... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Upaya Sulit AS Bangun Kekuatan Militer dan Polisi Nasional Afghan

KIBLAT.NET, Kabul- Inspektorat Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) yang dibentuk berdasarkan mandat Kongres AS merilis sebuah laporan detil mengenai berbagai tantangan dan masalah yang saat ini dihadapi Pasukan Keamanan dan Pertahanan Nasional Afghan (ANDSF). Selain itu, laporan juga berisi pelajaran yang bisa diambil dari invasi yang berlanjut dengan penjajahan Amerika selama lima belas tahun di Afghanistan.

Laporan yang untuk pertama kalinya dirilis ini menyimpulkan bahwa ANDSF didera banyak masalah kronis di antaranya atrisi yang terus menggerus kekuatan internal, korupsi, sistem pelatihan yang tidak memadahi, minimnya peralatan dan infrastruktur keamanan, serta tingginya tingkat buta huruf.

Atrisi yang Melemah

Atrisi merupakan masalah yang terus menggerus dan berpotensi melumpuhkan kekuatan di dalam tubuh ANDSF dan cabang-cabangnya. Pasukan Khusus Afghan adalah satu-satunya unit militer yang tingkat atrisinya relatif rendah dan siklus perekrutannya tertinggi, sebaliknya Tentara Nasional Afghan (ANA) memiliki tingkat atrisi tertinggi. Dalam laporannya , SIGAR menyebutkan antara tahun 2013 hingga 2016, atrisi yang terjadi di tubuh Tentara Nasional Afghan (ANA) sangat tinggi dimana sepertiga jumlah pasukan menyusut setiap tahunnya.

Tingginya tingkat atrisi ini membuat institusi militer tidak mampu menyediakan pelatihan bagi anggota-anggotanya, bahkan dalam sejumlah kasus tidak ada pelatihan sama sekali. Yang memicu tingginya atrisi ini adalah banyaknya jumlah tentara yang menderita luka-luka, buruknya sistem pendukung administratif pemerintahan terhadap para personil militer, dan tingginya buta huruf di kalangan penduduk secara umum.

Mengingat banyaknya jumlah tentara yang luka-luka, ANDSF memberikan prioritas bagi perlindungan pasukan. Alih-alih merebut wilayah penyangga Taliban yang sedemikian luas di pedalaman, ANDSF justru malah mengurangi intensitas misi & operasi militer di daerah perkotaan demi untuk mengurangi resiko cidera. Pasukan USFOR-A membantu dengan merestrukturisasi postur pasukan ANA supaya bisa lebih fokus terutama di wilayah padat penduduk, dan juga dengan mengurangi pos-pos checkpoint untuk meminimalisir resiko tersebut pada pasukan. Langkah “protektif” ini malah berakibat jatuhnya wilayah pedalaman yang sangat luas ke tangan Taliban. Dan inilah sumber kekuatan besar bagi ketahanan Taliban.

BACA JUGA  Taliban: Kami Hanya Punya Dua Cara Lawan Penjajah; Jihad dan Dialog

Bagi Taliban, daerah pedesaan/pedalaman merupakan basis pertahanan yang sangat vital dan bernilai taktis-strategis tinggi sebagai titik tolak dilancarkannya serangan-serangan komprehensif & terkoordinasi ke pusat-pusat kota. Taliban berkepentingan dan berniat untuk memanfaatkan lingkar wilayah pengaruhnya secara bersama-sama di seluruh Afghanistan. Wilayah penyangga yang sudah terbentuk ini sangat potensial untuk mendukung operasi-operasi ofensif Taliban di perkotaan.

Hal ini menunjukkan fenomena ketidakberdayaan pemerintahan nasional dukungan AS dalam menjamin keamanan masyarakat yang implikasinya sangat menggerus kepercayaan publik. Minimnya kehadiran pasukan keamanan pemerintah di daerah pedesaan membuat Taliban semakin nyaman mengorganisir pasukan dalam jumlah besar bahkan di daerah terbuka tanpa khawatir akan kemungkinan serangan udara AS maupun pasukan koalisi. Tidak jarang Taliban menggelar pasukan dan konvoi sebelum dan sesudah merebut suatu distrik lengkap dengan dokumentasinya.

Krisis Identitas di Tubuh Kepolisian

SIGAR tidak segan pula mengkritisi peran ANP (Polisi Nasional Afghan) dengan mengatakan bahwa fungsi polisi saat ini masih sebatas proksi dalam kontra-insurjensi, bukan sebagai aparat penegak hukum seperti yang dibutuhkan oleh rakyat Afghanistan. Sejak awal, AS membentuk satuan korps ANP sebagai pasukan paramiliter dengan misi kontra-insurjensi. Namun, serangan-serangan Taliban yang begitu gencar dan konsisten membuat ANP gagal menjadi aparat penegak hukum & keadilan, padahal Presiden Ashraf Ghani sangat berharap itu akan terwujud selama masa 4 tahun rencana “peta jalan” bagi ANDSF. SIGAR akhirnya menilai ANP tidak punya kapasitas untuk berperan sebagai institusi pengayom rakyat, menindak & mencegah kejahatan di luar masalah insurjensi.

Inspektur Jenderal SIGAR, John Sopko, saat berbicara di kantor CSIS di Washington menyebut ada dua kunci kelemahan dalam program pelatihan ANP yang diselenggarakan oleh pasukan AS dan koalisi asing. Dua kelemahan inilah yang mendorong ANP secara keseluruhan menjadi tidak efektif.

Pertama, program pelatihan ANP dengan peserta orang-orang lokal Afghan dilaksanakan oleh personil militer AS yang tentu saja “tidak standar” dan tidak dibekali dengan materi pelatihan yang sesuai. Sopko memberi contoh bagaimana seorang pilot helikopter militer AS ditugaskan untuk mengajar & melatih polisi Afghan. Kasus lain, sejumlah perwira militer harus menonton episode TV seperti Cops dan NCIS sebagai rujukan sebelum mengajar dan melatih polisi Afghan.

BACA JUGA  Pengamat: AS Memberikan Janji-janji Palsu di Afghanistan

Kedua, penggunaan tenaga para personil militer yang hanya bertugas selama 6 bulan hingga satu tahun membuat proses pembelajaran & pelatihan polisi Afghan seperti tidak ada kesinambungan serta “tidak nyambung” dengan dunia kepolisian.

Antara Militer dan Dukungan Sektor Sipil

Inti laporan, termasuk sejumlah temuan penting, bahwa SIGAR menekankan perlunya dukungan jangka panjang bagi keberlangsungan ANDSF karena kurangnya dukungan sumber daya akan menyebabkan kualitas hidup para personil ANDSF sangat rendah. Laporan itu mengingatkan, “korupsi, lemahnya kepemimpinan, minimnya peralatan dan struktur pendukung” berperan dalam menurunkan kesejahteraan anggota-anggota baru ANDSF.

Tingginya tingkat buta huruf membatasi potensi dan kemampuan sektor dukungan-sipil untuk berkontribusi bagi pembangunan ANDSF. Tanpa layanan sederhana yang bisa memberikan gaji secara akurat, atau mengirim peralatan dan training khusus secara efisien, masalah atrisi ini akan tetap menjadi “salah satu momok yang akan berdampak buruk bagi pengembangan dan keberlangsungan hidup ANDSF.

Dua Pertanyaan Tak Terjawab

Kendati demikian, laporan SIGAR tidak merekomendasikan apa yang harus menjadi prioritas pertama. Apakah ANDSF terlebih dahulu harus meng-kliring dan menguasai lebih banyak wilayah Afghanistan dan memberikan rasa aman bagi penduduk sipil sehingga dukungan mereka meningkat? Ataukah sebaliknya, institusi-institusi sipil dalam struktur masyarakat perlu untuk meningkatkan dukungan supaya akibatnya ANDSF mampu memerangi Taliban? Kedua pertanyaan sebab-akibat ini masih belum bisa terjawab.

Apabila suatu hari nanti AS dan negara-negara sekutu koalisinya ingin menyerahkan seluruh aspek keamanan kepada pasukan nasional Afghanistan yang dalam kondisi sudah mampu menghadapi kelompok insurjensi (Taliban) yang terbukti handal, maka strategi jangka panjang sangat diperlukan yang tidak terikat oleh agenda arbitrasi dan politik. Masalahnya adalah jalan menuju kondisi tersebut masih sulit ditemukan, sementara proses pelemahan internal (baca: atrisi) belum berhenti menggerogoti sendi-sendi kekuatan ANDSF beserta cabang-cabangnya.(Syaf)

 

Sumber: Long War Journal
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Sebut Homoseks Sebagai Ancaman Bangsa, GIB Apresiasi Polisi Bubarkan Pesta Gay

Gerakan Indonesia Beradab (GIB) menyebut kelompok homoseksual merupakan ancaman bagi bangsa Indonesia

Ahad, 08/10/2017 18:49 0

Indonesia

Komisioner Komnas HAM Menduga Ada Impor Perilaku Homoseksual

Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) merupakan isu global, dan bukan tidak mungkin itu strategi global untuk merusak keadaban Indonesia

Ahad, 08/10/2017 18:02 0

Indonesia

Komnas HAM Desak Polisi Tuntaskan Kasus Prostitusi Gay di Harmoni

Tak hanya bertentangan dengan hukum nasional, homoseksual juga tidak sesuai dengan HAM Pancasila

Ahad, 08/10/2017 16:33 0

Indonesia

Jenderal Gatot: Senjata Saja Dibuat Ribut

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan sudah melakukan komunikasi dengan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian terkait impor senjata.

Ahad, 08/10/2017 12:28 3

Indonesia

Begini Pandangan Ketum Muhammadiyah tentang TNI

Haedar menjelaskan, Islam, TNI dan kedaulatan bangsa adalah satu napas serta satu jiwa. Kedaulatan bangsa tidak akan lepas dari umat Islam dan TNI. Tanpa TNI dan umat Islam, tidak akan tegak kedaulatan Bangsa Indonesia.

Ahad, 08/10/2017 10:51 0

Indonesia

Di Hadapan Warga Muhammadiyah, Panglima TNI Bicara Sosok KH. Ahmad Dahlan

Pengajian bulanan Muhammadiyah mengundang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai salah satu pembicara. Di hadapan ratusan warga Muhammadiyah, Gatot menceritakan perihal kemerdekaan Indonesia karena umat Islam.

Ahad, 08/10/2017 10:20 0

Video Kajian

Bersatu Selamatkan Muslim Rohingya – Ust. Farid Ahmad Okbah, MA.

KIBLAT.NET – Konflik Rohingya belum selesai sampai sekarang. Muslimin disana masih ditempa dan menderita didera...

Ahad, 08/10/2017 10:18 0

Indonesia

Lokasi Pesta Gay di Harmoni Digerebek Setelah Polisi Terima Laporan Masyarakat

Penggerebekan lokasi pesta gay di T-1 Sauna dan Gym, Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat bermula dari laporan masyarakat

Sabtu, 07/10/2017 19:37 0

Indonesia

Polisi Gerebek Lokasi Pesta Gay di Harmoni, 7 WNA Turut Diamankan

Polisi mengamankan 51 orang di lokasi pesta gay T-1 Sauna dan Gym, Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat

Sabtu, 07/10/2017 19:11 0

Indonesia

Panglima TNI Diisukan Berpolitik, Begini Komentar Din Syamsuddin

"Apa yang dilakukan Panglima TNI sekarang pada hemat saya positif, tidak perlu disikapi dengan sinisme, apalagi dengan kecurigaan,"

Sabtu, 07/10/2017 16:34 0

Close