... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Omong Kosong Perdamaian

Foto: Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.

 

KIBLAT.NET – “…It’s the time officialy recognize Yerusalem as a capitol of Israel.”  Pidato Trump atas penyataan sikap pemerintah Amerika tentang perpindahan Ibu kota Israel yang mulanya berada di Tel Aviv menuju Yerusalem menuai protes berbagai negara.

Kecaman dan kutukan dari berbagai kepala negara dunia bermunculan pasca Trump menandatangani keputusan tersebut. Memang kebijakan ini adalah janji politik yang ia kampanyekan saat menuju kursi presiden Amerika. Tapi, langkah politik yang ia ambil bukan tanpa konsekwensi. Kini Amerika berada pada satu garis gesekan besar terhadap negara-negara di dunia atas pernyataan sikap pemerintahan Amerika terhadap isu perdamaian Israel-Palestina.

Antonio Gueterres; sekretaris PBB angkat bicara soal pidato Trump tentang pemindahan Ibu kota Israel menuju Yerusalem. Dalam pidatonya ia menyatakan bahwa PBB akan kembali berusaha untuk menginisiasi perdamaian antara Israel dan Palestina demi kebaikan rakyat dari kedua belah pihak. Tidak ketinggalan, Presiden Joko Widodo juga angkat suara mengecam pernyataan pemerintahan Amerika soal isu pemindahan ibu kota Israel. Jokowi juga meminta pemerintahan Amerika Serikat mempertimbangkan kembali kebijakan politiknya atas perdamain Israel dan Palestina.

Rentetan Perjanjian Damai

Perjanjian dan konferensi soal upaya perdamaian antara Palestina dan Israel sudah berlangsung sejak lama. Mulai dari Resolusi PBB 242 tahun 1967 yang menuntut Israel menarik mundur pasukannnya dari seluruh daerah pasca perang enam hari. Namun, hanya sedikit sekali dari resolusi PBB yang ditaati oleh pemerintah Israel.

Konflik masih berlanjut hingga ditanda tanganinya perjanjian Camp David tahun 1978 yang disponsori oleh Amerika lewat presiden Jimmy Carter dalam meja runding selama 12 hari di Maryland, Amerika Serikat. Menghadirkan Anwar Sadat dan Menachem Begin dalam pembahasan perdamaian di Timur Tengah secara umum dan isu perdamaian Palestina dan Israel secara khsusus.

BACA JUGA  Wabah Corona dan Lemahnya Komunikasi Pemerintah

Kembali di tahun 1993 terjadi perjanjian Oslo pasca Intifadha pertama tahun 1987-1991. Mempertemukan Yitzak Rabin dari Israel dengan Yasser Arafat sebagai wakil Palestina dari PLO, yang salah satu isi butir perjanjian yang disepakati adalah penarikan pasukan Israel dari Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Hanya 3 tahun setelah ditanda tangani perjanjian Oslo, Israel kembali berulah dengan membuka terowongan menuju al-Aqsa yang memicu terjadinya kerusuhan hingga terjadi pertempuran beberapa hari dan menelan banyak korban jiwa. Akhirnya Israel menarik pasukannya di tahun 1997 dari Tepi Barat.

Tahun 2000 terjadi intifadha kedua sebagai respon dari kedatangan Ariel Saron ke Masjid al-Aqsa dan beragam kebijakannya yang merugikan Palestina. Dan untuk kedua kalinya dikukuhkan perjanjian Camp David yang kembali disponsori oleh Amerika. Presiden Bill Clinton menjadi juru runding antara Ehud Barak dari Israel dan Yasser Arafat dari Palestina untuk kembali membicarakan upaya perdamaian dari kedua belah pihak.

Meski telah terjadi berjilid-jilid usaha perundingan damai yang dimotori berbagai pihak demi mengupayakan perdamaian, tapi tetap saja hasilnya nihil. Israel selalu dengan mudah mencoreng muka sendiri dengan mengkhianati hasil perjanjian yang telah disepakati.

Politik Omong Kosong PBB dan Negara-negara Barat

Kecaman dan kutukan atas sikap kesewenangan pemerintah Israel atas Palestina sejak dahulu selalu bermunculan dari berbagai kepala negara dan PBB sebagai pernyataan sikap ketidaksetujuan atas langkah yang diambil oleh Israel. Tapi itu semua hanya  lewat di bibir. Pemanis kata dan bualan sekedar menunjukkan ‘Kami peduli soal Palestina’. Tapi faktanya, tidak ada langkah konkret yang benar-benar dilakukan untuk memperjuangkan nasib rakyat Palestina oleh PBB.

Daftar panjang kebrutalan Israel terhadap rakyat Palestina sudah menjadi tontonan dunia sepanjang hampir 60 tahun setelah mereka mendeklarisakan diri sebagai negara merdeka di atas tanah impian; The Promise Land.

Tapi apa hasil dari semua resolusi dan perjanjian damai yang sudah ditanda tangani selama ini. Alih-alih rakyat Palestina memperoleh kemerdekaan, justru kian kemari tanah mereka semakin habis dicaplok Israel. Dan PBB hanya bisa diam dan sesekali mengecam tindakan tersebut.

