Fakta di Balik Alexis (Bag:1): Gedung ‘Surga’ yang Minim Fasilitas

KIBLAT.NET, Jakarta- Pengendara yang melintasi Jalan R.E Martadinata biasanya tak asing bila melihat tulisan “Alexis” terpampang di sudut atas maupun di depan Hotel dan Griya Pijat Alexis di Ancol, Jakarta Utara. Namun penampakan berbeda justru terlihat sejak Selasa (31/10) siang. Kain hitam tampak menutupi tulisan dan logo hotel yang menyerupai wanita berbaring itu.

Hari itu menandakan habisnya masa izin operasi Hotel dan Griya Pijat Alexis, yang dilaporkan menjalankan ‘bisnis esek-esek’. Pemprov DKI Jakarta tegas menolak perpanjangan izin yang telah diajukan pihak hotel. Lantas, operasi Alexis resmi dinyatakan terlarang.

Dijaga Ketat, Wartawan Langsung Diarahkan ke Lantai 2

Di hari itu pula, pihak Alexis menggelar konferensi pers yang dihadiri oleh berbagai media, termasuk Kiblat.net. Acara yang dijanjikan dimulai pukul 10.00 WIB, ternyata molor hingga pukul 11.00 WIB. Alhasil, para wartawan banyak yang menunggu di emperan hotel.

Memasuki lobby hotel, dua satpam bertubuh tegap, besar berdiri sembari memeriksa seluruh rombongan awak media. Usai mengisi absen kehadiran, satpam pun mulai melirik tas-tas kami untuk diperiksa, baik menggunakan metal detector hingga penggeledahan isinya.

Selain itu, di lobby hotel juga terlihat seorang wanita dengan rambut diikat berjaga di meja resepsionis besar yang dibuat dari batu marmer. Di depan meja, ada pula seorang security menggunakan baju berwarna hitam. Si security lantas mengarahkan kami untuk segera memasuki lift menuju lokasi konferensi pers, yaitu lantai 2.

BACA JUGA  Dugaan Penipuan hingga UU ITE, Yusuf Mansur Bakal Dilaporkan Polisi

Orkestra bernuansa Chineese mengiringi antrian kami di lift, yang ternyata berada di belakang meja resepsionis. Di depan lift, sudah menunggu pula seorang security yang siap menekan tombol menuju lantai dua.

Suasana di lift hotel agaknya terasa berbeda. Background lift berupa gambar minuman bir bermerek ‘Rebel’ berwarna keemasan. Selain itu, tercium pula bau dupa, seperti di pertokoan atau tempat usaha milik orang-orang Tionghoa.

Tak butuh waktu lama untuk segera ‘mendarat’ di lantai dua. Di depan lift, rupanya sudah menunggu lagi seorang security yang mengarahkan kami ke ruangan yang berada di kiri lift, tempat dilangsungkannya konferensi pers. Waktu itu pukul 10.25 WIB, sudah ramai wartawan menunggu di ruangan temaram itu.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat