... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Intrik Politik di Balik Drama Penangkapan Para Pangeran Saudi

Foto: intrik politik Pangeran MBS, Muhammad bin Salman

KIBLAT.NET – Sabtu, 4 November 2017, dunia Islam dan Timur Tengah dibuat geger. Terjadi peristiwa langka ketika PM Lebanon Saad Hariri mengundurkan diri dan disusul dengan pemecatan dan penangkapan puluhan menteri, anggota kerajaan, pejabat pemerintah dan perwira tinggi militer di Arab Saudi.

Rentetan ini dimulai dengan pengunduran diri Perdana Menteri Lebanon Saad Hariri. Upaya ini merupakan langkah yang diatur dengan jelas oleh sang dalang yang berada di Riyadh.

Hariri mengumumkan pengunduran dirinya di sebuah saluran milik Saudi, dari ibu kota Saudi, bukan dari Lebanon. Ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai protes atas intervensi Iran dalam urusan dalam negeri Lebanon. Ironisnya, Hariri juga tak punya independensi. Alasan yang ia sampaikan di depan televisi, saat dia menyebut nama almarhum ayahnya, adalah bahwa dia terancam dibunuh.

Memasuki malam hari, ada laporan tentang ledakan yang meledak dekat Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh. Kemudian, terungkap bahwa pemberontak Syiah Houthi (yang terkait dengan Iran dan bersekutu dengan mantan presiden Ali Abdullah Saleh, yang sebagian terkait dengan Uni Emirat Arab) telah menembakkan setidaknya satu rudal balistik dari Yaman ke Riyadh. Ini memberi sebuah pernyataan tegas bahwa perang di Yaman masih jauh dari selesai. Meskipun, sudah lebih dua tahun Arab Saudi meluncurkan operasi “Decisive Storm”.

Seiring waktu beringsut hingga menuju tengah malam, bom lain dijatuhkan. Kali ini, dilakukan oleh pejabat Saudi: muncul sebuah dekrit kerajaan yang memerintahkan penangkapan beberapa pangeran, milyarder, dan tokoh-tokoh penting, juga pemecatan pejabat pemerintah senior. Beberapa adalah putra almarhum Raja Abdullah. Salah satunya adalah kepala Garda Nasional Saudi.

Ketiga perkembangan ini akan memiliki implikasi seismik dan menimbulkan goncangan besar, tidak hanya di Arab Saudi, tapi juga di wilayah dan sekitarnya.

Pengunduran diri Hariri, atau dengan bahasa lain pemecatan yang dilakukan oleh sponsor Saudi-nya, akan membunyikan alarm untuk pemerintah manapun yang tidak ingin melihat perang lain meletus di wilayah tersebut.

Banyak obrolan yang melibatkan Israel. Bukan rahasia lagi bahwa Israel telah melakukan latihan militer di bagian utara selama beberapa bulan ini. Sementara Hizbullah telah sibuk membantu menopang rezim Assad di Damaskus, Tel Aviv telah mengembangkan sistem pertahanan rudalnya. Cepat atau lambat, sistem rudal itu akan teruji dalam skenario kehidupan nyata.

Memaksa Hariri untuk mundur dari pemerintah akan membantu Israel membingkai opini bahwa agresi apapun terhadap Lebanon merupakan serangan terhadap proxy Iran. Dengan Gaza yang dinetralkan secara politis untuk saat ini, setelah penyerahan hak Hamas kepada Otoritas Palestina, Israel dapat dengan baik melihat ini sebagai waktu yang tepat untuk menyerang Lebanon. Serangan semacam itu juga akan memberi kesempatan sempurna bagi Barat untuk menguji kesetiaan pemimpin “moderat” Saudi yang baru.

Di Yaman, perang tersebut telah merugikan ekonomi Saudi hingga ratusan juta dolar. Perang ini diluncurkan oleh Putra Mahkota Mohammed Bin Salman untuk memulihkan pemerintahan Sanaa dan menggagalkan upaya dominasi Iran. Namun, Operasi Decisive Storm telah membunuh ribuan orang yang tidak bersalah, menggusur jutaan orang, dan membantu posisi Teheran sebagai pembela orang-orang tertindas di Timur Tengah.

Yang tidak begitu jelas adalah motif di balik penangkapan massal dan pemecatan yang terjadi pada dini hari Ahad pagi. Meleserkan posisi kepala Garda Nasional dan pesaingnya dari tahta kekuasaan adalah permainan yang jelas untuk mengkonsolidasikan kekuasaan oleh Bin Salman.

Namun yang lebih membingungkan adalah penahanan pangeran milyarder Alwaleed Bin Talal. Di atas kertas, Bin Talal dan Bin Salman adalah pertandingan yang dibuat di surga: Keduanya ingin mengubah Arab Saudi menjadi masyarakat “sekuler”, keduanya membenci gagasan demokrasi dan liberalisme, dan keduanya sama-sama bersedia menyerahkan kekayaan dan kedaulatan kerajaan ke Amerika Serikat.

