... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Zuhud, Modal Awal Istiqomah dalam Perjuangan

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Ketika Bani Ubaid (Fathimiyah) menguasai negeri Nabi Musa, mereka memaksa para ulama mengikuti aqidah Syiah Bathiniyah yang mereka anut. Siapa yang menolak akan berakhir pada berpisahnya antara jasad dan nyawa.

Sebagian ulama Sunni menyelamatkan diri dari Mesir, sebagian ada yang bersembunyi dan ada pula yang bertahan. Salah satu yang bertahan dan tegak menentang kezaliman adalah Abu Bakar An-Nabulsi.

An-Nabulsi tegas mengatakan kepada penguasa Bani Ubaid, “Jika saya punya sepuluh tombak, saya akan melempar satu ke Roma, dan sembilan lainnya ke arah Fatimiyah.”

Ulama dari madzab Syafi’i itu pun ditangkap dan dibawa menghadap Al-Mu’iz li-Dinillah, pemimpin Bani Ubaid. Al-Mu’iz berkata kepada An-Nabulsi, “Saya mendapat info bahwa kau berkata jika seorang memiliki sepuluh tombak, maka ia harus melempar satu ke Roma, dan sembilan sisanya kepada kami!”

An-Nabulsi berkata, “Saya tidak mengatakan itu.”

Penguasa Bani Ubaid ini tersenyum, ia menganggap imam akan menarik kembali pernyataannya. Lalu ia bertanya:

“Lantas, apa yang kau katakan?”

An-Nabulsi menjawabnya dengan penuh keberanian, “Jika seseorang memiliki sepuluh tombak, maka dia harus melempar sembilan tombak kepadamu dan yang kesepuluh juga kepadamu!!!”

Al-Mu’iz terkejut dan bertanya, “Mengapa begitu?”

Lalu, An-Nabulsi menjawab dengan berani, “Sebab, kau telah mengubah agama Ummah. Kau membunuh orang-orang saleh. Kau mengusir ulama, cahaya Ilahi. Dan kau merebut apa yang bukan milikmu.”

Penguasa Fatimiyah tersebut lalu memerintahkan penjaga membawa An-Nabulsi ke depan publik. Keesokan harinya, ia dicambuk dengan hebat. Pada hari ketiga, An-Nabulsi dipaku dan disalib, kemudian tukang daging Yahudi dibawa untuk menguliti dagingnya –karena tukang daging Muslim menolak untuk melakukannya. Pada saat daging itu dikupas dari atas kepala ke wajahnya, beliau masih mengingat Allah dan mengulang-ulang ayat

Al-Qur’an, “… Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)” (QS. Al-Isra’: 58)

Kisah ini disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa Nihayah (11/132).

Rahasia Keistiqomahan An-Nabulsi

Mengapa An-Nabulsi begitu tegar dan berani menghadapi kedzaliman? Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan pandangannya secara singkat terhadap An-Nabulsi, “Dia adalah seorang yang zuhud, ahli ibadah, wara’ yang selalu berkorban di jalan Allah.”

Tiga modal yang dimiliki An-Nabulsi yaitu zuhud, ahli ibadah dan wara’. Ketiga sikap ini mendarah daging di dalam jiwanya sehingga menghasilkan keberanian yang luar biasa menerjang kematian demi tegaknya kebenaran. Salah satu sikapnya yang perlu diteladani adalah zuhud.

Zuhud

Seorang zahid (orang yang zuhud) adalah seseorang yang tidak terlalu berharap dengan dunia. Kampung akhirat adalah tujuan utamanya dan kemuliaan sebenarnya. Segala macam musibah dan deraan di dunia bukanlah suatu hal yang penting baginya dan tidak ia pedulikan. Sebab, baginya, bahagia dan derita dunia adalah fana, akan sirna ditelan masa.

Dalam Madarijus Salikin (2/13). Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, “Seseorang yang zahid tidak akan bergembira dengan dunia yang ia dapatkan, juga tidak akan bersedih atas dunia yang hilang darinya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya dalam surat Al-Hadid : 23.”

Seorang zahid memandang dunia sebagai suatu hal yang kecil semata. Baginya dunia adalah sarana untuk menuju akhirat. Maka, ketika dia dihadapkan suatu hal yang bertujuan akhirat dengan mengorbankan dunia, dia tidak akan berpikir dua kali untuk itu. Justru hal itu ia lakukan dengan sepenuh hati untuk mendapatkan keutamaan di akhirat.

Seperti yang diperagakan An-Nabulsi. Ketika nyawanya harus dikorbankan demi tegaknya kebenaran, maka ia tidak gentar sedikitpun. Bahkan dengan kepala tegak menentang. Subhanallah…

Sikap mulia ini pun telah diperagakan para pendahulu kita. Para shahabat adalah orang yang rela mengorbankan segalanya untuk kejayaan Islam. Masyarakat didikan Nabi ini benar-benar memperlihatkan sikap yang mulia dan patut diteladani umat setelahnya. Sosok-sosok kaya raya seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Shuhaib Ar-Rumi, Abu Darda’ dan lainnya adalah orang yang bergelimang harta. Tetapi mereka menjadikan dunia berada di genggaman tangan bukan hati. Jadi, manakala ada seruan untuk berjihad harta, mereka akan membuka genggamannya selebar-lebarnya demi kemaslahatan kaum muslimin.

Maka dari itu, banyak para ulama menulis pembahasan khusus tentang zuhud dalam karya-karya mereka. Pembahasan ini terpisah dari kajian-kajian akhlak lainnya. Misalnya Abdullah bin Mubarak menulis kitab Az-Zuhdu wa Ar-Raqaiq. Al-Mu’affiy Al-Mushuliy menulis kitab Az-Zuhdu. Demikian juga para imam lainnya seperti Imam Waki’, Asad bin Musa, Ahmad bin Hambal, Hanad As-Sirri, Abu Dawud, Abu Hatim dan Imam Ibnu Abi Dunya. Ini membuktikan bahwa sikap zuhud adalah sikap yang mulia dan dari sini lahir jiwa-jiwa patriot yang rela berkorban demi keridhaan-Nya.

Syarat Zuhud

Selain mampu meyakinkan diri bahwa semua perkara dunia adalah fana dan hina serta berpaling darinya, untuk mencapai derajat zuhud ada syarat-syaratnya.

Abu Zakariya Yahya bin Muadz Ar-Razi, salah satu ulama ahlu sunnah wal jamaah yang hidup pada abad ke-3 H menyebutkan ada tiga syarat zuhud. Tokoh yang disebut sebagai seorang juru nasihat oleh Imam Adz-Dzahabi ini mengatakan, “Seseorang tidak akan mencapai hakikat zuhud sampai dalam dirinya terdapat tiga hal :

  1. Beramal tanpa terikat tujuan duniawi
  2. Berucap tanpa berharap apapun (selain pahala dari Allah)
  3. Mencari kemuliaan (Untuk akhirat), bukan untuk jabatan dunia.

Hasan Al-Basri menambahkan syarat zuhud, hendaklah kita percaya dan yakin sepenuhnya kepada balasan Allah. Sehingga tidak pernah terbetik dalam hati untuk berharap kepada selain Allah.

Dapat dipastikan bahwa jika seseorang sudah mencapai derajat zuhud maka ia telah memiliki ketegaran sebagaimana An-Nabulsi. Orang yang zuhud adalah orang yang tidak lagi mengharap apapun dari manusia, harapannya hanya ia gantungkan pada Dzat yang Maha Kuasa, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلا شُكُورًا

“Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 9)

Wallahu A’lam bi shawab 

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Diinisiasi dari Majalah An-Najah edisi Dzulhijjah 1437 H/September 2016 M

 

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

KAMMI Bali Gelar Diskusi Kebangsaan ‘Pemuda Siaga Indonesia Berjaya’

Dalam rangka Hari Sumpah Pemuda ke-89, Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KA KAMMI) Wilayah Bali mengadakan diskusi kebangsaan bertema “Pemuda Siaga Indonesia Berjaya” pada Sabtu (28/2017).

Senin, 30/10/2017 13:19 0

Indonesia

DSKS: Perppu Ormas Menzalimi Umat Islam

Ketua umum Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Dr. Muinuddinillah Basri menyebut Perppu Ormas bentuk kezaliman penguasa kepada kaum muslimin

Senin, 30/10/2017 13:10 0

Indonesia

Ikhtiar Perbaiki Negeri, Formasalam Dideklarasikan

Melihat kondisi saat ini yang telah jatuh ke dalam krisis nasional, sehingga negeri ini sudah jauh bergeser dari Khittah para pendiri negeri ini, sebuah organisasi mahasiswa dideklarasikan pada Sabtu, (28/10).

Senin, 30/10/2017 12:47 0

Afrika

Presiden Al-Bashir: Proyek Islam di Sudan Telah Berhasil

"Proyek Islam di Sudan telah berhasil yang ditandai dengan penyebaran masjid dan meningkatnya jumlah pemuda yang mendatanginya," kata Al-Bashir.

Senin, 30/10/2017 12:15 0

Suriah

Perundingan Astana Ketujuh, Ini 5 Hal Pokok yang Harus Diketahui

Pertemuan ini disebut-sebut untuk menyerukan penghentian serangan antara kelompok oposisi dan pasukan yang berperang atas nama Presiden Bashar Assad untuk jangka waktu setidaknya enam bulan.

Senin, 30/10/2017 11:11 0

Libya

Khalifa Haftar Diselidiki atas Penemuan Puluhan Mayat di Bengazhi

Khalifa Haftar, yang menguasai Libya timur, diselidiki atas penemuan 36 mayat tak dikenal di daerah sebelah timur Benghazi. Mayat tersebut menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan luka peluru di kepala.

Senin, 30/10/2017 10:22 0

Video Kajian

Jadi Tahu : Bolehkah Perempuan Memakai Perfume ?

KIBLAT.NET – Parfume pada saat ini sudah menjadi barang yang tak bisa lepas dari kehidupan...

Senin, 30/10/2017 09:37 0

Indonesia

Sumpah Pemuda, Tantangan Saat Ini Ketidakadilan dan Ketimpangan

Momen Sumpah Pemuda menjadi memori pengingat akan peran pemuda dalam memajukan bangsa dan negara. Sebagai evaluasi, Wakil DPR RI, Fadli Zon menyoroti persoalan ketimpangan dan ketidakadilan Pemerintah.

Senin, 30/10/2017 08:40 0

Indonesia

Dua Mahasiswa BEM-SI Tidak Jadi Ditahan

Dua mahasiswa BEM-SI yang diperiksa di Polda Metro Jaya tidak jadi ditahan. Kendati demikian, Wildan Wahyu Nugroho dan Panji Laksono masih berstatus tersangka.

Senin, 30/10/2017 08:18 0

Amerika

Beli Sistem Rudal S-400 Rusia, Turki Tuai Ancaman NATO

Sejak Turki membeli S-400 dari Rusia, awalnya pihak NATO hanya menyampaikan komplain bahwa sistem pertahanan buatan Rusia itu tidak kompatibel dengan sistem pertahanan udara NATO.

Senin, 30/10/2017 05:49 0