Perang Narkoba di Filipina: Hanya Orang Miskin yang Ditembak Mati

KIBLAT.NET, Manila – Mayoritas orang Filipina percaya bahwa hanya orang miskin yang dibunuh dalam perang narkoba yang digalakkan negara itu. Mereka mendesak agar Presiden Rodrigo Duterte mengungkapkan identitas terduga kasus narkoba dan mengadilinya di pengadilan.

Sebuah survei oleh Social Weather Stations (SWS) terhadap 1.200 responden Filipina yang dirilis pada Senin (02/10/2017) menunjukkan opini publik terbagi terkait validitas laporan polisi dalam operasi narkoba yang mengakibatkan kematian.

Lebih dari 3.800 orang tewas dalam operasi polisi selama tindakan keras yang dilakukan Duterte dalam kurun waktu 15 tahun.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan jumlah korban tewas jauh lebih tinggi, dan angka resmi mengabaikan pembunuhan yang disebabkan oleh pembunuh gelap. Beberapa aktivis mengatakan pembunuh gelap telah berkolaborasi dengan polisi untuk membunuh pengedar dan pengguna narkoba.

Polisi dan pemerintah dengan keras menolak tuduhan tersebut dan menuduh para kritikus melebih-lebihkan jumlah korban tewas untuk keuntungan politik.

Jumlah korban tewas yang tinggi dalam pertarungan Duterte melawan kejahatan dan narkoba telah memicu peringatan internasional, walaupun jajak pendapat di dalam negeri menunjukkan bahwa rakyat Filipina sangat mendukung tindakan keras tersebut.

Tindakan keras tersebut mendapat sorotan akhir-akhir ini, yang sebagian besar didorong oleh pembunuhan polisi terhadap seorang siswa berusia 17 tahun pada 16 Agustus lalu. Dua saksi pada hari Senin mengatakan pada sebuah penyelidikan senat bahwa mereka melihat polisi membunuh seorang remaja lain yang ditangkap sebelumnya di wilayah yang sama karena terlibat perampokan.

Namun dalam kedua pembunuhan remaja itu, polisi mengatakan bahwa tersangka melawan ketika akan ditangkap. Seorang remaja ketiga yang ditangkap dengan korban kedua ditemukan tewas dengan 30 luka tusuk di sebuah provinsi yang dekat dengan Manila.

Duterte telah beberapa kali mengatakan telah memiliki daftar 6.000 tersangka penguasa narkoba di Filipina. Dalam survei SWS, 74 persen responden mengatakan bahwa mereka ingin Duterte mengungkap daftar itu ke publik.

Survei tersebut juga menunjukkan 60 persen setuju dengan pernyataan bahwa hanya obat bius miskin yang terbunuh. Survei juga menunjukkan hampir separuh responden ragu-ragu apakah polisi mengatakan yang sebenarnya saat mengungkap kematian akibat perang narkoba.

Sumber: Reuters
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat