... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Begini Pengamat Barat Memahami Konflik Arab Saudi dengan Negara Sekitar

Foto: Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz dan putranya, Muhammad.

KIBLAT.NET – Awal pekan ini, Menteri urusan Teluk Thamer al-Sabhan mengumumkan kondisi “perang” terhadap Lebanon pada Senin (06/11/2017). Pengumuman itu ditindaklanjuti dengan seruan agar warga Saudi di Lebanon meninggal negara yang didominasi Syiah Hizbullah itu. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, seberapa serius Kerajaan akan memerangi negara itu?

Tamara Wittes, peneliti senior di Pusat Kebijakan Timur Tengah di Brookings memberikan gambaran tentang bagaimana sifat konflik atau ketegangan yang melibatkan Arab Saudi dengan negara-negara tetangganya. Hal itu akan diklasifikasikan berdasasrkan masing-masing negara:

Iran

Ini adalah negara yang tepat untuk mulai gambaran, kata Wittes seperti dikutip dari The New York Times.

“Perhatian terbesar Arab Saudi di kawasan ini adalah meningkatnya dan meluasnya pengaruh Iran,” katanya. Ketika ditanya tentang tindakan militer Arab Saudi di Yaman, itu terang-terangan. “Semua yang dilakukan Arab Saudi di luar perbatasannya – dan beberapa tindakan di dalam perbatasannya – adalah tentang Iran,” kata Wittes.

Ketegangan yang perlu diingat dalam hal ini adalah mengenai dua denominasi Muslim besar, Sunni dan Syiah. Arab Saudi sangat Sunni, sementara Iran sangat Syiah.

“Orang-orang Saudi [percaya] bahwa orang-orang Iran menghasut perbedaan pendapat dan melakukan aktivitas di populasi Syiah di Arab Saudi,” kata Wittes.

“Di provinsi timur, Saudi telah terlibat dalam operasi keamanan di Qatif selama beberapa tahun hingga sekarang, mencoba untuk mengatasi kerusuhan reguler. Berapa banyak yang diproduksi di dalam negeri dan berapa banyak yang dipicu oleh Iran, saya tidak tahu. Tapi orang Saudi percaya bahwa ini adalah tindakan yang dilakukan oleh Iran.”

Arab Saudi adalah rumah bagi Mekkah, kota suci dimana umat Islam melakukan perjalanan di beberapa titik dalam kehidupan mereka, sebuah ibadah haji yang dilakukan oleh umat Islam dari seluruh dunia.  Itu adalah titik ketegangan yang lain.

“Orang-orang Iran terus-menerus menuduh bahwa Saudi mendiskriminasi atau menganiaya peziarah Syiah,” kata Wittes. “Para peziarah Syiah telah mengganggu orang-orang ketika mereka melakukan ritual Syiah sebagai bagian dari haji dan memuja situs-situs tertentu yang dianggap mulia oleh Syiah, di mana hal itu oleh Sunni dinilai sebagai pemujaan terhadap berhala. Jadi ada juga perselisihan dari sana. “

Itu adalah ketegangan di dalam perbatasan. Ketegangan di luar batas sebagian besar menyangkut pengaruh.

Protes warga Qatif atas eksekusi tokoh Syiah, Nimr al-Nimr

Lebanon

“Tidak benar terjadi ketegangan antara Arab Saudi dan Lebanon memiliki hubungan yang tegang,” kata Wittes, mengingat Lebanon tidak memiliki kebijakan luar negeri yang satu visi, karena tidak memiliki pemerintahan kesatuan. Untuk diketahui, kebijakan pemerintah Lebanon menetapkan bahwa Presiden berasal dari non-Muslim, Perdana Menteri dari Sunni dan parlemen dari Syiah.

Jadi, ketegangan di dalamnya adalah antara Arab Saudi dan Iran. “Sampai seminggu yang lalu, Perdana Menteri Lebanon adalah sekutu dekat Arab Saudi,” kata Wittes. Perdana menteri itu adalah Saad Hariri, putra mantan perdana menteri Rafiq al-Hariri. Hariri yang lebih muda mengundurkan diri Sabtu lalu, yang berarti bahwa Arab Saudi kehilangan sekutu dalam kekuasaan di negara tersebut.

