... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Kesaksian AM. Fatwa, Tragedi Tanjung Priok Kental Permainan Intelijen (Bagian 2)

Foto: Tragedi Tanjung Priok 1984. (Suara Islam)

KIBLAT.NET, Jakarta – AM. Fatwa, pelaku sejarah yang juga menjadi korban rezim represif Orde Baru pasca Peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, mengisahkan awal mula terjadinya tragedi itu. Tragedi berdarah, yang menurut data Solidaritas Nasional untuk peristiwa Tanjung Priok (SONTAK) memakan nyawa 400 muslim.

Saat ditemui di kediamannya di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, AM. Fatwa mengungkapkan awal mula peristiwa berdarah Tanjung Priok 1984 dipicu suasana yang tidak kondusif karena pemaksaan penerapan asas tunggal Pancasila. Situasi itu kemudian makin diperkeruh oleh tindakan provokasi dari intel tentara.

“Isu asas tunggal itu menyebabkan berbagai reaksi dari masyarakat. Oleh intelijen, situasi itu malah dimanfaatkan untuk mendorong suatu kegiatan dakwah yang sesungguhnya agak keluar dari koordinasi yaitu di Tanjung Priok,” ungkap Fatwa, Rabu (13/09).

“Nampaknya ada mubaligh-mubaligh muda yang tidak sadar diperalat oleh aparat. Mereka juga dipelihara untuk kemudian melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum semisal memaki-maki Pancasila, Soeharto, Ibu Tin Soeharto, dan jelas ini melanggar hukum,” lanjutnya.

Fatwa mengaku, pada saat itu dirinya tergabung dalam Petisi 50, sebuah forum yang didirikan pada 5 Mei 1980. Forum itu turut mengoreksi masalah asas tunggal, namun tidak setuju dengan gerakan para mubaligh muda di Tanjung Priok itu. “Kami dari petisi 50 tidak setuju dan tidak bisa membiarkan kelakuan dari mubaligh itu,” ujarnya.

BACA JUGA  PTUN Jabar Putus Pencabutan Asimilasi Habib Bahar Tidak Sah

Fatwa menungkapkan, pada waktu itu juga terbentuk Korp Mubaligh Indonesia (KMI) yang diketuai oleh MR Syafrudin Prawiranegara. Sementara, Fatwa juga menjadi salah satu ketua dalam KMI. Mereka tidak menyetujui tindakan para mubaligh tersebut, dan M. Natsir yang menjabat sebagai ketua DDII juga termasuk pihak yang tak setuju.

“MR Syafrudin Prawiranegara, dan M Natsir, kami termasuk tidak menyetujui kegiatan-kegiatan dakwah yang ada di Tanjung Priok karena dinilai menyimpang dari tata cara akhlak. Dan itu malah sengaja dipelihara oleh aparat intelijen,” ungkapnya.

“Mubaligh-mubaligh muda ini, yang belum mempunyai sensitivitas dalam politik, termakan isu yang dilempar intel itu. Sehingga tidak sadar mereka menjadi alat intelijen, untuk mereka berteriak menyerang penguasa secara melanggar hukum,” lanjut pria yang pernah menjadi Ketua DPR di era pemerintahan Gus Dur.

Menurut Fatwa, dengan situasi yang sengaja dibuat intelijen dengan memanfaatkan para mubaligh muda itu, pihak Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) kembali melakukan provokasi yang kemudian menjadi pemicu kemarahan Ummat Islam Tanjung Priok. Para jamaah merespon dengan mengadakan demonstrasi, dan berakhir dengan tewasnya sedikitnya 400 warga Tanjung Priok di moncong senjata tentara.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam S.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Yaman

The Long War Journal: 100 Serangan AS Sasar AQAP Sepanjang 2017

Pada Senin (18/09), laman media The Long War Journal mengeluarkan laporan khusus berupa data statistik jumlah serangan AS per tahun terhadap Al-Qaeda in the Arabiuan Peninsula (AQAP).

Selasa, 19/09/2017 21:09 0

Yaman

Melirik Daya Kenyal AQAP Hadapi Serangan Gencar Amerika

Di samping itu, AQAP tidak perlu mengerahkan banyak sumber daya dan kekuatan militer untuk menguasai kembali suatu wilayah di saat yang tepat. Di sinilah letak fleksibilitas dan kekenyalan AQAP dalam mengelola konflik berdimensi luas yang melibatkan elemen sipil rakyat Yaman, dan juga kekuatan-kekuatan besar aktor negara.

Selasa, 19/09/2017 20:28 0

Turki

Tanggapi Referendum Kurdi, Militer Turki Gelar Latihan di Perbatasan Irak

Sepekan menjelang diadakannya referendum kemerdekaan Kurdi Irak, militer Turki mengerahkan pasukannya untuk menggelar latihan di daerah perbatasan.

Selasa, 19/09/2017 20:12 0

Palestina

Sambut Ajakan Rekonsiliasi Hamas, PM Palestina Akan Kunjungi Jalur Gaza

Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah berencana mengunjungi Gaza dalam waktu dekat

Selasa, 19/09/2017 19:12 0

Asia

Tuding Teroris, India akan Usir 40 Ribu Pengungsi Rohingya

Pemerintah India mengatakan bahwa akan mengusir sekitar 40 ribu pengungsi Rohingya.

Selasa, 19/09/2017 18:11 0

Amerika

Amerika Bangun Pangkalan Militer Rahasia dengan Israel

Pangkalan militer dibangun setelah Israel menyepakati pembelian pesawat F-35 buatan Amerika Serikat.

Selasa, 19/09/2017 16:33 0

Tarbiyah Jihadiyah

Ketika Musuh Islam Mengolok-olok Perjuangan

Hadangan, hambatan, cobaan dan celaan adalah resiko perjuangan. Namun, semua itu bukanlah sebuah halangan bagi umat Islam untuk senantiasa berdakwah di jalan-Nya. Di dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa sifat orang yang beriman yang akan didatangkan Allah untuk menggantikan generasi yang melenceng adalah yang tertera pada Al-Maidah ayat 54

Selasa, 19/09/2017 15:30 0

Palestina

Usai Bubarkan Pemerintah Bayangan di Jalur Gaza, Hamas Telepon Abbas

Dalam pembicaraan tersebut, Haniyeh ingin meyakinkan pernyataan yang sebelumnya telah dikeluarkan Hamas.

Selasa, 19/09/2017 15:00 0

Afghanistan

Amerika Serikat Kirim 3.000 Pasukan Tambahan ke Afghanistan

Daari 3.000 pasukan, sebagian besar telah dalam perjalanan menuju Afghanistan

Selasa, 19/09/2017 13:16 0

Video News

Kiblat Review 11 : Kekuatan Ekonomi Umat Islam

KIBLAT.NET – Menurut data tahun 2016, sekitar 85 persen penduduk Indonesia adalah muslim, Meski jumlah...

Selasa, 19/09/2017 12:29 0

Close
CLOSE
CLOSE