... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Ukhuwah Islamiyah di Tengah Fanatisme Kesukuan

Foto: Fanatisme

KIBLAT.NET – Sebelum datangnya risalah Islam, bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang suka berbangga-bangga dengan  kabilahnya. Semangat membangun loyalitas terlihat di masing-masing kabilah. Rasa untuk saling menolong, saling menyayangi dan saling membela mereka bangun tidak lebih karena garis kesukuan. Seolah-olah mereka memang tidak mengenal loyalitas yang lebih tinggi di atas kesetiaan terhadap suku.

Dalam tatanan hidup bangsa Arab, kabilah merupakan ikatan sosial, politik, budaya, bahkan dalam taraf tertentu mirip seperti negara. Dalam kabilah ada ketaatan dan perdamaian, mereka hanya membatasi itu pada kabilah saja. Sehingga, hak untuk mendapatkan pertolongan dan pembelaan hanya terikat dengan kabilahnya masing-masing atau dengan kabilah yang memiliki ikatan perjanjian. Maka tak aneh, jika banyak lembaran sejarah yang mencatat permusuhan dan peperangan antar suku kerap terjadi ketika itu.

Di tengah tradisi fanatisme kesukuan yang sudah membudaya, Islam datang menawarkan konsep ukhuwah yang mempersatukan semua kalangan. Tidak membedakan antara satu kabilah dengan kabilah yang lain. Siapa yang menjadi muslim maka ia saudara bagi muslim lainnya. Walaupun berbeda suku, bangsa, bahasa, dan negara. Tidak ada keutamaan seorang Arab atas Non-Arab, tidak pula orang berkulit putih atas kulit hitam, semuanya sederajat dan yang membedakan hanya ketakwaan semata.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ

Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu,” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam As-Sa’di menjelaskan, “Ini merupakan ikatan yang Allah ikatkan di antara orang-orang mukmin. Bahwasanya seorang muslim jika mendapati seseorang, siapapun dia dan di mana pun dia (baik di timur maupun di barat), beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Para Rasul-Nya, serta meyakini tentang hari akhir maka dia adalah saudaranya. Persaudaraan ini wajib dijaga oleh setiap mukmin, ia wajib mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, serta benci terhadap sesuatu yang menimpa saudaranya sebagaimana ia benci jika hal itu menimpa dirinya.” (Tafsir As-Sa’di, 8/1692)

Karena itu, Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi! Janganlah sebagian kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain, dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzhaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya…” (HR. Muslim)

Racun Ukhuwah itu Bernama Ashobiyah

Dalam Islam, semangat membela atau menolong karena kesukuan biasa disebut dengan ashabiyah. Secara bahasa, ashabiyah adalah kata yang mengandung arti saling menjaga dan melindungi. Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab ia berkata, makna ashabiyah adalah:

يدعو الرجل إلى نصرة عصبته والتألب معهم على من يناوئهم ظالمين كانوا أو مظلومين

“Ajakan seseorang untuk membela keluarga/kelompok dari siapapun yang menyerang mereka. Tanpa peduli keluarganya melakukan kezaliman atau menjadi pihak yang terzalimi (Ibn Mandzur, Lisan al-‘Arab, I/606)

Sementara itu, secara langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah menjelaskan makna ashabiyah. Sebuah riwayat dari Putri Watsilah bin Al-Asqa’, ia mendengar Ayahnya berkata, “Aku berkata, wahai  Rasulullah, apa itu ashabiyah?” Rasul menjawab:

أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

Engkau menolong kaummu dalam atas kezaliman yang dilakukan.” (HR. Abu Dawud)

Dari penjelasan di atas, kita menangkap bahwa poin dari ashabiyah adalah fanatisme buta terhadap kabilah, suku kelompok maupun bangsa. Meletakkan fanatisme suku dan bangsa di atas agama. Sehingga batasan agama yang seharusnya menjadi parameter dalam setiap urusan dikesampingkan karena alasan solidaritas kesukuan.

Jika dikaji lebih mendalam, kita akan mendapati bahwa ashobiyah ini merupakan semangat persatuan yang dibangun atas dasar kesamaan suku dan bangsa. Paham ini meletakkan kesetiaan tertinggi individu hanya kepada suku dan bangsa dengan maksud agar individu memiliki sikap mental atau perbuatan untuk mewujudkan kemajuan, kehormatan, kesejahteraan bersama.

Ashabiyah pada zaman jahiliyah, telah merubah pikiran manusia untuk mengutamakan kepentingan suku, kabilah dan bangsa di atas kepentingan yang lain melebihi kepentingan agama sekalipun. Paham ini berbahaya karena bisa menyebabkan terkotak-kotaknya persaudaraan kaum muslimin. Semangat kebersamaan sebagai satu umat yang diikat dengan tali iman menjadi pudar ketika ashabiyah mehinggapi pemikiran kaum muslimin.

Loyalitas sesama mukmin pun menjadi kabur dan semakin tidak jelas. Sebab, egoisme suku dan bangsa menjadi kepentingan tertinggi diatas segala-galanya. Hak untuk mendapatkan pembelaan sesama muslim menjadi terhalang karena perbedaan suku dan bangsa. Penderitaan umat yang berada di luar suku dan bangsa terkadang luput dari perhatian karena tidak sejalan dengan arah politik suku dan bangsa.

Demikianlah sejatinya fanatisme suku dan bangsa bisa mencacati persaudaran Islam. Ia bak duri di dalam daging, api di dalam sekam yang menggrogoti ukhuwah islamiyah.

Pada taraf ekstrim, ashobiyah kesukuan dan kebangsaan bisa menjadi ancaman stabilitas keamanan. Sebut saja Adolf Hitler, jejak perang dan pembantaian yang dia lakukan didasarkan kepada fanatisme etnis dan bangsa.

Contoh modern adalah kekejaman Israel terhadap kaum muslimin Palestina yang berlangsung puluhan tahun. Hal yang mendasari agresi, perampasan hak, pengusiran dan bombardir terhadap palestina adalah fanatisme etnis Yahudi.

Baca halaman selanjutnya: Sikap Tegas Nabi Terhadap...

Halaman Selanjutnya 1 2
... shares
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Arab Saudi

Universitas Ibnu Saud Saudi Akan “Bersih-Bersih” Akademisi Berpikiran IM

langkah ini "bertujuan melindungi pemikiran yang berkembang, mahasiswa, pelajar dan karyawan universitas dari ide-ide kelompok menyimpang dan tren berbahaya dan merusak."

Kamis, 21/09/2017 08:58 0

Suriah

Dua Komandan Oposisi Suriah Pro Astana Jadi Target Jet Rusia

Komandan itu dari Ahrar Al-Syam dan Suqur Al-Syam. Kedua faksi ini mendukung konferensi Astana.

Kamis, 21/09/2017 07:59 0

Indonesia

Pengacara Muhammad Hidayat Nilai Dakwaan Jaksa Tidak Pas

KIBLAT.NET, Bekasi – Muhammad Hidayat (53), pelapor putra bungsu Presiden, Kaesang menjalani sidang perdana terkait...

Kamis, 21/09/2017 06:57 0

Palestina

Bubarkan Pemerintah Bayangan di Gaza, Hamas: Ini Keputusan Berani

Ketua Biro Politik Hamas, Ismail Haniyyeh kembali ke Palestina setelah 10 hari melakukan pembicaran khusus berkenaan dengan pemulihan hubungan dan rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah.

Rabu, 20/09/2017 21:15 0

Indonesia

‘Biaya Uang Elektronik Tidak Adil dan Merugikan’

Rencana Bank Indonesia (BI) untuk membebaskan perbankan menarik biaya tambahan top up uang elektronik hingga kini menuai protes.

Rabu, 20/09/2017 20:38 0

Palestina

Usai Bertemu Netanyahu, Al-Sisi Desak Palestina Hidup Berdampingan dengan Israel

Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi mendesak warga Palestina untuk bersatu dan "siap untuk hidup berdampingan" dalam damai dengan Israel

Rabu, 20/09/2017 20:12 1

Amerika

Di Hadapan PBB, Erdogan Angkat Bicara Soal Suriah dan Genosida Rohingya

Erdogan mengadakan kekerasan yang terjadi terhadap minoritas Muslim Rohingya merupakan noda kelam dalam peradaban manusia.

Rabu, 20/09/2017 19:44 0

Palestina

Telepon Mahmoud Abbas, Haniyeh: Kami Serius Ingin Palestina Bersatu

"Kami serius mengambil langkah yang diperlukan untuk mengakhiri perselisihan dengan kemauan yang kuat," kata Haniyeh kepada Abbas.

Rabu, 20/09/2017 19:11 0

Indonesia

Duh, Dana Mengendap di Uang Elektronik Bisa Digunakan untuk Kredit

"Sumber dana murah tapi bukan DPK, kecuali pengendapannya segitu terus, aset manageable (terkelola dengan baik), itu bisa," ungkap Onny di Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Rabu, 20/09/2017 18:36 0

Amerika

Erdogan: Referendum Kurdi Dapat Timbulkan Krisis Baru

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak penundaan referendum kemerdekaan Kurdi yang akan diadakan 25 September mendatang.

Rabu, 20/09/2017 18:13 0