“Iran memiliki pijakan utama di Lebanon melalui Hizbullah,” katanya, merujuk pada organisasi politik dan militer Syiah. “Untuk waktu yang lama, Arab Saudi bekerja untuk menyeimbangkan Iran di Lebanon melalui dukungannya, dari Hariris,” kata Wittes.

Tapi selama beberapa tahun terakhir ini, imbuhnya, orang Saudi mundur untuk terlibat dalam pemerintahan Lebanon. Mereka memotong bantuan untuk jangka waktu tertentu dan pada dasarnya meninggalkan Lebanon tanpa sebuah pemerintahan selama dua tahun, dalam artian meninggalkan [Saad] Hariri dalam kedinginan. Hariri kemudian memutuskan kesepakatan dengan Hizbullah untuk kembali berkuasa, di mana pemimpin Arab Saudi memintanya untuk mengundurkan diri.

“Mereka menarik keluar Hariri dari pemerintahan sehingga mereka bisa mengatakan, ‘Dengar, pemerintah ini dikendalikan oleh Hizbullah,’,” kata Wittes. “Dan sekarang mereka ingin bertarung tapi tidak memiliki pengaruh,” imbuhnya.

“Mereka meningkatkan ketegangan dengan Iran dan wakil Iran di Lebanon, bukan terhadap Lebanon itu sendiri. Wittes menggambarkan klaim sebuah negara hanya sebagai “retorika.”

Yaman

Yaman telah menjadi fokus perhatian militer AS sebagai basis operasi untuk al-Qaidah di Jazirah Arab (AQAP). Awal tahun ini, Navy SEAL William “Ryan” Owens tewas dalam operasi di Yaman, salah satu serangan pertama dari sejenisnya selama pemerintahan Presiden Trump.

Arab Saudi juga aktif di Yaman, memimpin sebuah koalisi negara-negara dengan harapan mempengaruhi hasil perang sipil di negara yang diprakarsai oleh faksi Syiah yang dikenal sebagai Hutsi.

Intervensi koalisi mencakup serangan udara dan pasukan darat, dengan ratusan korban di kedua sisi. Pekan lalu, sebuah rudal yang ditembakkan dari Yaman dicegat saat mendekati bandara di Riyadh; Tak lama kemudian, Arab Saudi mengintensifkan blokade pelabuhan Yaman.

Wittes mengatakan bahwa kepentingan Arab Saudi di sana juga tentang Iran. “Pemerintah Saudi telah lama menangani banyak pergolakan politik di Yaman di perbatasan selatan, termasuk ancaman AQAP,” katanya.

“Namun yang mendorong intervensi Saudi adalah perasaan bahwa orang-orang Iran semakin terlibat dalam mendukung pemberontak Hutsi di Yaman, dan mereka ingin campur tangan itu berkurang. Jika perlu sampai mendorong keluar pengaruh Iran tersebut.”

Pasukan koalisi Saudi

Qatar

Awal tahun ini, ketegangan antara Arab Saudi dan Qatar melonjak setelah sebuah pernyataan muncul di media Qatar yang dikaitkan dengan emir negara tersebut, Sheikh Tamim Bin Hamad al-Thani. Pernyataan itu memuji Hamas dan menyebut Iran sebagai “kekuatan Islam.”

Kemudian diketahui bahwa pernyataan itu dipalsukan dan ditempatkan di media Qatar oleh peretas dari Uni Emirat Arab, menurut intelijen AS. Meskipun demikian, Arab Saudi dan sekutunya (termasuk Mesir dan UEA) telah melakukan pemboikotan terhadap negara tersebut.

Lagi-lagi, ketegangan itu semakin dalam daripada yang terjadi tahun ini. “Ada argumen keluarga lama di negara-negara Arab Teluk, di mana pada dasarnya Qatar berada di satu sisi dan Saudi berada di sisi lain,” kata Wittes.

“Komponen Iran adalah Qatar yang berada di antara negara-negara teluk yang memiliki hubungan yang relatif terbuka dengan Iran,” Imbuhnya.

Tapi dalam kasus ini, Iran bukanlah isu utama. Isu utamanya menurut Wittes adalah; pertama, upaya orang Saudi untuk menekan Tamim, dan yang kedua, frustrasi dengan dukungan Qatar untuk Ikhwanul Muslimin – yang oleh Saudi dan Emiratis dilihat sebagai ancaman kekuatan mereka.

“Qataris berada di sisi gerakan maju yang telah memainkan peran dalam pemberontakan dan revolusi populer, dan Saudi dan Emirat berada di sisi kontrarevolusi,” katanya. “Itu menjadi perselisihan besar di sana.”

Bahrain

Di antara negara-negara yang mengalami pemberontakan populer adalah negara kecil Bahrain. Pulau-pulau di kepulauan Bahrain kebanyakan dihuni Syiah, namun negara ini dipimpin oleh sebuah kerajaan Sunni. Selama Musim Semi Arab tahun 2011, terjadi pemberontakan, dan pasukan Saudi membantu memadamkan kerusuhan tersebut. “Masih ada ketegangan “terus-menerus” di negara ini,” kata Wittes.

Mesir

Menurut Wittes, Mesir dulu adalah penyeimbang utama bagi Iran di wilayah tersebut. Mesir sendiri dihuni oleh mayoritas Sunni, dan sekitar seperlima orang Arab adalah orang Mesir. Tapi konflik di negara tersebut telah membatasi peran Mesir di wilayah tersebut, di mana perkembangan politik di Arab Saudi semakin meningkat.

“Orang-orang Saudi sangat kecewa dengan jatuhnya [Presiden] Husni Mubarak,” selama Musim Semi Arab,” kata Wittes. “Mereka sangat khawatir dengan kemenangan Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan bebas pertama di Mesir meningkatnya kandidat dari IM dalam perebutan kursi kepresidenan. Arab Saudi sangat mendukung kudeta yang menggulingkan [Mohamed] Morsi dan membawa [Abdel Fatah] al-Sisi berkuasa.”

Al-Sisi, kata Wittes, memiliki hubungan yang kuat dengan Arab Saudi. “Saudi telah menggelontorkan miliaran dolar agar ekonomi Mesir berhasil berkembang dan mendukung Al-Sisi,” tambahnya.

Raja Salman dan Abdel Fattah al-Sisi.

Raja Salman dan Abdel Fattah al-Sisi.

Suriah

Konflik militer yang paling dominan berada di wilayah Suriah, di mana Iran kembali berusaha memperluas pengaruhnya. “Di tingkat retoris dan pada tingkat pembiayaan swasta, banyak uang mengalir dari Arab Saudi ke milisi oposisi, milisi Sunni bertempur melawan [Presiden Bashar] al-Assad,” kata Wittes.

Revolusi di Suriah muncul bersamaan dengan ketegangan di Bahrain, yang mendorong Arab Saudi untuk menyoroti keretakan Sunni-Syiah saat bermain dalam konflik Suriah. Sebagai pertarungan terfragmentasi dari waktu ke waktu, dengan beberapa kelompok yang mengkategorikannya dengan kelompok teroris dan satu sama lain, negara tersebut mundur.

Israel

Salah satu hubungan yang paling menarik adalah antara Arab Saudi dan Israel. “Saya akan mengatakan itu semacam aliansi (berdasarkan) kepentingan,” kata Wittes, dengan menyebutnya terkait dengan Iran.

“Orang-orang Saudi dan Israel memiliki musuh bersama di Iran dan ancaman yang sama,” kata Wittes. “Mereka berdua melihat ekspansionisme Iran di kawasan ini dan keduanya melihatnya sebagai masalah eksistensial bagi mereka.” Hal itu diwujudkan dalam beberapa cara. Termasuk, baru-baru ini, sebuah desakan secara diam-diam oleh diplomat Israel untuk mendukung upaya Arab Saudi di Lebanon.

Arab Saudi dan Israel juga prihatin dengan kemunduran pengaruh AS di kawasan ini, yang terasa ketika Barack Obama menjadi presiden dan berlanjut dengan Trump di Gedung Putih. Kedua negara memiliki kepentingan membawa AS memiliki peran yang lebih menonjol di kawasan ini.

Dari penjelasan Wittes dapat disimpulkan dua tema besar yang ia angkat mengenai ketegangan hubungan Saudi dengan negara-negara tetangga. Pertama, bahwa hubungan Saudi-Iran menjadi arus utama yang berhubungan dengan berita-berita terbaru yang muncul belakangan ini. Kedua, berkenaan dengan seluk beluk politik Saudi, yang menuntut pemahaman mendalam dan menyeluruh daripada yang telah dipahami sejauh ini.

