... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

‘Pribumi’ di Zaman Nabi

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET – Saat Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya hijrah dari Mekkah, mereka disambut baik oleh pribumi Madinah. Para pribumi memberikan rumah, harta, lapangan kerja bahkan jodoh bagi para pendatang, Nabi dan para sahabatnya.

Indahnya hubungan pribumi dan pendatang itu direkam dalam sejarah, yang kemudian akrab kita kenal dengan persahabatan kaum Muhajirin dan Anshar. Mengapa mereka bisa begitu ramah bersahabat dan saling bersaudara?

Sebagai pendatang, Nabi Muhammad SAW memberikan keuntungan yang besar. Pribumi Madinah (suku Auz dan Khazraj) sebelumnya selalu berperang. Dengan hadirnya Nabi SAW, mereka hidup rukun dan damai dalam agama baru, yaitu Islam.

Pendatang itu juga mampu membebaskan pribumi dari jerat perbudakan orang-orang Yahudi saat itu di Madinah. Yang paling agung, ajaran yang dibawa pendatang itu membawa kehidupan yang lebih baik bagi mereka, baik dunia maupun akhirat.

Di dunia mereka disatukan dalam indahnya persaudaraan. Tak boleh ada cela, tak boleh ada maki. Sementara di akhirat, dengan mengimani ajaran pendatang itu, mereka dapat selamat dari ancaman siksa api neraka. Pendatang yang dipimpin Nabi Muhammad SAW itu membawa ajaran yang melarang membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, mencuri, berzina, riba dan berbagai tindak kejahatan yang merugikan kehidupan mereka.

Pendatang itu mengajari mereka kecintaan terhadap akhirat dan bagaimana bersikap yang benar terhadap dunia. Ajaran pendatang itu mengajak mereka keluar dari hamba dunia, untuk kemudian mempersiapkan diri demi kehidupan kekal di akhirat.

BACA JUGA  Entah Apa yang Merasuki Sukmawati

Besarnya manfaat yang diperoleh dari pendatang itu, membuat pribumi sangat mencintai pendatang. Bentuk kecintaan mereka di antaranya:

Pribumi sanggup seiya-sekata bersama-sama pendatang dengan dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam perang Badar, di mana awalnya mereka tidak siap untuk berperang, kaum pribumi diwakili Sa’d bin Muadz menyatakan kesetiaannya kepada apapun yang diperintahkan Nabi SAW.

“Wahai Rasulullah, Allah telah mengutusmu, dan kami telah mengimani itu. Engkau memerintah, dan kami akan taat. Engkau melarang, kami akan menahannya. Wahai Rasulullah, kami telah memberikan baiat kepadamu bahwa kami akan selalu setia bersamamu, apapun keadaannya.”

Demi Allah, jika engkau menyebrangi lautan, kami akan ikut bersamamu. Hari ini adalah hari di mana Allah menunjukkan kepadamu bahwa kami (pribumi) adalah lelaki sejati, dan kami akan selalu pegangi ucapan kami. Demi Allah, kami akan taat bila engkau memerintahkan kami untuk ikut berperang.”

Pada perang Hunain, pribumi Madinah juga rela tidak mendapatkan bagian apapun dari rampasan perang, sementara orang lain yang baru masuk Islam diberi harta yang banyak oleh Nabi SAW.

Memang awalnya mereka sempat mengeluh. Namun Nabi SAW dengan bijak menjelaskan kepada mereka bahwa harta itu diberikan agar orang-orang yang baru masuk Islam itu semakin kuat imannya.

Adapun kepada pribumi Madinah, Nabi SAW tidak memberikan apa-apa karena Nabi yakin iman mereka telah kuat. Nabi SAW juga menyebutkan kecintaaannya kepada pribumi Madinah, dan akan tetap tinggal bersama mereka.

BACA JUGA  Mencintai Tanah Air Bersama Haji Agus Salim

Akhirnya kaum pribumi Madinah sadar. Mereka menyatakan ridha, pulang “hanya “ membawa Nabi SAW sementara orang lain membawa tumpukan harta. Mereka menangis dan menyesal karena sebelumnya telah mengeluh.

Kaum pribumi sangat mencintai para pendatang yang hijrah dari Mekkah. Rumah mereka bagi agar bisa ditinggali pendatang. Demikian juga harta, mereka berbagi bersama para pendatang.Bahkan yang punya istri lebih daripada satu, pribumi menawarkan kepada pendatang untuk memilih mana yang disukai, nanti akan diceraika agar dapat dinikahi oleh pendatang.

Di sisi lain, pendatang juga tidak kemaruk. Mereka juga tahu diri. Abdurrahman bin Auf, misalnya tidak mau bergantung pada pemberian pribumi. Ia hanya minta ditunjukkan pasar, agar ia bisa berdikari dan mencari uang sendiri.

