... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Beginilah Korelasi antara Konflik Kekerasan dengan Korupsi

Foto: Korupsi menjadi pusat narasi dari Arab Spring, dan permintaan untuk mengatasi masalah tersebut menjadi salah satu pusat dari aspirasi para demonstran.

KIBLAT.NET – Sebelum kita melihat lebih dalam bagaimana korupsi bisa menyebabkan konflik dan ketidakstabilan, pertama kali kita akan melihat bagaimana institusi lemah dan konflik bisa memicu korupsi. Hampir semua negara yang masuk dalam kategori sangat korup ternyata juga memiliki institusi politik, administrasi, dan ekonomi yang lemah. Dampaknya, tidak banyak batasan formal terhadap perilaku korup.

Institusi-institusi yang penting untuk menangkal atau memberi hukuman pada perbuatan korupsi pun seringkali tidak punya kapasitas untuk melakukannya.Institusi negara yang lemah seringkali adalah konsekuensi dari konflik sipil dan kerusakan fisik, terjadinya banyak pengungsian, dan menguatnya struktur informal.

Konflik kekerasan menciptakan sebuah lingkungan di mana pemerasan tersebar luas, partisipasi dalam perbuatan korup dianggap sebagai pilihan rasional setiap individu. Mereka yang menyuap melakukannya demi mendapatkan akses makanan, kesehatan; sedang mereka yang menerima suap melakukannya sebagai salah satu dari sedikit peluang mendapatkan penghasilan. Jika tingkat kepercayaan antara kelompok cenderung rendah, sebagaimana yang umum terjadi di lingkungan yang mengalami konflik, melindungi kepentingan kelompok etnis, suku, atau anggota keluarga melalui penyuapan adalah respon yang rasional untuk menghadapi kesulitan yang sedang berlangsung.

Hubungan antara korupsi dan terorisme telah lama dikenal. Meskipun bukan merupakan satu-satunya kontributor terjadinya destabilisasi sebuah negara, korupsi bisa memberikan dampak yang sangat besar. Ia bisa menguras sumber daya publik dan meruntuhkan kepercayaan publik pada pemerintahnya. Mulai dari korupsi kecil-kecilan dari pejabat kelas rendah hingga suap yang melibatkan pemimpin politik, korupsi akan melemahkan sebuah negara.

Korupsi berpotensi meningkatkan risiko konflik, dan konflik juga berpotensi meningkatkan risiko korupsi. Keduanya memiliki hubungan simbiosis yang bisa mengancam perdamaian dan stabilitas di negara yang sudah dikepung oleh kekerasan.

Banyak penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara korupsi di satu sisi, dengan ketidakstabilan politik dan konflik kekerasan di sisi lain. Baca juga: Laporan Syamina Korupsi Memicu Terorisme

Pada tahun 2011, dalam laporannya yang berjudul World Development Report on Conflict, Security, and Development, Bank Dunia menyatakan bahwa “Korupsi memberikan dampak buruk dua kali lipat terhadap risiko kekerasan, dengan memicu keluhan dan menurunkan keefektifan lembaga nasional dan norma sosial. Laporan dalam OECD Development Cooperation Directorate tentang korupsi dan pembangunan negara juga menyatakan bahwa “Korupsi merupakan inti dari kerapuhan. Beberapa bentuk korupsi bisa secara fundamental mendelegitimasi negara.”

Dalam berbagai survei yang dilakukan di negara yang mengalami konflik, ditemukan bahwa korupsi adalah salah satu perhatian utama dari masyarakat. Dalam survei yang dilakukan oleh Integrity Watch Afghanistan misalnya, separuh responden menganggap korupsi sebagai salah satu penyebab meluasnya ekspansi Taliban. Di Afghanistan maupun di Kosovo, korupsi diidentifikasi oleh para responden sebagai tantangan utama negara mereka.

Korupsi menjadi pusat narasi dari Arab Spring, dan permintaan untuk mengatasi masalah tersebut menjadi salah satu pusat dari aspirasi para demonstran.

Data di tabel berikut juga menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara korupsi dengan konflik kekerasan: negara dengan tingkat korupsi yang sangat tinggi (yang ditunjukkan dengan rendahnya skor dalam Transparency International Corruption Perception Index atau skor Control of Corruption Bank Dunia) lebih memungkinkan untuk mengalami konflik kekerasan. Sebelas dari 20 negara paling korup di dunia mengalami konflik kekerasan, yang seringkali berlangsung bertahun-tahun.