Sumber: NY Times
Redaktur: Ibas Fuadi

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Khutbah Jumat : Sunnah- Sunnah Kecil, Berpahala Besar – Ust. Hasan Al Mubarok

KIBLAT.NET – Ada sunnah-sunnah yang sangat kecil dan mudah dilakukan namun jika dilaksanakan akan berpahala...

Jum'at, 10/11/2017 15:05 0

Indonesia

Ulama Garut: Siapapun Berdakwah sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah Harusnya Diterima

Tokoh agama Garut, KH. Abdul Halim menyesalkan adanya penolakan PCNU Garut atas tabligh akbar yang akan diisi oleh Ustadz Bachtiar Nasir dan KH. Ahmad Shabri Lubis. Menurutnya, PCNU tidak punya kewenangan untuk melakukan penolakan.

Jum'at, 10/11/2017 14:16 0

Afghanistan

Laporan Korban Sipil Akibat Invasi AS di Afghanistan Terus Bermunculan

Selama akhir pekan, serangan udara AS di Provinsi Kunduz, Afghanistan dilaporkan telah membunuh 14 warga sipil, termasuk empat anak. AS dengan cepat membantah bahwa insiden tersebut tidak pernah terjadi berdasarkan penyelidikan mereka.

Jum'at, 10/11/2017 13:10 0

Arab Saudi

200 Orang Lebih Diinterogasi terkait Kasus Korupsi Pangeran Saudi

Menyusul penangkapan sejumlah pangeran dan pejabat tinggi Arab Saudi terkait korupsi, 201 orang diperiksa dalam kasus tersebut.

Jum'at, 10/11/2017 11:39 0

Indonesia

Pemuda Pancasila Garut Sambut Baik Tabligh Akbar UBN dan Ketua FPI

Bambang mengaku sangat menyayangkan adanya penolakan terhadap ustadz yang disapa UBN itu oleh sejumlah pihak. Padahal, isi ceramah yang akan disampaikan belum diketahui. Ia menegaskan dalam Islam tidak boleh sikap suudzon (buruk sangka.Red).

Jum'at, 10/11/2017 11:08 2

Rusia

Bangunan Dinas Intelijen Asing Rusia Terbakar, 3 Tewas

Tiga orang dilaporkan tewas setelah kebakaran melanda sebuah gedung yang digunakan oleh Dinas Intelijen Asing Rusia di Moskow pada Rabu (08/11/2017).

Jum'at, 10/11/2017 10:22 0

Indonesia

Panitia Tabligh Akbar: 5.000 Umat Islam Sudah Tiba di Garut

Setelah mendapat penolakan dari ormas tertentu, tabligh akbar Ustadz Bachtiar Nasir dan KH. Ahmad Sobri Lubis di Garut justru menyedot perhatian umat Islam. Hal itu terbukti dari banyaknya umat Islam dari luar Kota Dodol itu.

Jum'at, 10/11/2017 09:53 0

Indonesia

Tabligh Akbar UBN di Garut Tetap Berjalan seperti Jadwal

"Alhamdulillah, tablig akbar berjalan seperti yang direncanakan dari awal. Karena DKM Masjid Agung Garut tidak keberatan dengan diadakannya tabligh akbar," kata sekertaris panitia, Ivan Rivanora, kepada Kiblat.net Jumat (10/11).

Jum'at, 10/11/2017 09:36 0

Amerika

AS Akan Genjot Penjualan Senjata ke Negara Sekutu

“Penjualan militer untuk asing sangat penting karena beberapa sebab, di antaranya membangun kemampuan atas dasar kemitraan. Ini adalah alat nyata bagi kita dalam hubungan internasional," ujar Lourd.

Jum'at, 10/11/2017 09:22 0

Suriah

Laporan: 3.607 Warga Palestina Terbunuh di Suriah di 2017

Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Rabu lalu (8/11), kelompok tersebut mengatakan bahwa di antara korban itu, 462 wanita. Mereka tewas di tangan pihak-pihak yang berkonflik di Suriah, khususnya rezim Bashar Assad.

Jum'at, 10/11/2017 08:00 0