Khutbah Jumat: Pengecut Bukan Mental Umat Islam!

Khutbah Pertama:

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ

أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه

اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Sidang Jumat rahimakumullah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menetapkan bahwa kehidupan manusia berlangsung di bumi. Dan bumi adalah tempat yang dipenuhi dengan halangan dan rintangan. Bumi dipenuhi dengan berbagai macam ujian dan cobaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakan:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam keadaan bersusah payah.” (Al-Balad: 4)

Kesusahpayahan adalah sesuatu rintangan dan kesulitan yang tak bisa dielakkan dan harus dihadapi. Kesusahpayahan adalah realitas perjalanan ke dalam kehidupan di dunia. Kesusahpayahan menjadi risiko hidup. Tak seorang pun yang bisa lari dari kenyataan itu.

Hadirin yang mulia,

Namun yang sangat dikhawatirkan dan juga acapkali terjadi pada diri manusia adalah takut menghadapi risiko. Ketakutan ini bisa jadi muncul karena kekerdilan jiwa dan ketidaksanggupan untuk menghadapinya. Rasa takut inilah yang menggiring seorang hamba Allah menjadi seorang yang pengecut, lalu akhirnya berusaha untuk lari dari kenyataan.

Lebih dari itu, sifat pengecut adalah sifat yang dipandang tercela. Seorang muslim tidak boleh memilikinya. Karena itulah, Rasulullah senantiasa berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ

“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut….” (H.R. al Bukhari)

Wahai hadirin…

Pengecut artinya tidak sanggup atau tidak mau menanggung atau menghadapi risiko. Padahal, itu sudah menjadi konsekuensinya. Pengecut merupakan perilaku orang yang setengah-setengah dalam keimanannya. Mereka hanya ingin serba enak, dan ogah menghadapi berbagai kesusahan ataupun kesulitan. Mereka tidak mau menghadapi masalah yang rumit. Sifat pengecut akan menjadi penghalang seseorang untuk maju dan juga sebagai pemberat langkah menuju kesuksesan.

Wahai hadirin….

Saat ini kita melihat banyak manusia yang sudah teridentifikasi sebagai pengecut. Ini telah disabdakan oleh Rasulullah bahwa suatu masa akan datang kaum muslimin akan menjadi bulan-bulanan dan santapan empuk bagi musuh-musuhnya. Itu karena mereka telah mengidap penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Penyakit inilah yang menjadikan banyak orang Islam menjadi pengecut, sehingga tidak lagi disegani oleh musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang kafir, atau orang munafik yang berada di kalangan mereka sendiri.

Ketahuilah bahwa kita menghadapi berbagai musuh, di antaranya adalah orang-orang kafir yang memusuhi kita; kemudian setan yang menyesatkan kita; hawa nafsu yang selalu merintangi kita; orang-orang munafik yang membenci kita; dan orang muslim yang iri kepada kita.

Islam memandang hina orang yang berwatak pengecut untuk mempertahankan hidup sehingga mudah putus asa; atau pengecut lantaran takut dikucilkan dari komunitasnya. Kemudian pengecut karena berlawanan dengan sikap banyak orang atau pengecut karena takut untuk membela sebuah nilai kebenaran. Watak pengecut inilah yang menjerumuskan pelakunya kepada sikap plin-plan. Hal ini disebutkan Rasulullah:

BACA JUGA  Dewan Dakwah Beri Penghargaan Pilot SJI82 Sebagai Pilot Teladan

لا تكُونُوا إمَّعةً تقولُونَ: إنْ أحسنَ النَّاسُ أحسنَّا وإنْ ظلمُوا ظلمْنَا، ولكِنْ وطِّنُوا أنفسكم إن أحسنَ النَّاسُ أنْ تُحسِنُوا وإنْ أساءُوا فلا تظلِمُوا

“Jangan kalian menjadi imma’ah (plinplan)! Kalian mengatakan, ‘Jika manusia berbuat baik, kami pun akan berbuat baik; jika mereka berbuat kezaliman, kami juga akan berbuat zalim’. Akan tetapi, kokohkan diri kalian. Jika manusia berbuat baik, kalian juga berbuat baik, jika mereka berbuat buruk, maka jangan kalian berlaku zalim”. (HR. at-Tirmidzi)

Wahai hadirin sidang Jumat yang berbahagia….

Allah selalu menggelorakan semangat orang-orang yang beriman agar mereka jangan takut dan menjadi pengecut. Karena rasa takut akan membawa kegagalan dan kekalahan. Sebaliknya, keberanian akan menjadi seruan yang terus berulang-ulang dikumandangkan karena keberanian adalah tuntutan iman. Keimanan mengajarkan kepada kita bagaimana menjadi orang-orang yang berani dalam menghadapi macam-macam risiko dalam hidup, terlebih lagi risiko dalam memperjuangkan agama Islam ini. Keberanian merupakan jalan untuk mewujudkan sebuah kemenangan dan izzah dalam keimanan. Tak boleh ada kata gentar dalam hati seorang mukmin.

Saat mengemban tugas keislaman, seorang mukmin tidak boleh takut dan merasa lemah. Karena Allah menyatakan:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139).

Dalam sejarah Islam, yang membuat gentar musuh-musuh Islam adalah keberanian para pejuang Islam. Mereka berjuang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala dengan sukacita dan pilihan mereka hanya dua saja: menang atau mati syahid. Dan kecintaan mereka terhadap mati syahid lebih besar daripada kecintaan orang-orang kafir terhadap kehidupan.

Para hadirin….
Orang-orang kafir saat ini sangat takut terhadap orang-orang yang beriman yang memiliki keberanian. Mereka memakai berbagai macam cara untuk menghilangkan syaja’ah (keberanian) dalam diri orang-orang yang beriman. Oleh karena itu janganlah kalian tertipu oleh orang-orang kafir.

Wahai hadirin, pada masa lalu, sebelum kedatangan kaum muslimin ke daerah Babilonia, orang-orang kafir sudah lari tunggang-langgang ketakutan. Hati mereka dihinggapi oleh rasa takut yang dahsyat. Rasulullah bersabda:

أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِي الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Aku diberikan lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku; aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka sejauh satu bulan perjalanan, dijadikan bumi untukku sebagai tempat sujud dan suci. Maka di mana saja salah seorang dari umatku mendapati waktu shalat hendaklah ia shalat, dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak pernah dihalalkan untuk orang sebelumku, aku diberikan (hak) syafa’at, dan para Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.”

Wahai hadirin…
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan bahwa tantangan orang yang hidup di akhir zaman itu bagaikan menggenggam bara api:

BACA JUGA  Human Rights Watch: Vaksinasi Warga Palestina Tanggung Jawab Israel

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ القَابِضُ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْر

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.”

Keberanian untuk menanggung risiko itu telah dicontohkan oleh para pendahulu kita, walaupun nyawa taruhannya. Dan kita harus meneladaninya. Bilal adalah seorang budak, akan tetapi setelah keimanan menghiasi dirinya ia lebih memilih kemuliaan Islam walaupun dirinya harus dijemur di bawah terik matahari di padang pasir. Bilal selalu menyuarakan, “ahad… ahad…”. Ketika tuannya, Umayyah bin khalaf, marah dan semakin marah oleh ucapan itu, Bilal tidak gentari, tetapi mengatakan bahwa seandainya ia mengetahui suatu perkataan yang lebih membuat orang musyrik marah daripada kata ahad, ia pasti mengucapkannya.

Hal serupa juga dilakukan oleh Ibnu Mas’ud, yang membacakan surat Ar-Rahmah di hadapan orang-orang musyrik. Ia tidak kapok meskipun dipukuli sampai babak belur. Abu Dzar Al-ghifari juga demikian, mengucapkan syahadat di hadapan orang kafir kemudian ia menanyakan rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia kemudian dipukuli sampai pingsan. Namun ia kembali mengucapkannya pada esok harinya. ini menunjukkan keberanian generasi yang dididik oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Sebelum zaman Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, kita mengetahui kisah ashabul ukhdud, Asiyah, dan Masyitoh pelayan Fir’aun. Mereka tidak takut dan pengecut untuk mempertahankan keimanan.

Karena itulah, umat Islam tidak boleh takut dan pengecut. Mereka tidak akan lari ke belakang demi kemenangan Islam karena keberanian mengemban amanah merupakan tuntutan Islam. Kalau ada yang hendak menyamakan ajaran Islam dengan agama lain, kita harus lawan. Mudah-mudahan Allah memberikan sifat berani dan mencabut sifat pengecut dari kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمِّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ؛ عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai hadirin itulah khotbah yang dapat kami sampaikan. Kami mengajak semua hadirin untuk kembali mematrikan sifat keberanian dalam diri, untuk menegakkan dan menyuarakan kebenaran dan menghapuskan kebatilan ataupun minimal sekali meminimalisirnya. Apa yang benar tentu datang dari Allah dan yang salah dari khatib sendiri dan dari setan. Khatib bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Marilah kita tutup dengan doa:

إن الله وملائكته يصلون على النبي ياأيها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك سميع قريب مجيب الدعوات
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
ربنا اتنا فى الدنيا حسنة وفى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

 

Materi diambil dari khotbah Ustadz. Abdul Khalid, MA.
Redaktur: Salem

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat