4 Fase Puasa Asyura yang Dikerjakan Nabi

KIBLAT.NET – Salah satu amalan utama di Bulan Muharram adalah Puasa Asyura, yaitu puasa hari ke-sepuluh pada bulan tersebut. Rasulullah menyebutkan bahwa pahalanya mampu menghapus dosa setahun yang lalu. “Puasa hari ‘Asyura, sungguh aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)

Ibnu Rajab berkata, “Hari Asyura memiliki keutamaan dan kemulian yang sangat agung, pada hari tersebut Nabi Musa melaksanakan puasa.”

Lebih lanjut, Ibnu Rajab mencatat bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan puasa Muharram dalam empat fase yang berbeda:

Pertama: Rasulullah melaksanakan puasa ‘asyura ketika beliau masih di Makkah. Saat itu beliau tidak menyuruh umatnya untuk berpuasa sebagaimana yang beliau lakukan. Dalam Kitab Shahihain tersebut sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Hari Asyura  adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa pada zaman jahiliyah. Dan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam juga berpuasa pada hari tersebut.”

Kedua: Bahwa Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam ketika datang ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Ahlul Kitab mengangungkan hari ‘Asyura dan berpuasa pada hari tersebut. Lalu beliau juga berpuasa dan memotivasi para sahabat untuk melaksanakan hal yang sama. Sehingga semua manusia (muslim, yahudi; pent) ketika itu berpuasa, bahkan anak-anak mereka pun ikut berpuasa.

Ketiga: Ketika kewajiban puasa Ramadhan diturunkan, Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam tidak lagi memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa A’syura, dan juga tidak melarang. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

إن عاشوراء يوم من أيام الله فمن شاء صامه ومن شاء تركه

“Sesungguhnya ‘Asyura adalah satu hari dari hari-hari milik Allah, siapa yang mau berpuasa padanya maka dipersilahkan, dan siapa yang meninggalkanya juga tak mengapa.”

Keempat: Pada akhir hayatnya, beliau berkeinginan untuk tidak berpuasa pada hari ke sepuluh saja, beliau ingin menggabungkan dengan sehari yang lain (9 Muharram) agar bisa menyelisihi dengan puasanya ahli kitab.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berpuasa ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa, para sahabat berkata kepadanya, “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani.” Kemudian beliau bersabda,

فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا التاسع

“Kalau begitu, tahun depan Insya Allah kita puasa bersama tanggal sembelilannya juga.”

Ibnu Abbas bercerita, “Belum sampai tahun depan, beliau sudah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim)

 

Fakhruddin

Sumber: Ibnu Rajab, Lataiful Ma’arif, hal: 48

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat