Penjualan Aset Negara Dinilai Bermotif Rente dan Pencitraan

KIBLAT.NET, Jakarta- Penjualan aset negara dinilai dilatarbelakangi karena dua hal. Pertama, karena motif pemburuan rente. Kedua, karena politik pencitraan. Hal itu diungkapkan oleh direktur IRESS, Marwan Batubara.

“Obral aset ini saya lihat karena motif rente dan pencitraan Jokowi. Dia ingin pembangunan insfratuktur itu berhasil supaya dia ingin terpilih lagi. Dua ini bersatu,” ujarnya dalam diskusi ‘Musim Obral Aset Negara’ di Jakarta pada Rabu (22/11/2017).

Ia juga menjelaskan bahwa rencana pembangunan insfratuktur 2014-2019 itu menghabiskan biaya hingga 4197 trilyun. 42 persen akan datang dari APBN dan BUMN. Kemudian 58 persen datang dari swasta.

Ia menilai dia, APBN negara bermasalah. Harga minyak, komoditas turun maka penerimaan negara juga turun. Dan dari sisi ekonomi juga ada masalah. Yaitu penerimaan pajak yang turun.

“Sehingga target 42 persen tidak tercapai, kemudian menghalalkan segala cara, pak jokowi menjual aset yang produktif itu,” tegasnya

“Kalau yang produktif dijual, bagaimana nanti BUMN bisa survive.Karena itu saya kira ini perlu dihentikan. Ini muatan politik dan rente. Ekonomi nomor sekian lah,” terangnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa ada puluhan pelabuhan yang dikelola asing. Dan jalan tol cukup banyak. Ia juga mendengar bahwa bandara Soekarno Hatta akan dikelola secara bersama antara asing dan pemerintah.

“Ini tidak bisa dibuatkan. Ini trategis, berkaitan dengan pertahanan dan keamanan,” tandasnya.

BACA JUGA  Siapkan Naskah Khutbah Jumat, Kemenag Gandeng Ulama dan Akademisi

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Syafi’i Iskandar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat