... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Sebut Homoseks Sebagai Ancaman Bangsa, GIB Apresiasi Polisi Bubarkan Pesta Gay

Foto: Ketua Presidum Gerakan Indonesia Beradab (GIB) Bagus Riyono

KIBLAT.NET, Jakarta – Gerakan Indonesia Beradab (GIB) mengapresiasi langkah kepolisian yang menggerebek tempat prostitusi gay di Kawasan Harmoni. GIB menyebut homoseksual sebagai ancaman bangsa

“Kita mengapresiasi langkah yang dilakukan kepolisian. Seperti juga yang telah terjadi di Kelapa Gading beberapa waktu lalu,” kata Ketua Presidium GIB Bagus Riyono saat dihubungi Kiblat.net pada Ahad (08/10).

Bagus menegaskaan bahwa kelompok homoseksual sangat berbahaya dan menjadi ancaman bagi masyarakat. “Yang jelas memang kita prinsipnya menganggap bahwa kelompok gay itu adalah ancaman bagi kita bangsa Indonesia. Terutama terhadap Pancasila,” ujarnya.

Ia juga menolak dengan dalih kebebasan yang selama ini digunakan oleh kelompok lesbian, gay, biseksuaal dan transgender (LGBT). Menurutnya, kebebasan yang didengungkan oleh kelompok LGBT adalah kebebasan yang menyimpang.

“Sehingga kita sangat prihatin dengan aktivitsa seperti itu, dan dengan begitu berani terang-terangan,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, Polisi kembali melakukan penggerebekan lokasi pesta gay. Kali puluhan orang diciduk saat pesta seks sesama pria di Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat.

Polisi mengamankan 51 orang pemuda saat pesta gay di T-1 Sauna dan Gym, Kawasan Harmoni, Jakarta Pusat. Dari jumlah itu, sebanyak 7 ornag diantaranya merupakan warga negara asing (WNA) asal Cina, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Peringatan 65 Tahun Vladimir Putin Disambut Demonstrasi

Demonstrasi digelar di 12 kota di Rusia, yang terbesar di St. Petersburg

Ahad, 08/10/2017 17:46 0

Amerika

Mengaku ISIS, Intel FBI Cegah Serangan Teror ke New York

Tiga orang ditangkap karena diduga akan merencanakan serangan terhadap konser, landmark, dan sistem kereta bawah tanah di New York City. Penangkapan dilakukan setelah seorang agen FBI menyamar sebagai pendukung ISIS.

Ahad, 08/10/2017 15:48 0

Myanmar

Gencatan Senjata ARSA Berakhir 9 Oktober

Bulan lalu, ARSA menyatakan gencatan senjata di tiga daerah, Maungdaw, Buthidaung, dan Rathedaung selama sebulan penuh.

Ahad, 08/10/2017 14:51 0

Amerika

Pasca Referendum, AS Hentikan Suntikan Dana bagi Kurdi

Pejabat Kurdi mengungkapkan pihaknya akan melakukan kesepakatan dengan Donald Trump untuk memperbarui pendanaan sebelum referendum berlangsung. Namun menjelang referendum, semua pembicaraan diputus dan uang dan persenjataan mengering.

Ahad, 08/10/2017 14:08 1

Arab Saudi

Penembakan di Istana Jeddah, Dua Petugas Keamanan dan Pelaku Tewas

Kejadian ini bertepatan saat Raja Salman masih dalam kunjungan kenegaraan ke Rusia.

Ahad, 08/10/2017 13:51 0

Syam

Turki dan Rusia Gunakan FSA untuk Serang HTS di Idlib

Erdogan berdalih bahwa cara tersebut sebagai upaya untuk memperluas zona de-eskalasi ke Idlib.

Ahad, 08/10/2017 13:17 0

China

Remaja Ini Alami Kebutaan Setelah Main Game Online 24 Jam Tanpa Henti

Kecanduan bermain game membuat Xiaojing mengalami kebutaan. Remaja 21 tahun tersebut menderita kebutaan setelah bermain game tanpa henti selama 24 jam di smartphone miliknya.

Ahad, 08/10/2017 12:54 0

Amerika

Siapa Negara-negara Pemegang Nuklir di Dunia?

Sekitar 90 persen senjata nuklir dunia dipegang oleh Amerika Serikat dan Rusia. Sedangkan sisanya berada di tangan tujuh negara lainnya termasuk Korea Utara yang membentuk sebuah klub nuklir global berskala kecil.

Ahad, 08/10/2017 11:36 0

Video Kajian

Bersatu Selamatkan Muslim Rohingya – Ust. Farid Ahmad Okbah, MA.

KIBLAT.NET – Konflik Rohingya belum selesai sampai sekarang. Muslimin disana masih ditempa dan menderita didera...

Ahad, 08/10/2017 10:18 0

Myanmar

Barat Ingin Myanmar Dipimpin Berdasarkan Demokrasi

Seorang ilmuwan politik Amerika menyatakan bahwa krisis Rohingya memperkuat peran militer dalam politik dan menghalangi transisi demokrasi di Myanmar.

Ahad, 08/10/2017 10:02 0

Close