... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Masa Depan Media Massa Islam

Foto: Media massa. (ilustrasi)

KIBLAT.NET – Media massa Islam di tanah air baik yang masih maupun tidak terbit lagi merupakan warisan tidak ternilai harganya. Media massa yang berideologi Islam telah memberikan warisan peradaban sangat penting. Perkembangan pemikiran Islam tidak lepas dari peran media massa yang dikelola baik organisasi maupun kelompok Islam tertentu dengan konten yang sangat mencerahkan.

Walaupun mengalami pergeseran dari sisi bobot dan kajian konten yang disajikan, nyatanya media massa Islam (khususnya yang tercetak) hingga kini masih eksis dan tetap bertahan. Dari sekian banyak media massa Islam yang telah terbit dan tenggelam di tanah air, Suara Muhammadiyah merupakan majalah paling tua yang masih terbit – sejauh penelusuran saya – dan hingga kini tidak lelah memberikan pencerahan kepada ummat.

Namun demikian, ada pertanyaan mendasar terkait dengan eksistensi media massa Islam yang berbasis cetak ini. Akankan media massa Islam ini tetap hadir menyapa khalayak? jika masih akan tetap ada, sampai kapan media itu hidup?

Jika didiskusikan, tema ini mungkin tidak akan habis diperdebatkan. Walaupun ada futurolog meyakini jika media cetak akan punah tahun 2040, namun Jakob masih yakin jika media cetak akan tetap bertahan dan tidak akan tergantikan. Prediksi ini sesungguhnya berlaku umum, namun sebagai bagian dari media massa, Koran atau majalah Islam pun bisa jadi ada di dalamnya.

Untuk itu penting kita mengkaji beberapa aspek dari keberadaan media massa Islam terkait dengan karakteristiknya. Pertama, media massa Islam pada umumnya berbasis pada opini bukan berita. Jika pun ada media massa Islam yang berbasis berita, maka teknik reportasenya sangat khas. Walaupun media secara umum tidak lepas dari subjektifitas, namun media massa Islam lebih fulgar dan sangat jelas keberpihakannya.

BACA JUGA  Semua "Hanya" Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Teknik jurnalistik di media massa Islam ini memiliki kekhassan dan cenderung tidak sama dengan media massa pada umumnya. Para reporter dan redaktur seperti berada di dunia media yang berbeda dibanding media massa pada umumnya. Teknik reportase tidak banyak di lapangan dan mobile, tetapi lebih fokus pada wawancara tokoh dan penelusuran referensi.

Kedua, media massa Islam lebih banyak diterbitkan oleh organisasi atau kelompok Islam tertentu. Media ini menjadi partisan karena diterbitkan untuk kepentingan organisasi atau golongan. Maka subjektifitas yang kental di atas bisa jadi dikarenakan pengaruh kepemilikan yang kuat mempengaruhi keberadaan media tersebut.

Ketiga, media massa Islam lebih menjadi saluran propaganda sekaligus menangkal pengaruh luar. Selain menyerang “lawan“, media ini juga lebih berfungsi untuk melindungi kelompok dan jamaahnya dari pengaruh luar.

Keempat, secara kelembagaan, media massa Islam lebih cenderung memberdayakan SDM internal kelompoknya dibanding melakukan rekrutmen terbuka dengan mencari orang-orang professional di luar kelompoknya. Jika diisi oleh orang luar, dihawatirkan isi media menjadi bias dan tidak terkontrol, selain persoalan lain bagi sebagian media yaitu aspek financial yang kurang mendukung.

Kelima, media massa Islam tidak tersebar luas, hanya beredar di kalangan internal. Kalaupun ada yang dijual bebas, jumlahnya sangat terbatas dan oplahnya tidak besar. Kondisi ini sangat mungkin dipengaruhi konten yang bersifat internal dan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, sehingga ketika dilempar ke pasar yang lebih luas cenderung kurang laku. Atau, memang pemilihan jangkauan juga merupakan bagian dari pilihan itu sendiri.

Keenam, jika menelusuri keberadaan media massa Islam dahulu – kebanyakan sudah tidak terbit lagi – media tersebut lebih membangun wacana yang sangat terbuka. Selain membuka wawasan Islam yang sangat mencerahkan, media massa Islam juga sangat erat dengan isu-isu nasionalisme. Lewat media massa, para tokoh Islam dulu membangun peradaban masyarakat yang lebih maju.

BACA JUGA  Semua "Hanya" Peduli Floyd, Tidak dengan Iyad Hallaq

Dahulu, media massa Islam lebih open minded, tidak kaku dalam membangun wacana, mencerahkan, bahkan sebagiannya sangat ekstream. Misalnya bagaimana media “Mimbar” menyuguhkan rubrik khusus Kristologi pada tahun 60-an. Termasuk bagaimana media massa Islam dulu sangat terbiasa dengan ideologi-ideologi kiri dan nasionalis. Di sini tentu sangat terang bagaimana media massa Islam memberikan pendidikan yang lebih terbuka dan memberikan pilihan berfikir dengan argumentasi yang jelas.

Namun, dari kekhassan tersebut, media massa Islam memiliki keunggulan yang bisa dijadikan modal untuk tetap bertahan walaupun dengan syarat. Modal dimaksud adalah soliditas antara pengelola dengan khalayaknya. Media massa Islam yang dibangun di atas kelompok dan Ormas tertentu sesungguhnya mereka memiliki hubungan erat sebagai sebuah keluarga besar. Hal ini pula yang membuat jamaah dari Ormas atau kelompok Islam tersebut merasa memiliki terhadap media massanya.

Hanya saja, seiring dengan perkembangan zaman, di mana rasionalitas publik semakin maju, maka mengandalkan ikatan emosional saja kini tidak cukup. Maka diperlukan aspek profesionalitas pada media massa Islam, sehingga ummatnya selain tetap memilih medianya tersebut dengan alasan sebagai keluarga, tetapi juga memang kontennya dibutuhkan karena kualitas isinya. Sehingga ke depan, tidak lagi media itu dimiliki jamaahnya karena memiliki ikatan keluarga, tetapi memang media itu benar-benar ditunggu dan dibeli secara proaktif. Jika sudah terpadu antara aspek kedekatan emosional dan kwalitas media, maka bukan tidak mungkin media massa cetak Islam ini akan tetap hadir sepanjang zaman. Al ilmu minallah

 

Penulis: Roni Tabroni, S.Sos., M.Si. (Dosen Komunikasi Universitas Sangga Buana YPKP dan UIN SGD Bandung)


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Polda Metro Masih Tunggu Hasil Penelitian Jaksa soal Berkas Jonru

Polda Metro Jaya telah menyerahkan berkas perkara Jonru Ginting tahap pertama kepada Jaksa Penuntut Umum. Saat ini, pihak JPU masih melakukan penelitian terhadap berkas tersebut.

Rabu, 22/11/2017 12:48 0

Arab Saudi

Banjir Landa Jeddah, Sekolah-sekolah Ditutup

Banjir bandang yang dipicu oleh hujan deras menyapu Jeddah pada Selasa (21/11/2017). Pengendara motor dan mobil terlihat menepi karena genangan air menutup jalan.

Rabu, 22/11/2017 12:12 0

Indonesia

Catatan Pengacara dalam Sidang Praperadilan Jonru

Pengacara Jonru, Sulistiyowati mengaku kecewa dengan keputusan hakim yang menolak pengajuan praperadilan Jonru Ginting. Menurutnya, hakim mengabaikan fakta-fakta yang ada.

Rabu, 22/11/2017 11:33 0

Asia

Wabah Diare Incar Puluhan Ribu Pengungsi Rohingya

ersatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa air dari sumur di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh terkontaminasi.

Rabu, 22/11/2017 11:00 0

Rusia

Bahas Suriah, Jenderal Turki, Iran dan Rusia Bertemu di Sochi

Kepala Angkatan Darat Turki, Iran dan Rusia bertemu di kota Sochi pada Selasa (21/11/2017).

Rabu, 22/11/2017 10:33 0

Indonesia

Pengacara Siap Buktikan Jonru Tak Bersalah di Persidangan

Pengacara Jonru, Djuju Purwantoro, mengaku kecewa dengan putusan hakim. Sebab dia menilai proses pemeriksaan terhadap Jonru dan penetapan status tersangka terhadap kliennya tidak mempertimbangkan aspek Hak Asasi Manusia (HAM).

Rabu, 22/11/2017 10:15 0

Lebanon

18 Hari sejak Pengunduran Diri, Hariri Pulang ke Lebanon

aad al-Hariri kembali ke Beirut pada hari Selasa (21/11/2017) untuk pertama kalinya sejak pengunduran dirinya sebagai perdana menteri Lebanon. Hariri mengundurkan diri melalui sebuah siaran di Arab Saudi.

Rabu, 22/11/2017 09:56 0

Irak

Iraq Akan Umumkan Kemenangan Setelah ISIS Habis di Gurun

Perdana Menteri Iraq Haidar Al-Abadi, Selasa (21/11), mengungkapkan bahwa pemerintahannya tidak akan mengumumkan kemenangan terakhir dalam perang menghadapi Organisasi Daulah Islamiyah (ISIS) sampai mengalahkan sisa-sisa mereka di padang pasir. Meskipun saat ini ISIS telah kalah secara militer.

Rabu, 22/11/2017 09:15 0

Indonesia

Dampak Korupsi e-KTP Rusak Negara

Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai kerusakan yang diakibatkan korupsi Kartu Tanda Penduduk berbasis Elektronik bukan hanya berdampak lokal, tapi langsung kepada negara.

Rabu, 22/11/2017 08:04 0

Indonesia

ICW: Gegara Korupsi, Citra Indonesia Rusak di Mata Dunia

Aktivis Indonesia Indonesia Corruption Watch (ICW), Donal Fariz mengungkapkan, dengan adanya kasus korupsi yang kembali melibatkan petinggi negara citra Indonesia di mata dunia bisa rusak.

Rabu, 22/11/2017 07:39 0

Close