klaim Donald Trump atas Tanah Al-Quds

“Sampai kapanpun Al-Quds  merupakan Ibu kota suci milik umat Islam baik berdasarkan Kitab Suci Al Quran maupun bukti-bukti sejarah,” teriak Korlap Aksi.

Jum'at, 15/12/2017 19:49 0

Indonesia

Putusan MK Soal LGBT Bertentangan dengan Aturan Hukum Indonesia

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak mengadili gugatan agar Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) bisa dipidana.

Jum'at, 15/12/2017 19:34 0

Indonesia

Aksi Bela Palestina 1712 Wujud Persatuan Umat Islam

Aksi 1712 dalam rangka membela Palestina, dan merupakan kewajiban semua umat Islam

Jum'at, 15/12/2017 19:28 0

Palestina

HUT Hamas ke-30 Pertegas Al Quds Tetap Milik Palestina

Ismail Haniyeh Kepala Biro Politik Hamas menegaskan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi Palestina, Arab dan Islam

Jum'at, 15/12/2017 19:28 0

Indonesia

DPR: Keputusan MK Tolak JR Delik Perzinahan dan LGBT Berbahaya

Dengan keputusan MK itu seolah-olah LGBT, kumpul kebo dan delik perzinahan dinyatakan konstitusional

Jum'at, 15/12/2017 18:52 0

Close