... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Al-Quds dan Pentingnya Sebuah Perlawanan

Foto: Perlawanan bocah-bocha terhadap pasukan Zionis Israel

KIBLAT.NET – Abu Ubaid Al Qurasyi, seorang yang diklaim sebagai pemikir Al Qaeda dan termasuk dalam inner circle Osama bin Laden pernah menulis sebuah artikel berjudul Huruub Al Jail Ar Rabi’ (peperangan generasi keempat). Al Qurasyi membuka paragraf tulisan tersebut dengan sebuah “curhat” mengenai kondisi umat Islam saat ini. Berikut saya sadurkan curhatan tersebut:

“Kata optimis mungkin telah lama terhapus dari kamus sebagian besar kaum muslimin, salah satu indikatornya adalah ketika sebagian ulama menganggap bahwa secara kasat mata kekuatan kaum muslimin tidak sebanding dengan kekuatan Amerika dan sekutunya, karena itu kita tidak perlu berjihad, tidak perlu melakukan perlawanan dan tidak perlu mendukung kelompok yang “ngaku-ngaku” berjihad karena perang sudah pasti dimenangkan Amerika.

Memang sebuah ironi yang menyanyat hati, ketika ulama yang seharusnya menjadi benteng umat Islam dalam misinya menegakkan kebenaran serta melenyapkan kebathilan justru menunjukkan sikap agak kejabbariyah jabbariyahan. Kata-kata mereka justru mengindikasikan kejahiliyahan mereka yang paripurna mengenai ilmu syar’i, wawasan sejarah, serta perkembangan analisis militer barat.”

Lebih lanjut Al Qurasyi memperkuat analisanya dengan sebuah peristiwa yang telah masyhur di dunia Islam.

“Sejak bertahun-tahun silam, kita telah mendengar kabar mengenai bocah-bocah pejuang intifadhah Palestina yang hanya bermodal batu dan bom molotov ketika melawan pasukan zionis Israel yang notabene dibekali senjata super canggih. Dan meskipun korban di pihak Palestina begitu banyak, namun hal itu tidak menyurutkan nyali serta tekad mereka dan perlawanan mereka justru semakin sengit. Sungguh sebuah gambaran yang nyata mengenai heroisme dan keberanian.

Di sisi lain, beberapa pakar militer Amerika “mengambil hikmah” dari peristiwa tersebut. Pada tahun 1989, mereka meramalkan akan terjadi perubahan fundamental mengenai bentuk dan gaya peperangan yang akan mendominasi pada abad 21. Mereka menamainya Fourth Generation Warfare atau perang generasi keempat, dan sebagian mereka ada yang mempopulerkannya dengan istilah Asymmetric Warfare atau perang yang tidak seimbang.”

BACA JUGA  Ali Syari'ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Perang generasi keempat sendiri merupakan model perang yang menunjukkan superioritas pihak yang secara teori lebih lemah. Dan pada banyak kasus, perang semacam ini telah menghasilkan kekalahan negara di tangan aktor non negara.

John Boyd, pakar militer terkemuka AS pernah mengatakan, “Saat saya masih muda, saya berpikir bahwa jika anda memiliki superioritas udara, superioritas darat, dan superioritas laut. Anda akan menang. Di Vietnam, kita memiliki superioritas udara, superioritas darat, dan superioritas laut, namun kita kalah. Jadi saya sadar, bahwa ada sesuatu yang lebih penting dari pada itu.”

Apa yang diutarakan Boyd hanya satu contoh saja. Sementara dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai kemenangan yang diperoleh aktor-aktor non negara terhadap negara-negara adidaya. Kekalahan Uni Sovyet di Afghanistan, Amerika di Somalia, dan Rusia di Chechnya. Dan kemenangan tersebut telah dicapai di berbagai medan, pegunungan, gurun pasir, perbukitan, serta perkotaan.

Dalam perang generasi keempat fokus tidak lagi pada kekuatan militer semata, namun juga mempertimbangkan aspek politik, ekonomi, serta sosial. Dan tujuan utamanya bukanlah menghabisi prajurit musuh, melainkan meyakinkan para pengambil kebijakan musuh bahwa tujuan strategis mereka tidak mungkin diraih atau terlalu mahal jika dibandingkan dengan manfaat yang diharapkan.

Maka hal yang paling menentukan dalam perang generasi keempat bukan lagi kekuatan senjata, melainkan seberapa kuat ideologi suatu kelompok serta kemampuan mereka dalam meramu sebuah narasi yang meyakinkan. Yang dapat mempengaruhi khalayak bahwa mereka lah yang harus didukung dalam perang ini.

BACA JUGA  Pemikiran Syahrur dan Problem Otoritas dalam Studi Islam

Pada titik inilah kita bisa menerima “olok-olokan” Abu Ubaid Al Qurasyi yang diarahkan kepada sebagian ulama di atas. Karena pesimisme semacam itu hanya akan timbul ketika pikiran kita terhegemoni oleh garis-garis imajiner di peta dunia. Namun ketika menyadari sebuah ide yang bersumber dari Al Qur’an yaitu ummah, yang berarti orang-orang Islam sejatinya terhimpun dalam satu kesatuan yang bernama ummat, bagaikan satu tubuh, ketika satu bagian tersakiti maka yang lain akan tersakiti. Maka pesimisme semacam itu pasti tidak akan pernah wujud.

Dan bukankah kita juga harus sepenuhnya yakin bahwa Al Qur’an bukanlah merupakan syair yang digubah seorang Muhammad SAW, melainkan kalamullah, yang sudah pasti lebih meyakinkan ketimbang narasi apapun asalkan dengan cara penyampaian yang meyakinkan pula.

Jadi sejatinya umat Islam sudah mempunyai dua modal berharga, yaitu ide yang kuat serta narasi yang meyakinkan untuk terjun dan meraih kemenangan dalam peperangan generasi keempat ini.

Maka sudah seharusnya keributan yang ditimbulkan oleh Trump kali ini, yaitu mengakui Al Quds sebagai ibu kota Israel, menjadi keributan yang terakhir. Karena keributan ini sejatinya hanyalah akibat dari pesimisme yang kadung berkarang di relung-relung sanubari kita.

Mari kita bersihkan karang-karang tersebut dan mulailah bergerak melawan sesuai kapasitas dan kemampuan kita.

Penulis : Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Bantuan Solidaritas Muslim Tembus Lokasi Tanah Longsor di Pelosok Pacitan

Bantuan Solidaritas Muslim Tembus Lokasi Tanah Longsor di Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan wilayah pelosok utara Kabupaten Pacitan

Sabtu, 09/12/2017 16:52 0

Arab Saudi

Sebelum Isu Yerusalem Mencuat, Ternyata Arab Saudi Pernah Usulkan Ini

Pangeran Muhammad bin Salman pernah menyampaikan proposal kepada Presiden Mahmoud Abbas terkait ibukota Palestina

Sabtu, 09/12/2017 16:36 0

Indonesia

PBNU Berharap Palestina dan Negara Sekelilingnya Bersatu

Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Marsudi Syuhud menegaskan bahwa dengan menyebut Al-Quds ibukota Israel, Amerika melanggar resolusi yang dibuat PBB

Sabtu, 09/12/2017 10:05 0

Indonesia

DSKS: Kebijakan Trump terhadap Al-Quds Provokasi

"Kebijakan itu tidak wajar, kasar dan sudah memprovokasi dunia. Bahkan, menjauhkan dari nilai kedamaian dan ketidakadilan di Palestina," ujarnya di Bunderan Patung Gladak pada Jumat, (8/12/17).

Sabtu, 09/12/2017 08:15 0

Indonesia

MUI Imbau Umat Islam Doakan Masjid Al-Aqsha dan Palestina

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Zaitun Rasmin menjelaskan sikap MUI terkait situasi terkini di Palestina

Sabtu, 09/12/2017 07:31 0

Indonesia

Gus Sholah Imbau Umat Islam Tak Lupakan Kekejaman PKI

Pimpinan pesantren Tebu Ireng, KH. Sholahuddin Wahid menegaskan bahwa kekejaman PKI di Indonesia tidak boleh dilupakan

Sabtu, 09/12/2017 06:46 0

Indonesia

Di Solo Bendera Israel Dijadikan Keset

Peserta Aksi unjuk rasa di Solo menjadikan bendera Israel sebagai keset dan diinjak-injak

Jum'at, 08/12/2017 22:15 0

Indonesia

Soal Dukungan untuk Palestina, Aktivis Kemanusiaan Abdillah Onim Ingin Bertemu Jokowi

Abdillah Onim ingin bertemu dengan Presiden Jokowi terkait dukungan konkret untuk Palestina

Jum'at, 08/12/2017 21:57 0

Indonesia

Sikap Jokowi soal Krisis Al-Quds Dinilai Ambigu

Ia mengimbau supaya rakyat jeli melihat dan mengikuti sepak terjang dan konsistensi pemimpin negara saat ini. Pigai menilai ada inkonsistensi dari Pemerintahan Jokowi, bahkan cenderung tidak bertanggungjawab dengan janji kampanyenya.

Jum'at, 08/12/2017 20:17 0

Indonesia

Ceritakan Tragisnya Penculikan Kyai oleh PKI, Pria Ini Menangis

Ia tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan para PKI menculik salah satu ulama Jawa Timur, Kyai Imam Mursyid.

Jum'at, 08/12/2017 19:40 0

Close