BACA JUGA  Wabah Corona dan Lemahnya Komunikasi Pemerintah

Nonsense, adalah omong kosong semua resolusi yang dikeluarkan dan semua perjanjian yang telah dibubuhi tanda tangan para kepala negara untuk perdamaian dan kemerdekaan Palestina. Perdamaian itu hanya mimpi di siang bolong yang diperlihatkan seolah-olah itu nyata. Padahal itu semua adalah fatamorgana yang diciptakan untuk mengelabui kaum muslimin lewat meja runding PBB.

Dan semua semakin terang setelah pernyataan Trump. Keberpihakan Amerika terhadap Israel tak terbantahkan. Hanya soal waktu, ‘kegilaan’ Trump akan semakin nyata untuk terus mendukung Israel mencaplok keseluruhan tanah Palestina dan menindas rakyatnya demi terwujudnya Israel Raya yang mereka impikan.

Hanya Satu Kata; Lawan!

Cukup satu Firman Allah dalam Al-Quran yang termaktub tegas pada surat al-Baqarah: 120, yang perlu kita garisi tebal-tebal, bahwa permusuhan dengan orang-orang Yahudi adalah perseturuan abadi. Tidak akan pernah ada kata damai, apalagi saat ini mereka berada di atas angin dengan menguasai hegemoni percaturan politik dunia, ekonomi, dan militer. Tidak ada langkah yang lebih tepat untuk menghentikan ini semua, kecuali melawan.

Bahasa perdamaian tidak akan pernah dipahami oleh orang-orang Yahudi, dan itu sudah merupakan fakta empiris historis. Adapun bahasa yang paling layak bagi mereka adalah; bahasa peluru.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..”

Penulis: Fadjar Jaganegara

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Muhammadiyah Soroti Acara Kontes Waria di Sultra

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Muhammadiyah Sulawesi Tenggara angkat bicara soal penyelenggaraan kontes waria di wilayahnya. Kontes Waria di antaranya diadakan di Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, dan Kota Kendari.

Rabu, 13/12/2017 13:47 0

Indonesia

Astaghfirullah, Ustadz Alfian Tanjung Dijatuhi Hukuman 2 Tahun Penjara

Hakim PN Surabaya menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada Ustadz Alfian Tanjung

Rabu, 13/12/2017 13:45 0

Suriah

Pejuang Suriah Temukan Ratusan Mayat Pasukan Assad di Hama

Koresponden Orient News di Hama, Jamil al-Hasan, melaporkan bahwa milisi rezim mengontrol desa-desa seperti: Al-blel, Om Khzem, Om Trekah, Rajm Al-Ahmar, Al-Zafiriyah, Tallat Bolus, dan Tall Shteb.

Rabu, 13/12/2017 13:14 0

Indonesia

LUIS Surakarta Sambangi Penerbit Yudhistira

Dalam menyikapi hal tersebut, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) hari ini Rabu (13/12/17) menyambangi penerbit percetakan Yudhistira yang berada di Solo. Kedatangan Ormas tersebut karena menginginkan adanya klarifikasi langsung dari pihak terkait.

Rabu, 13/12/2017 12:44 0

Amerika

Usai Percobaan Bom Bunuh Diri, Kepolisian New York Perketat Pengamanan

Kepolisian New York pada Selasa, (12/12) mengatakan, akan menyesuaikan rencana pengamanan untuk perayaan Malam Tahun Baru di Times Square setelah terjadi percobaan pengeboman bunuh diri di lorong kereta bawah tanah di kawasan itu.

Rabu, 13/12/2017 12:43 0

Indonesia

Arya Wedakarna Mengaku Tak Tahu Soal Penolakan UAS di Bali

KIBLAT.NET, Jakarta- Anggota DPD dapil Bali, Arya Wedakarna akhirnya angkat suara tentang postingannya yang diduga...

Rabu, 13/12/2017 12:42 0

Indonesia

Cantumkan Yerusalem Ibukota Israel, Penerbit Yudhistira akan Dipanggil KPAI

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) akan memanggil Penerbit Yudhistira terkait ditemukannya buku kelas 6 SD terbitan Penerbit Yudhistira yang mencantumkan Jerusalem sebagai ibukota Israel, bahkan sebelum adanya klaim dari Donald Trump.

Rabu, 13/12/2017 12:40 0

Artikel

Membaca Langkah Trump di Jerusalem

Think tank Trump mungkin membaca, ada arus kencang di dunia Islam. Mereka ingin melihat, arus ini riil atau cuma framing media. Mereka menyelam dalam pusaran kebangkitan. Artinya, jika akhirnya Trump membatalkan klaim atas Jerusalem, boleh ditebak arus kebangkitan itu sungguh nyata lagi luar biasa.

Rabu, 13/12/2017 12:00 0

Indonesia

Laporkan Provokator Penolakan UAS, Advokat GNPF-Ulama Diancam

Advokat GNPF-Ulama, Ismar Syafrudin mengaku mendapatkan ancaman dari pihak Arya Wedakarma, setelah melaporkannya ke polisi karena dugaan provokasi penolakan UAS di Bali.

Rabu, 13/12/2017 11:58 0

Indonesia

Terkait Terorisme, Densus 88 Akan Jemput WNI di Malaysia

Densus 88 Antiteror juga menangkap seorang WN Malaysia di Kalimantan Barat terkait dengan jaringan terorisme di Malaysia. Rencana deportasi warga Malaysia yang ditangkap itu sudah dibicarakan dengan Polisi Diraja Malaysia.

Rabu, 13/12/2017 11:27 0

Close