Menurut sumber terpercaya dari mantan orang dekat yang pernah bekerja untuk pangeran milyarder. Dia mengatakan bahwa alasan yang mungkin untuk penahanannya adalah penolakan Alwaleed untuk mengumpulkan uang guna membantu ekonomi Saudi yang menurun drastis. Pesan dari Bin Salman kepada para elit kaya negara itu adalah: Bayar atau Penjara!

Berikut ini rangkuman dari penangkapan sejumlah pangeran Saudi pada akhir pekan lalu:

Baca halaman selanjutnya: Apa yang sebenarnya terjadi?...

Halaman Selanjutnya 1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Yang Pasti Bukan di Lantai Tujuh

Dalam perjalanan dakwahnya, Rasulullah SAW kerapn menjanjikan satu hal; yaitu surga. Ketika menyaksikan keluarga Yasir yang disiksa oleh kafir Quraisy, beliau hanya bisa berkata, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir!

Senin, 06/11/2017 15:00 0

Indonesia

Askar Kauny Cetak 130 Duta Guru Tahfizh untuk Nusantara

Perhelatan akbar Askar Kauny bertajuk "Pelatihan Duta Guru Tahfizh se-Nusantara" resmi digelar. Bertempat di Cakrawala Nuansa Nirwana, Bogor Tak kurang dari 130 guru tahfizh dilatih metode MASTER (Menghafal Alquran semudah Tersenyum) secara intensif mulai hari ini, Senin (06/11/2017) hingga Rabu (08/11/2017) mendatang.

Senin, 06/11/2017 14:31 0

Arab Saudi

Pangeran Saudi Terbunuh dalam Kecelakaan Helikopter di Perbatasan Yaman

Pangeran Saudi Mansour bin Muqrin bersama sejumlah pejabat provinsi dilaporkan terbunuh dalam sebuah kecelakaan helikopter. Kecelakaan itu terjadi dekat perbatasan kerajaan dengan Yaman.

Senin, 06/11/2017 14:09 0

Arab Saudi

Bin Salman Tangkap Pangeran dan Menteri Saudi atas Dugaan Korupsi

Penangkapan massal itu berdasarkan perintah dari komisi anti-korupsi yang terbentuk beberapa jam sebelumnya atas perintah Putra Mahkota Muhammed bin Salman.

Senin, 06/11/2017 13:49 0

Amerika

Pelaku Penembakan Gereja di Texas Seorang Pengajar Bibel

Pelaku penembakan massal saat misa di sebuah gereja di Texas pada Ahad (05/11/2017) siang diidentifikasi sebagai Devin Patrick Kelley (26 th). Kelley adalah pengajar ilmu bibel yang dipecat secara tidak hormat dari Angkatan Udara AS.

Senin, 06/11/2017 13:00 1

Indonesia

Pengamat: Siaga 1 Papua Harus Diikuti Peningkatan Keamanan dan Tindakan

"Harus ada peningkatan pengamanan, dan harus ada upaya kualitas tindakan. Kalau tidak, maka pengumuman siaga 1 itu jelas tidak efektif. Sia-sia saja. Para pelaku tidak takut oleh pengumuman, jika tanpa perubahan sistem yang nyata," tukasnya.

Senin, 06/11/2017 12:22 0

Indonesia

Zulkifli Hasan: Salah Paham Jika Taat Beragama Dinilai Anti-NKRI

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan mengungkapkan, bahwa saat ini bangsa Indonesia dikepung banyak salah paham, atau bisa disebut juga paham yang salah.

Senin, 06/11/2017 11:36 0

Amerika

Penembakan Massal di Gereja Texas, 26 Orang Tewas

Sedikitnya 26 orang tewas dan 20 lainnya luka-luka dalam sebuah penembakan massal di dalam sebuah gereja di Sutherland Springs, Texas. Penembakan tersebut terjadi pada hari Ahad (05/11/2017) di First Baptist Church di Wilson County pada pukul 11:00 waktu setempat.

Senin, 06/11/2017 10:47 0

Video Kajian

Tadzkirah : Larangan Bukan untuk Merampas Kemerdekaan

KIBLAT.NET – Kenapa Allah meciptakan sebuah larangan ? Untuk apakah sebenarnya tujuan sebuah larangan ?...

Senin, 06/11/2017 10:38 0

Artikel

Zakat Profesi Sesuai Fatwa Majelis Ulama Indonesia

Zakat profesi (maal mustafad) ini bukan bahasan baru, para ulama fikih sudah menjelaskan di kitab-kitab klasik, di antaranya adalah kitab al-Muhalla (Ibnu Hazm), al-Mughni (Ibnu Quddamah), Nail al-Athar (asy-Syaukani), maupun di kitab Subul as-Salam (ash-Shan’ani).

Senin, 06/11/2017 10:16 0