Begitulah, sebenarnya saat Islam masuk Madinah, tak ada lagi istilah pribumi dan pendatang. Istilah Anshar dan Muhajirin hanya untuk membedakan “siapa” telah “berperan apa.” Selebihnya, mereka menjadi umat yang satu, kaum Muslimin.

Indahnya kehidupan pribumi dan pendatang di atas hanya terjadi pada masa Islam. pribumi membuka dua tangannya, memberikan segala yang diperlukan pendatang.

Pendatang pun tahu diri, tidak mentang-mentang pribumi bersikap baik hati, kemudian kemaruk dan ingin menguasai tanah dan harta pribumi. Tidak ada invasi berkedok investasi. Kedua belah pihak sama-sama tulus. Semua keindahan itu hanya ada dalam bingkai Islam.

Penulis: Mas’ud Izzul Mujahid
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Turki

Bukan Jawab Kuis Presiden, Bocah-bocah Ini Dapat Sepeda Karena Rutin Shalat Shubuh

Anak-anak di Istanbul, Turki menerima hadiah sepeda karena telah beribadah Shalat Shubuh selama 40 hari berturut-turut secara berjamaah di masjid.

Rabu, 18/10/2017 14:42 0

Philipina

Apakah Perang Marawi Benar-benar Usai?

Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada Selasa 17 Oktober 2017 menyatakan bahwa Kota Marawi telah dibebaskan setelah pertempuran selama lima bulan melawan militan Maute.

Rabu, 18/10/2017 13:33 1

Indonesia

Anies-Sandi Baru Dilantik, Iwan Fals Segera Singgung Banjir dan Macet Jakarta

Iwan Fals memberikan ucapan selamat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Baru Jakarta Anies Baswedan-Sandiaga Uno sekaligus menyinggung banjir dan kemacetan

Rabu, 18/10/2017 13:07 2

Indonesia

Benang Merah antara Bom Mogadishu dan Operasi AS di Somalia

Sebuah serangan yang dipimpin Amerika Serikat pada akhir Agustus terhadap desa nelayan Somalia di Barire diyakini sebagai pemicu kemarahan penduduk lokal yang masih hidup dalam serangan tersebut.

Rabu, 18/10/2017 12:22 0

Indonesia

Luhut Sebut Berita Tenaga Kerja Cina Invasi Indonesia Kampungan

Menteri Koordinator Bidang Kemaratiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengaku membuka lebar masuknya tenaga kerja asing (TKA) ke Indonesia, termasuk dari Cina

Rabu, 18/10/2017 11:48 3

Indonesia

Tingkatkan Mutu Pendidikan di Papua, AFKN Gandeng YDSF dan KPI

Selain melatih puluhan guru di Fakfak di Irian Jaya Barat, AFKN, YDSF serta KPI juga melakukan pelatihan yang sama di Irian Jaya, yaitu kabupaten Jayawijaya, Wamena.

Rabu, 18/10/2017 11:11 0

Indonesia

Melecehkan Persidangan, JPU Kasus Tamim Pardede Dilaporkan

Tim Penasehat Hukum mengajukan Surat Permohonan Penindakan Jaksa Tidak Profesional Perkara No. 820/Pid.Sus/2017/Jktsl, kepada Kepala Kejaksaan Agung, cq. Jaksa Agung Muda Pengawas Kejaksaan Agung

Rabu, 18/10/2017 10:40 0

Afghanistan

Bom Taliban Hantam Markas Kepolisian Paktia, Kapolda Jadi Korban

Dua serangan bom Taliban berhasil membunuh seorang Kapolda di provinsi Paktia. Selain itu, serangan terkoordinasi oleh tim skuat berani mati ini juga menewaskan puluhan aparat keamanan dan “collateral-damage” sejumlah warga sipil.

Rabu, 18/10/2017 10:11 0

Palestina

Israel Tolak Negosiasi dengan Pemerintahan Rekonsiliasi Palestina

"Pemerintah Israel tidak akan bernegosiasi secara politis dengan pemerintah Palestina apabila Hamas ikut serta di dalamnya," kata Kantor Perdana Menteri Israel pada Selasa (17/10).

Rabu, 18/10/2017 09:20 0

Suriah

Koalisi AS: 400 Anggota ISIS Raqqah Menyerahkan Diri

"Dalam beberapa hari terakhir saja, sekitar 350 militan di Raqqah menyerah diri kepada Pasukan Demokratik Suriah, termasuk beberapa pejuang asing, dan mereka ditahan setelah diinterogasi," kata Dillon sebuah teleconference kepada media, seperti dilansi Sky News Arabic.

Rabu, 18/10/2017 08:47 0

Close