Telepon Mahmoud Abbas, Haniyeh: Kami Serius Ingin Palestina Bersatu

KIBLAT.NET, Yerusalem- Harakah Muqawamah Al-Islamiyah (Hamas) bertekad untuk mengakhiri perselisihan dengan lawan politiknya, Fatah. Hal itu terbukti melalui pesan yang disampaikan oleh Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh kepada Presiden Mahmoud Abbas melalui sambungan telepon pada Selasa (19/09).

“Kami serius mengambil langkah yang diperlukan untuk mengakhiri perselisihan dengan kemauan yang kuat, dan berupaya menyatukan Palestina dengan satu tujuan untuk menghadapi tantangan yang dihadapi tujuan kita,” kata Haniyeh dalam sebuah panggilan telepon ke New York, tempat Abbas menghadiri Majelis Umum PBB, seperti dikutip dari Arab News.

Kemauan Hamas untuk rekonsiliasi itu, disambut positif oleh Fatah. Bahkan, Badan Intelijen Mesir yang mensponsori upaya rekonsiliasi ini diharapkan dapat terus memberi dukungan.

“Lingkungan politik saat ini yang diwakili oleh gerakan Hamas disambut dengan baik dan kami pandang secara positif, dengan harapan bahwa Mesir akan terus mensponsori dan menjamin langkah-langkah ini,” ujar juru bicara Fatah Naser Kidwwa, mantan duta besar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) untuk PBB.

Setelah Hamas bersedia membubarkan pemerintahan bayangannya di Jalur Gaza, rencananya kedua kelompok ini akan mengadakan pertemuan di Gaza. Dilanjutkan dengan pembicaraan antara Fatah dan Hamas yang disaksikan oleh Mesir. Setelah itu, akan diadakan pembicaraan secara internal yang melibatkan seluruh faksi di Palestina.

Menurut keterangan Dr. Naji Sharab, seorang profesor ilmu politik di Universitas Al-Azhar di Gaza, mengatakan bahwa ada optimisme terbangun di kalangan politisi namun penduduk di Gaza masih skeptis karena telah terjadi banyak rekonsiliasi di masa lalu namun gagal.

BACA JUGA  Hamas Kepada PBB: Israel Tidak Boleh Mengganggu Proses Pemilu

“Ada banyak kekhawatiran-kekhawatiran karena kita menghadapi masalah jangka panjang untuk menggabungkan sistem yang dibangun hampir secara eksklusif dari satu pihak yang berkuasa dan meniadakan yang lainnya, ke sistem persatuan nasional dan pembagian kekuasaan,” ujarnya.

 

Sumber: Arabnews
Redaktur: Syafi’i Iskandar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat