... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Rambu-rambu Maslahat Menurut Dr. Thoriq Abdul Halim

Foto: Dr. Thoriq Abdul Halim

KIBLAT.NET – Dalam menyimpulkan sebuah hukum, ada salah satu kaidah dasar yang disepakati oleh para ulama yaitu Jalbul Mashalih Wa Dar-ul Mafasid, yakni mengambil maslahat serta menghindari bahaya atau kerusakan. Dalam mekanisme penetapan hukum Islam, sejatinya ia tidak pernah lepas dari kaidah tersebut. Sebab, tidak ada hukum syar’i kecuali bertujuan untuk mewujudkan maslahat bagi manusia serta menjauhkan mereka dari kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat.

Banyak sekali ayat al-Qur’an ataupun hadits yang menunjukkan tujuan pokok tersebut. Karena itu, ia menjadi sebuah kaidah yang disepakati oleh para ulama. Sebagai Dzat Yang Maha Mengetahui, Allah Ta’ala tidak mungkin menetapkan sesuatu bagi manusia kecuali mendatangkan maslahat. Di mana ada syariat maka di situ ada maslahat.

Imam Al-‘Izz bin Abdussalam berkata :

إن الشريعة كلها مصالح, إما درء مفاسد أو جلب مصالح

“Sesungguhnya syariat itu seluruhnya maslahat, bisa berupa menolak mafsadah (mudarat) atau mendatangkan maslahat.” (Qawa’idul Ahkam, 1/9)

Hal serupa juga diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiah:

إن الشريعة الإسلامية جاءت بتحصيل المصالح و تكميلها وتعطيل المفاسد وتقليلها

“Sesungguhnya syariat Islam datang untuk mewujudkan segala kemaslahatan dan menyempurnakannya serta untuk meniadakan mafsadah dan meminimalkannya.” (Minhajus Sunnah, 1/147)

Bahkan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menegaskan, “Penerapan hukum Islam yang tidak berorientasi pada prinsip keadilan, maslahat, rahmat, dan  hikmah sebenarnya adalah bentuk pemaksaan interpretasi. Bukannya penerapan substansi syari’at, tapi malah pemaksaan syari’at yang diakibatkan oleh kedangkalan ilmu.” (A’lam al-Muwaqqi’in ‘an Rabb al-Alamin, 3/11)

Namun realitas ketika melihat maslahat untuk menyimpulkan sebuah hukum, terkadang terjadi silang pendapat antara satu dengan yang lainnya. Masing-masing menafsirkan maslahat sesuai dengan latar belakang yang berbeda. Sehingga berefek kepada hasil hukum yang berbeda pula. Tidak ada masalah jika memang perbedaan itu lahir dari sudut pandang yang masih dalam koridor syar’i. Namun akan berbeda jika kaidah ini dipakai sebagai alat untuk melegalkan sebuah hukum yang berlawanan dengan nash syari.

Rambu-Rambu Dalam Memandang Maslahat

Perlu dipahami bahwa tidak semua tindakan yang mengandung maslahat, diakui oleh syariat. Maslahat mempunyai rambu-rambu yang pasti, yaitu harus sesuai dengan pijakan yang telah diletakkan oleh syariat. Sebab, bila timbangan maslahat diberikan mutlak kepada manusia, yang muncul adalah kerancuan. Setiap manusia mempunyai nilai dan standar maslahat masing-masing. Bisa saja suatu perbuatan bernilai manfaat, namun bagi orang lain bernilai mafsadat.

Karena itu, memahami rambu-rambu atau kriteria dalam memandang maslahat dan mafsadat adalah hajat yang tidak bisa dipisahkan dalam menyimpulkan hukum. Terlebih ketika hukum yang dimaksud berkaitan erat dengan persoalan hidup masyarakat yang lebih luas. Di antara rambu-rambu syar’i yang dirumuskan para ulama adalah sebagai berikut:

  1. Maslahat yang diraih harusah bersifat hakiki, bukan maslahat yang semu.

Maknanya, Tidaklah sebuah hukum syar’i ditetapkan oleh Allah melainkan memiliki sifat mendatangkan maslahat dan menolak madhorot. Jika hanya didasarkan pada asumsi bahwa penetapan hukum itu mungkin akan mendatangkan manfaat, tanpa mempertimbangkan dengan potensi bahaya yang terjadi, berarti maslahat tersebut didasarkan atas tinjauan maslahat yang semu. Maslahat seperti ini (yang mendatangkan maslahat, namun menimbulkan madorot yang lebih besar) tidak bisa diakui dalam syariat. Berkaitan dengan poin ini, ada dua bentuk maslahat yang perlu diperhatikan:

Pertama: Maslahat yang secara spesifik ditunjukkan oleh dalil syar’i, seperti maslahat tentang dibolehkannya minum khamer dalam kondisi darurat untuk menjaga hilangnya nyawa. Maslahat seperti ini dapat dijadikan sebagai sandaran dalam penyimpulan hukum.

Kedua: Maslahat yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar’i, baik secara spesifik maupun secara keumuman dalil. Contohnya adalah usaha untuk membolehkan perbuatan zina dengan dalih kemaslahatan manusia, yaitu untuk mewujudkan kenikmatan jiwa atau bolehnya mendengarkan musik untuk menghibur diri.

Contoh lainnya adalah maslahat menyamakan laki-laki dan wanita, dalam hal warisan dan hal lainnya, sebagaimana yang dikampanyekan oleh orang-orang liberal. Secara sepintas, ini mungkin bernilai maslahat menurut akal, karena adanya ‘keadilan’ antara laki-laki dan perempuan. Tetapi, hal itu tidak disebutkan oleh dalil, baik dalil yang khusus, maupun dalil yang umum. Kalau kita berpikir lebih mendalam, penyamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang terlihat adil, pada hakikatnya bukanlah sebuah maslahat. Karena laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan fitrah sejak lahirnya. Belum lagi kewajiban-kewajiban mereka pun berbeda, oleh karena itu bukanlah termasuk dari maslahat menyamakan hak segala sesuatu yang berbeda.

  1. Maslahat tersebut tidak bertentangan dengan dalil syari, Al-Quran dan Hadits

Maslahat yang bertentangan dengan dalil syar’i jelas tertolak. Sebab, apa yang telah disebutkan al-Qur’an dan hadits secara rinci, maka tidak ada ruang bagi akal untuk menebak-nebak bentuk maslahat yang lain.

Misalnya fatwa terhadap seorang raja dari Andalus yang berbuka dengan sengaja di siang hari bulan Ramadhan. Imam Yahya al-Maliki berfatwa bahwa kafaratnya tidak membebaskan budak, tapi dia harus berpuasa dua bulan berturut turut. Landasan fatwa ini adalah maslahat, karena tujuan membayar kafarat adalah membuat jera. Menurutnya, tidak ada yang membuat raja itu jera kecuali dengan berpuasa dua bulan berturut-turut. Kalau ia diperintahkan memerdekakan budak, hal itu sangat ringan baginya dan tidak membuatnya jera.

Fatwa ini didasarkan pada maslahat, tetapi bertentangan dengan dalil. Karena dalil jelas-jelas menyebut kafarat bagi yang berbuka di siang Ramadan adalah memerdekakan budak, bila tidak mampu, maka harus berpuasa dua bulan berturut turut, dan bila tidak mampu juga maka harus memberi makan enam puluh orang miskin, tanpa membedakan apakah yang berbuka itu seorang raja atau seorang fakir. Kemaslahatan yang dianggap seorang mufti dengan menetapkan kewajiban puasa dua bulan berturut turut bagi raja secara khusus, itu tidak termasuk maslahah mursalah tapi maslahah yang sia-sia. ( Abdul Wahab Khallaf, ‘Ilmu Ushul Al Fiqih, hal: 86-87)

  1. Maslahat yang dicapai tidak bertentangan dengan maslahat yang lebih penting atau tidak mendatangkan mafsadat yang nilainya lebih besar dari maslahatnya.

Hal ini karena, maslahat-maslahat yang diinginkan oleh syariat memiliki tingkatan dan kadar yang berbeda-beda urgensinya.  Paling utama adalah maslahat yang bersifat dhoruriyat yaitu segala sesuatu yang kealpaannya mengancam keberlangsungan hidup manusia di dunia dan akhirat, yang berupa penjagaan terhadap din, jiwa, akal, keturunan dan harta.

Tingkatan berikutnya adalah maslahat yang bersifat Hajiyat yaitu hal-hal yang kealpaannya menyebabkan kesusahan dan keberatan pada keberlangsungan hidup manusia. Keberadaannya dapat menghilangkan masyaqqoh pada kehidupan manusia.  Maslahat yang terakhir yaitu yang bersifat Tahsiniyat (Kamaliyat) yaitu segala sesuatu sebagai pelengkap, seperti adab dan kebiasaan.

Masing-masing maslahat pada tingkatan di atas juga memiliki urgensi yang berbeda melihat dari efek maslahat yang timbul bagi umat. Dan tidak diragukan lagi bahwa maslahat yang bersifat umum lebih didahulukan jika bertentangan dengan maslahat yang bersifat khusus.

  1. Memperhatikan derajat maslahat antara yang qat’i (pasti) dan dhanni (ragu).

Sebuah maslahat yang pasti terjadi sedangkan maslahat lainnya belum tentu terjadi (dzonni), maka sudah jelas maslahat yang qoth’i lebih didahulukan daripada maslahat yang bersifat dzonni.Sesuatu yang pasti terjadi, harus didahulukan dari maslahat yang belum pasti terjadi.

Oleh karena itu bagi seorang mujtahid wajib memperhatikan hal-hal tersebut di atas, ketika ingin merajihkan suatu maslahat atas maslahat lainnya.

Diinisiasi dari tulisan Thariq Abdul Halim, Dhawabitul maslahah al-mu’tabarah yang dimuat di situs: tariq-abdelhaleem.net

Penulis : Fakhruddin

Editor : Arju

 

 

 

 

... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Anaknya Ditawari Beasiswa hingga Perguruan Tinggi, Begini Jawaban Ibu Yogi

Masuk Islamnya Yogi Setiadi, anak berusia 8 tahun yang berasal dari Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat tersebut disambut suka cita oleh masyarakat.

Selasa, 10/10/2017 15:00 0

Indonesia

Perlakuan Berbeda Diterima Muhammad Hidayat di Sidang Putusan Sela

Ada pemandangan tak biasa dalam persidangan kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Muhammad Hidayat

Selasa, 10/10/2017 14:52 0

Indonesia

Jelang Putusan Sela, M. Hidayat: Mudah-mudahan Hakim Punya Hati Nurani

Terdakwa kasus ujaran Kebencian, Muhammad Hidayat dijadwalkan menjalani sidang putusan sela, Selasa (10/10/2017)

Selasa, 10/10/2017 14:20 0

Foto

Penampakan Masjid Tertua di Arab Saudi Selatan

Masjid Sadreed, yang terletak di utara provinsi Al-Namas di Arab Saudi Selatan, dianggap sebagai salah satu masjid tertua dan bersejarah yang dibangun pada tahun 787 Masehi.

Selasa, 10/10/2017 14:00 0

Indonesia

5 Fakta Yogi Bocah Muallaf, Nomor Tiga Mengejutkan

Kisah Yogi Setiadi, bocah 8 tahun dari kabupaten Ketapang yang berkemauan keras masuk Islam, ternyata menyembunyikan banyak fakta menarik.

Selasa, 10/10/2017 12:42 1

Palestina

Recoki Proses Rekonsiliasi, Israel Halangi 3 Pemimpin Hamas Berangkat ke Mesir

KIBLAT.NET, Ramallah – Pemerintah Israel dilaporkan telah melarang tiga pemimpin Hamas yang berada di Tepi...

Selasa, 10/10/2017 12:39 0

Video Kajian

Wanita Keluar Rumah Tanpa Mahram – Ust. Dr. A. Zain An Najah .MA.

KIBLAT.NET – Sering muncul pertanyaan, bolehkah perempuan keluar rumah tanpa ada Mahram ? Anda punya...

Selasa, 10/10/2017 10:33 0

Myanmar

Perahu Pengungsi Rohingya Karam, Puluhan Tenggelam

Setidaknya 12 warga Muslim Rohingya tewas dan puluhan lainnya hilang di dekat pantai Bangladesh dalam sebuah kecelakaan perahu, lapor pihak berwenang Bangladesh pada Senin (09/10). Kapal kayu tersebut mengangkut puluhan warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar.

Selasa, 10/10/2017 10:06 0

Amerika

AS dan Turki Saling Batasi Layanan Visa Kunjungan, Apa Pemicunya?

AS dan Turki mengurangi layanan penerbitan visa di negara masing-masing pada hari Ahad. Ini sebagai reaksi dari sebuah perselisihan diplomatik yang semakin meruncing setelah penangkapan seorang staf Turki untuk misi Amerika di Istanbul.

Selasa, 10/10/2017 10:04 0

Turki

Turki Lanjutkan Operasi Peninjauan Wilayah Idlib

“Angkatan bersenjata Turki memulai survei sejak 8 Oktober dengan tujuan mendirikan pos-pos pengawas dalam kerangka proses (pembentukan zona de-eskalasi) di provinsi Idlib,” kata pernyataan militer Turki kepada media pada Senin.

Selasa, 10/10/2017 08:34 0