Menurut data dari Deklarasi Jenewa tentang Kekerasan Bersenjata dan Pembangunan, 11 dari 20 negara yang ada di dalam tabel mengalami angka kematian melalui kekerasan yang sangat tinggi, dengan nilai lebih dari 10 per 100.000. Dua negara (Irak, Venezuela) memiliki angka kematian lebih dari 40 per 1000.000, baik kematian akibat konflik, terorisme, kriminal, maupun kekerasan negara terhadap masyarakat sipil.

Tabel Negara-negara terkorup dan pengalaman mereka terhadap konflik dan operasi perdamaian

Sumber: Transparecy International

Meski kita bisa melihat adanya korelasi yang kuat antara korupsi dan konflik, kita belum bisa menyimpulkan siapa yang menyebabkan siapa, ataukah keduanya adalah fenomena dari penyebab yang sama, seperti institusi negara yang lemah. Namun demikian, keempat fenomena—yaitu korupsi, konflik, ketidakamanan, dan institusi negara yang lemah—adalah saling tergantung sama lain.

 

Penulis: Tim Syamina
Editor: Fajar Shadiq

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

News

MUI Jatim: Sebut Kasus Rohingya Bukan Konflik SARA Upaya Pengaburan Fakta

Pernyataan pimpinan majelis agama Buddha Indonesia yang menyebut tragedi Rohingya sebgai konflik sosial adalah bagian dari manipulasi

Sabtu, 25/11/2017 17:29 0

Mesir

Mesir Tutup Perbatasan ke Jalur Gaza, Seraya Bersumpah akan Membalas Dendam

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyebut insiden serangan di masjid tersebut sebagai "serangan teroris" dan berjanji akan "membalas dendam".

Sabtu, 25/11/2017 16:20 0

Rilis Syamina

Laporan Syamina: Perang Khaibar, Sejarah Pengkhianatan Yahudi

Penyebab perang Khaibar adalah karena Yahudi Bani Nadhir—yang setelah terusir dari Madinah lalu menetap di Khaibar—menimbulkan permusuhan melawan umat Islam. Mereka berusaha memprovokasi bangsa Arab untuk melawan Rasulullah.

Sabtu, 25/11/2017 16:14 0

Indonesia

MUI Jatim: Kunjungan Sekjen Partai Komunis Vietnam ke Indonesia Langgar UU

"Oleh karena itu pertemuan antara pemerintah Republik Indonesia dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam (PKV) Nguyen Phu Trong adalah merupakan bentuk pelanggaran yang serius terhadap undang undang

Sabtu, 25/11/2017 15:42 0

News

Observatorium HAM: 340 Ribu Nyawa Melayang Sepanjang Konflik Suriah

Sebanyak 100.000 warga sipil terbunuh dalam konflik Suriah

Sabtu, 25/11/2017 15:41 0

Indonesia

Padahal Sudah Tandatangani Pakta Integritas, Setnov Masih Tolak Mundur

Politikus senior Partai Golkar Zainal Bintang menyindir keputusan tersebut karena tidak sesuai dengan pakta integritas yang ditandatangani Setya Novanto, Idrus Marham dan seluruh DPD tingkat I pada 2 Juni 2016.

Sabtu, 25/11/2017 15:24 0

Wilayah Lain

Riset IRI Tunjukkan Korupsi Jadi Pendorong Utama Terorisme dari Bosnia hingga Tunisia

Penelitian yang dilakukan oleh International Republican Institute (IRI) menunjukkan bahwa korupsi adalah pendorong utama terorisme di semua wilayah, mulai dari Bosnia, Tanzania hingga Tunisia.

Sabtu, 25/11/2017 14:56 0

News

Muhammad Bin Salman: Pemimpin Tertinggi Iran Hitler Baru di Timur Tengah

"Pemimpin tertinggi Iran adalah Hitler baru di Timur Tengah," kata Muhammd bin Salman.

Sabtu, 25/11/2017 13:55 0

Timur Tengah

IUMS Pimpinan Syaikh Yusuf Qaradhawi Masuk Daftar Teroris, Blok Arab Saudi Dikecam

Memasukkan Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) ke daftar organisasi teroris menguntungkan pihak yang anti Islam

Sabtu, 25/11/2017 11:46 0

Mesir

KBRI di Mesir Pastikan Tak Ada WNI Korban Serangan di Sinai

Sejauh ini, korban jiwa mencapai lebih dari 230 orang. Sedangkan menurut ketarangan Dubes RI untuk Mesir Helmy Fauzi bahwa dalam serangan tersebut tak ada WNI yang menjadi korban.

Sabtu, 25/11/2017 08:09 0

Close