... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Menunda Penegakan Syariat Demi Mensejahterakan Rakyat?

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Perjuangan menegakkan syariat agar tegak secara kaffah hingga kini masih menjadi PR yang harus diselesaikan bersama. Upaya menjadikan Islam sebagai landasan hidup dalam segala aspek kehidupan memang tidak bisa dibilang mudah. Tantangan yang dihadapi cukup kompleks. Tidak hanya dari rangkaian aksi yang lancarkan musuh Islam, namun terkadang penolakkan terhadap penegakkan syariat justru muncul dari kalangan masyarakat yang ber-KTP Islam.

Bentuk perlawanannya pun cukup beragam, mulai dari cara yang kasar hingga syubhat yang halus. Salah satu bentuk penolakan halus terhadap penegakkan syariat misalnya didasarkan kepada dalil tadarruj, yaitu segala sesuatu harus dimulai dengan cara bertahap. Syariat tidak boleh diterapkan sekaligus namun perlu bertahap.

Di antara alasan tadarruj adalah guna meyakinkan masyarakat awam. Oleh karena itu penegakkan syariat harus didahului dengan cara menghadirkan kesejahteraan hidup di tengah-tengah mereka. Menciptakan kedamaian, mewujudkan keadilan memberantas kemiskinan dan sebagainya. Harapannya, dengan sikap dan efek positif yang nyata seperti itu, masyarakat akan mudah menerima tawaran penegakkan syariat. Ringkasnya, Wujudkanlah kesejahteraan di tengah-tengah  masyarakat, lalu baru terapkan syariat!

Pada dasarnya tadarruj dalam menegakkan Islam merupakan sunnah kauniyah Allah SWT. Hal itu dapat disimpulkan dari proses diturunkannya Al-Quran secara bertahap. Namun, sunnah tadarruj seringkali dijadikan alasan oleh sebagian pihak untuk tidak menerapkan Islam dan mengakomodir nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam. Sebetulnya dalam hal ini para aktivis dituntut kejujurannya dalam memperjuangkan Islam.

Sekilas argumentasi tersebut memang terlihat logis dan cocok untuk diterapkan. Sebab, penegakkan syariat harus dimulai dengan kesadaran bukan pemaksaan. Dan upaya menghadirkan kesejahteraan merupakan cara yang efektif untuk menaklukkan hati masyarakat agar menerima penegakkan syariat. Tapi pertanyaannya adalah mungkinkah kesejahteraan hakiki itu bisa diwujudkan jika di tengah-tengah masyarakat tidak diterapkan syariat Islam? Adakah panduan hukum yang bisa menjanjikan kesejahteraan hidup masyarakat selain hukum Allah? Di mana hukum yang lebih adil daripada hukum Allah?

Konsep Sejahtera, Antara Kaum Materialis dan Islamis

Dalam kamus lengkap KBBI disebutkan Kesejahteraan ialah berasal dari kata dasar sejahtera: aman sentosa dan ‎makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Kesejahteraan: hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ‎ketenteraman, kesenangan hidup, dan sebagainya; kemakmuran.

Lebih jelas lagi, dalam ‎Mu’jam Musthalahâtu al-‘Ulûm al-Ijtimâ’iyyah dijelaskan, “Kesejahteraan adalah kondisi yang menghendaki ‎terpenuhimya kebutuhan dasar bagi individu atau kelompok baik berupa ‎kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, sedangkan lawan dari ‎kesejahteraan adalah kesedihan (bencana) kehidupan,” (Ahmad Zaki Badawi, Mu’jam Mushthalahâtu al-‘Ulûm al-Ijtimâ’iyyah, hal: 445)

Definisi di atas menunjukkan kepada kita bahwa yang disebut masyarakat sejahtera ialah masyarakat yang bisa merasakan hidup aman sentosa serta mampu memenuhi kebutuhannya, baik yang primer, ‎sekunder, maupun kebutuhan tersier. Lalu kemudian manusia sering berbeda dalam menentukan ukuran seseorang atau sebuah masyarakat bisa disebut sejahtera. Semua perbedaan tersebut sangat bergantung pada latar belakang ideologi atau pandangan hidup seseorang.

Bagi seorang materialis, kesejahteraan selalu diukur dengan nilai material. Seringkali kepemilikan barang mewah menjadi standar ukuran dalam memposisikan kesejahteraan seseorang. Semakin banyak barang mewah yang dimiliki maka semakin tinggi pula tingkat kesejahteraannya, begitu pun sebaliknya. Sementara aspek moral, etika dan spiritual itu tidak terpeduli sama sekali. Maka yang terjadi walaupun pertumbuhan ekonominya bagus dan pembangunan infrastrukturnya pesat, tapi hubungan sosial antar sesama tidak bisa terjalin dengan baik.

Sangat berlawanan dengan konsep Islam. Kesejahteraan dalam pandangan Islam tidak hanya dinilai dengan ukuran material saja, tetapi juga dinilai dengan ukuran non-material; seperti terpenuhinya kebutuhan spiritual, terjaganya nilai-nilai syariat, terpeliharanya nilai-nilai moral, dan terwujudnya keharmonisan sosial.

Sehingga dalam pandangan Islam, masyarakat dikatakan sejahtera bila terpenuhi dua kriteria: Pertama, terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat; baik pangan, sandang, papan, pendidikan, maupun kesehatannya. Kedua, terjaga dan terlidunginya agama, harta, jiwa, akal, dan kehormatan manusia. Dengan demikian, kesejahteraan tidak hanya buah dari sistem ekonomi semata; melainkan juga buah sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial yang terarah sesuai dengan bingkai syariat.

Singkatnya, kesejahteraan hidup dalam pandangan Islam adalah ketika kebutuhan hidupnya tercukupi dan bebas mengamalkan syariat secara kaffah. Bahkan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri menyatakan:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang di pagi hari merasakan keamanan pada diri dan keluarganya, sehat badannya dan memiliki makanan yang cukup untuk hari itu, maka seolah-olah dunia dan seiisinya telah dikumpulkan baginya.” (HR Tirmidzi)

Bagi seorang muslim, besar kecilnya perolehan materi tidak otomatis mempengaruhi kesejahteraan hidup seseorang. Jasadnya mungkin boleh dikelilingi dengan fasilitas yang serba mewah, tapi ketika agamanya diabaikan dan persoalan syariat ditinggalkan, maka batinnya pun pasti akan terselimuti dengan keresahan. Walhasil, kesejahteraan hidup hanya bisa diperoleh seorang muslim ketika kebutuhan hidupnya terpenuhi dan syariat agamanya bisa diamalkan secara kaffah.  

Baca halaman selanjutnya: Syariat dan Jaminan...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Menunda Penegakan Syariat Demi Mensejahterakan Rakyat?”

  1. Ibnu Ibni Abdillah

    Assalamualaikum.. terus bagaimana solusinya?..

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Janggal, Video Ceramah Alfian Tanjung Barang Bukti Jaksa Rusak

Video ceramah Alfian Tanjung berdurasi 56 menit yang dijadikan barang bukti oleh Jaksa Penuntut Umum tak bisa diputar seluruhnya

Rabu, 25/10/2017 15:55 0

Indonesia

Dipolisikan Gara-gara Pidato Singgung KH Said Aqil, Bupati Lampung Selatan Minta Maaf

Dipolisikan Gara-gara Pidato Singgung KH Said Aqil, Bupati Lampung Selatan Minta Maaf

Rabu, 25/10/2017 15:15 5

Indonesia

Ini Langkah Gerindra Usai Perppu Ormas Disahkan

Politisi Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria menegaskan bahwa Perppu Ormas telah disahkan menjadi undang-undang. Menurutnya, pengambilan keputusan ini sudah sesuai dengan konstitusi.

Rabu, 25/10/2017 14:48 0

News

Sidang Keenam Hidayat, JPU Tak Kunjung Hadirkan Saksi Pelapor

Seperti saat sidang sebelumnya, JPU beralasan saksi pelapor sedang menjalani operasi usus buntu.

Rabu, 25/10/2017 14:35 0

Indonesia

KAMMI Desak Polisi Bebaskan Dua Mahasiswa BEM-SI

Ketua Kebijakan Publik PP KAMMI, Riko P. Tanjung mengatakan bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa di depan Istana hanya untuk menagih janji kampanye Jokowi-JK. "Mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat," katanya.

Rabu, 25/10/2017 14:11 0

Indonesia

Perppu Ormas Jadi UU, Politisi Gerindra: Pemerintah Jadi Penafsir Tunggal Pancasila

Politisi Gerindra, Ahmad Riza Patria memprediksi akan terjadi otoritarianisme di Indonesia usai Perppu Ormas disahkan menjadi undang-undang. Salah satunya dengan tafsir tunggal dari pemerintah soal Pancasila.

Rabu, 25/10/2017 13:28 0

Indonesia

Sidang Hidayat Pelapor Kaesang, Hakim Dinilai Berpihak ke JPU

Penasehat Hukum Muhammad Hidayat mempertimbangkan untuk melakukan pelaporan kepada Komisi Yudisial dengan tuduhan Majelis Hakim melanggar Kode Etik.

Rabu, 25/10/2017 12:59 0

Indonesia

Ketika PKS Minta Maaf Gara-gara Perppu Ormas

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwainia minta maaf pasca penetapan Perppu Ormas jadi UU

Rabu, 25/10/2017 12:42 2

Eropa

Di Eropa, Minat Belajar Bahasa Arab Masyarakat Terus Meningkat

"Ada banyak keingintahuan tentang dunia Arab. Orang ingin tahu lebih banyak tentang orang Arab yang tinggal di sini dan tentang budaya mereka. Mereka merasa tidak percaya apa yang mereka baca dan lihat di media, yang mencoba menunjukkan dunia Islam dan Arab secara negatif," tambahnya.

Rabu, 25/10/2017 11:37 0

Video Kajian

Ciri Hati yang Mengagungkan Allah – Ust. Abdul Khalid, MA.

KIBLAT.NET – Ada ciri-ciri hati yang mengagungkan Allah. Apakah ciri-ciri tersebut ? Apakah hati anda...

Rabu, 25/10/2017 10:49 0

Close