... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kini Aung San Suu Kyi Diboikot Publik yang Dulu Mengaguminya

Foto: Aung San Suu Kyii saat menerima nobel perdamaian. Saat berada di atas kursi kekuasaan, Suu Kyi tak bersuara atas diskriminasi dan genosida terhadap Muslim Rohingya.

KIBLAT.NET, Naypyidaw – Kegagalan Aung San Suu Kyi bersuara untuk mencegah dan menentang pembunuhan masal (baca: genosida) terhadap Muslim Rohingya sangat memperburuk reputasinya sebagai sebuah kekuatan demokrasi dan kebebasan.

Pemenang hadiah Nobel Perdamaian ini di masanya pernah dijamu oleh pemimpin-pemimpin dunia, termasuk para aktivis hak-hak sipil, bahkan musisi rock terkemuka yang menganggapnya sebagai ikon perlawanan damai terhadap kediktatoran para jenderal Myanmar.

Dan sekarang, dua tahun berlalu setelah kemenangan signifikan partainya, Liga Nasional Demokrasi, dalam pemilu terakhir telah menempatkannya sebagai pemimpin de facto di Myanmar. Saat berada di puncak karir politik, Suu Kyi dituding terlibat dalam kampanye pembunuhan massal dan perkosaan oleh militer Myanmar yang memicu sekitar 617.000 warga Muslim Rohingya mengungsi meninggalkan negaranya sejak akhir Agustus lalu.

Koran The Guardian pada hari Selasa (14/11/2017) menulis bahwa sejumlah organisasi hak asasi menyampaikan kepada salah satu komite DPR di Inggris bahwa Suu Kyi merupakan “bagian dari masalah” dan terlibat dalam “pembersihan etnis” yang tengah berlangsung di negara bagian Rakhine.

Sejak tindakan kejam dan brutal oleh militer di Rakhine mulai mencuat ke publik, orang-orang yang semula mendukung dan mengagumi Suu Kyi telah berubah sikap dan mencelanya karena Suu Kyi tidak mau mengutuk pihak militer. Bahkan banyak di antaranya menyerukan supaya hadiah Nobel Perdamaian yang diterimanya pada tahun 1991 ketika ia masih berstatus sebagai tahanan rumah junta militer itu dibatalkan.

BACA JUGA  Terbitkan Hasil Wawancara Dengan Pemberontak, Jurnalis Ini Malah Dikenai UU Anti-Terror

Musisi Irlandia Bob Geldof yang lama terlibat dalam advokasi hak-hak sipil, sekaligus juga penerima hadiah sejenis “Freedom of Dublin” telah mengembalikan hadiah dan penghargaan tersebut sebagai bentuk protes pada hari Senin (13/11/2017). Geldof yang menjuluki Suu Kyi sebagai “wanita genosida” itu mengaku, dirinya tidak mau diasosiasikan dengan hadiah yang juga diterima oleh Suu Kyi.

“Adanya hubungan antara Suu Kyi dengan kota (Dublin) ini sangat memalukan kita semua, dan seharusnya kita tidak berhubungan dengannya, meskipun tidak ada (pemenang) yang lain,” kata Geldof. “(Untuk apa) kita menghargai dia, dan sekarang dia membuat masalah dan mempermalukan kita semua,” imbuhnya geram.

Geldof yang menerima penghargaan pada tahun 2005 atau enam tahun setelah Aung San Kyi itu menambahkan, “Intinya, saya tidak ingin dikait-kaitkan apapun caranya dengan orang yang saat ini terlibat dalam upaya masif pembersihan etnis yang dilakukan terhadap masyarakat Rohingya di bagian barat laut Birma.”

Sumber: World Bulletin
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Saksi Fakta Sebut FB Jonru Kerap Digunakan untuk Aktivitas Sosial

Follower Jonru yang mencapai 1,4 juta orang dimanfaatkan untuk kegiatan sosial, yaitu pencarian dana bagi orang-orang tidak mampu ataupun pembangunan fasilitas umum yang rusak atau memerlukan bantuan.

Kamis, 16/11/2017 10:49 0

Indonesia

Soal Penghayat Kepercayaan, KH Ma’ruf: Kemenag Silahkan Dukung, MUI Tetap Menolak

"Silahkan Kementerian Agama Mendukung, MUI tetap menolak," ungkap KH Ma'ruf Amin saat ditemui wartawan di Gedung MUI Pusat, Jakarta pada Rabu (15/11/2017).

Kamis, 16/11/2017 10:15 0

Indonesia

MUI: Kepercayaan Bukan Agama

"Itu kesepatannya begitu, politiknya begitu. Maka kesepakatan itu juga berlangsung ketika menetapkan UU no 23. Di sana (dijelaskan) yang masuk identitas di KTP itu agama. Maka agama itulah yang menjadi identitas," ungkapnya kepada Kiblat.net pada Rabu (15/11/2017) di Gedung MUI Pusat, Jakarta.

Kamis, 16/11/2017 09:50 0

Indonesia

Amien Rais di Sidang Buni Yani: Kebatilan Akan Sirna

Mantan ketua MPR periode 1999-2004 ini menambahkan, umat Islam harus yakin dengan pertolongan Allah di tengah fitnah yang menerpa. Sebab dengan pertolongan Allah maka kebatilan itu akan sirna.

Kamis, 16/11/2017 09:23 0

Indonesia

Ketua MUI: Putusan MK soal Penghayat Kepercayaan Bisa Ditolak

"Final itu bukan berarti harus dilaksanakan," ungkap Kyai Ma'ruf Amin saat ditemui wartawan di Gedung Pusat MUI, Jakarta pada Rabu (15/11/2017).

Kamis, 16/11/2017 09:03 0

Indonesia

Gerindra: Infrastruktur Tak Meningkatkan Daya Beli Masyarakat

Wakil ketua umum Partai Gerindra, Ferry Juliantono menyebut dampak pembangunan infrastruktur tidak bisa langsung dirasakan oleh masyarakat

Rabu, 15/11/2017 22:07 0

Indonesia

Majelis Ormas Islam Kecam Serangan Rudal Pemberontak Hutsi ke Riyadh

Serangan pemberontak Syiah Hutsi dinilai sebagai upaya terstruktur menyerang kaum muslimin

Rabu, 15/11/2017 20:00 0

Indonesia

Polisi Diminta Tegas kepada KKB Papua Seperti Tangani Teroris

"Kita berharap polisi bisa cepat dan tegas menangani kelompok ini yang sudah jelas-jelas bersenjata, seperti polisi dengan cepatnya menangani dan melumpuhkan terduga teroris"

Rabu, 15/11/2017 18:48 0

Indonesia

Kementerian Agama Tergetkan Indonesia Jadi Tujuan Studi Islam Dunia

Kementerian Agama akan menggelar Pameran Pendidikan Islam Internasional dengan tujuan memperkenalkan Indonesia sebagai tujuan studi Islam

Rabu, 15/11/2017 17:50 0

Indonesia

Kejanggalan Kebakaran Mapolres Dharmasraya di Mata Pengamat Terorisme

Menurut pengamat terorisme Mustofa Nahrawardaya, peristiwa kebakaran Mapolres Dharmasraya hanyalah tindak kriminal biasa

Rabu, 15/11/2017 17:11 0

Close