... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Gerakan Perlawanan Bangsa Rohingya: Sejarah dan Evaluasi

Foto: Tentara Pemnyelamat Rohingya Arakan (ARSA), sebuah gerakan perlawanan kaum Muslim Rohingya.

KIBLAT.NET – Perawakannya tinggi besar. Urat-urat tangannya terlihat kokoh. Di atas kerimbunan janggutnya terpatri sebuah senyuman manis tatkala ia menyambut kedatangan Kiblat.net. Sajian makanan khas seperti samboza dan kue-kue India tersaji di atas piring berkelir merah menyala. Pria kelahiran Arakan (Rakhine State) ini meminta dipanggil dengan nama Yasir. Ia mau berbicara kepada Kiblat.net di sebuah tempat yang dirahasiakan. Itupun tanpa ada rekaman gambar atau suara. Kami masih cukup beruntung diperbolehkan membuat catatan. “Supaya kita lebih nyaman saja,” kata dia, belum lama ini.

Organisasi internasional, Persatuan Bangsa Bangsa pernah menjuluki Yasir dan kaum sebangsanya di Arakan sebagai “etnis paling teraniaya di muka bumi”. Sejarah kekerasan terhadap Muslim di Myanmar terjadi sejak waktu yang terlampau panjang. Namun, nasib baik berpihak pada Yasir. Ia telah mengungsi sejak belasan tahun silam dari Tanah Arakan dan mencoba bertahan hidup di negeri orang. Kendati demikian, ia tetap menaruh perhatian besar dan berkhidmat untuk orang-orang dari tanah tumpah darahnya.

Panjang lebar kemudian Yasir memulai cerita tentang Rohingya. Kisah ini bermula pada tahun 270 Hijriyah atau sekitar tahun 883 Masehi, ketika Islam masuk ke wilayah Arakan melalui pedagang Arab yang masuk ke Pulau Ramree, di pesisir Arakan. Di era Perang Dunia Kedua, pulau ini pernah masuk dalam catatan sejarah. Pasukan Kekaisaran Jepang yang telah merebut pulau itu digempur oleh sekutu melalui Batalion Indian Corps 15. Serangan itu dikenal juga dengan Operasi Matador atau Pertempuran Pulau Ramree.

Pada tahun 976 M berdirilah Kerajaan Arakan yang menaungi kaum Muslimin di wilayah tersebut. Namun, pada tahun 1404, kerajaan itu digempur habis-habisan oleh Dinasti Konbaung yang berasal dari etnis Burma. Kemudian Arakan dianeksasi oleh kolonial Inggris yang menguasai kawasan Hindustan (India, Pakistan Bangladesh, Myanmar, Nepal), hingga akhirnya pada akhir tahun 1948 diberikan oleh Inggris kepada pemerintah Burma, yang kini berganti nama menjadi Myanmar. Sebelumnya, pada 1947 Masehi, Inggris menggelar konferensi untuk mempersiapkan kemerdekaan dan mengajak seluruh kelompok dan ras di negeri tersebut, tapi Muslim Rohingya tak diajak turut serta.

Peta wilayah Kerajaan Arakan, tanah kelahiran orang-orang Rohingya.

Pada konferensi itu, Inggris menetapkan menjanjikan kemerdekaan kepada tiap kelompok atau suku dalam jangka waktu sepuluh tahun kemudian. Namun pemerintahan Myanmar tak menepati janjinya. Yang terjadi adalah penindasan terhadap kaum Muslimin yang terus berlanjut. Lalu disahkan Union Citizen Act, undang-undang kewarganegaraan. Kartu identitas khusus (kartu putih) bagi Rohingya diterbitkan.

BACA JUGA  Jadi Tersangka Kasus ITE, Jack Boyd Lapian Tak Ditahan

Di bawah pemerintahan Myanmar, nasib etnis Rohingya yang sudah bermukim lama di Arakan bukannya membaik. Pada 1962, terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Presiden Ne Win. Ia melanjutkan tugas pembantaian terhadap umat Islam di Arakan, membuat 300 ribu Muslim Myanmar terusir hingga ke Bangladesh. Di tahun 1982 M, Undang-undang Kewarganegaraan diterbitkan lagi. Di masa inilah  terjadi operasi penghapusan kewarganegaraan terhadap Muslim karena dinilai bukan warga asli Burma. (Baca juga: Wawancara Eksklusif – Meluruskan Sejarah dan Fakta Seputar Rohingya (Heri Aryanto, S.H., M.H.))

Enam tahun kemudian pada tahun 1988, lebih dari 150 ribu kaum Muslimin terpaksa mengungsi ke luar negeri. Pemerintah Myanmar menghalangi anak-anak kaum Muslimin mendapatkan pendidikan. Untuk mengurangi populasi, kaum Muslim dilarang menikah sebelum berusia tiga puluh tahun.

Mengapa Tak Berhijrah?

Atas semua penderitaan itu, Kiblat.net bertanya kepada Yasir. “Daripada harus terus menderita, mengapa kalian tidak hijrah saja dari Arakan?”

“Kalau Orang Rohingya hijrah, Islam akan hancur dari Arakan,” tukasnya.

Yasir kemudian menjelaskan, bahwa ada sejumlah bukti yang menguatkan argumen tersebut. Pertama, Muslim Rohingya di Arakan merupakan kaum yang berpegang erat pada nilai-nilai agama. Yasir menyebut bahwa tidak ada satupun etnis Rohingya di Arakan yang murtad. Di seluruh wilayah Myanmar, Muslim Rohingya yang sangat terdepan dan menguasai bidang keislaman. Profesi yang berkaitan dengan agama seperti ulama, juru dakwah dan guru madrasah di Myanmar didominasi oleh kaum Rohingya. Perlu diketahui bahwa struktur Muslim Myanmar terdiri dari sejumlah etnis. Selain Rohingya ada pula Muslim Burma, Muslim Paathee (Cina), Muslim Pashu (Melayu), Muslim Indian dan Muslim Parsi.

BACA JUGA  Ghazwatul Hindi: Nusantara, Front Utama Melawan Cina (Bag. 3)

Kedua, secara geopolitik, wilayah Myanmar merupakan jembatan penghubung antara wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan menuju Asia Tenggara. Jika Muslim Rohingya yang berada di kawasan strategis itu hilang, maka keberadaan Muslim di Asia Tenggara bias terputus secara teritorial, historis maupun politis. Jika Muslim Rohingya jatuh, maka Myanmar-Thailand dan Kamboja bisa menjadi Negara Buddha.

Ketiga, Yasir menambahkan, bahwa tetap mempertahankan tanah air mereka merupakan alasan terpenting. Lagipula, berhijrah di zaman saat ini juga tak semudah di masa lampau seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Di era modern, ketika manusia menganut sistem Negara-Bangsa, perpindahan orang atau barang tak semudah zaman dahulu. Ada aturan tentang kewarganegaraan, ada kewajiban memiliki paspor, dan sederet peraturan yang menyulitkan. Lagipula, bagi Rohingya yang tak punya status kewarganegaraan, hidup di tempat asing dan di negara sendiri hamper tak ada bedanya. Mereka terkatung-katung di lautan, di tempat pengungsian atau dari satu tempat detensi ke detensi lainnya. (Baca juga: Melongok Perut Kapal Bobrok Pengungsi Rohingya Senilai 2 Milyar)

Pernyataan “mengapa Rohingya tidak berhijrah saja” sebenarnya mau tak mau seperti mengamini tuduhan pemerintah Myanmar. Myanmar tak pernah mengakui hak dan keberadaan etnis Rohingya. Mereka menuding orang-orang Rohingya adalah pendatang gelap dari Bangladesh. Atas tuduhan ini, Abdullah, juru bicara pejuang Rohingya dari kelompok ARSA punya jawaban menarik. Dalam wawancara ekslusifnya untuk atimes.com, Abdullah menertawakan klaim tak berdasar junta militer Myanmar.

“Saat ini ada kehadiran pasukan keamanan yang sangat banyak termasuk polisi dan militer di sepanjang perbatasan, jadi bagaimana cara orang-orang Rohingya berhasil menyeberang dari Bangladesh ke Myanmar? Di sisi lain, mengapa ada orang yang mau bermigrasi ke sebuah penjara terbuka? Kehidupan di banyak daerah di Arakan (Rakhine) seperti di era Zaman Besi. Di mayoritas tempat, belum ada listrik dari pemerintah. Mengapa ada orang yang mempertaruhkan nyawanya mencoba menyelinap ke tempat seperti itu?”


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Rohingya Angkat Senjata...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Aksi Bela Rohingya Bangkitkan Memori Aksi 212

"Tentu ini juga bisa jadi sebagai wadah ukhuwah antar umat, bahkan serasa reuni 212"

Sabtu, 16/09/2017 17:09 2

Myanmar

Soal Rohingya, PM Bangladesh Seru Dunia Internasional Tekan Myanmar

"Saya meminta masyarakat internasional untuk memberi tekanan pada pemerintah Myanmar untuk mengambil kembali warganegara mereka

Sabtu, 16/09/2017 16:03 0

Indonesia

Komentari Pajak, Penulis Novel Supernova: Harus Diperbaiki

KIBLAT.NET, Jakarta – Penulis novel Supernova, Dewi Lestari turut bersuara soal pajak yang saat ini...

Sabtu, 16/09/2017 15:28 0

Indonesia

Bobotoh Didenda karena Dukung Rohingya, Tagar #KoinUntuk PSSI Merajai Twitter

Asosiasi sepakbola Indonesia itu menjatuhkan denda terhadap Bobotoh terkait dengan koreografi Save Rohingya saat pertandingan antara Persib melawan Semen Padang FC pada Sabtu (09/09)

Sabtu, 16/09/2017 15:06 0

Suriah

Hasil Astana VI: Militer Rusia, Turki dan Iran Disebar di Idlib

KIBLAT.NET, Astana – Tiga negara penjamin negosiasi damai antara oposisi dan rezim Suriah di Astana...

Sabtu, 16/09/2017 13:53 0

Suriah

Ulama Tahrir Al-Syam Jadi Target Pembunuhan

Kurang dari sepakan, Dua ulama HTS tewas dibunuh orang tak dikenal

Sabtu, 16/09/2017 11:06 0

Eropa

Astana VI: Idlib Masuk Zona De-Eskalasi dan Pasukan Pengawas Diterjunkan

“Telah disepakati di penutup konferensi Astana keenam soal masalah Suriah penyebaran pasukan negara penjamin untuk mengawasi daerah-daerah de-eskalasi,” lapor wartawan Al-Jazeera dari Astana.

Sabtu, 16/09/2017 09:04 0

Afrika

Ribuan Massa Geruduk Kedutaan Myanmar di Afsel

Moulana Ebrahim Bham, sekretaris jenderal Dewan teologi Muslim (Jamiatul Ulama) bertanya-tanya mengapa Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi yang meraih nobel perdamaian tetap diam di tengah kekerasan yang sedang berlangsung.

Sabtu, 16/09/2017 07:29 0

Afghanistan

Operasi Taliban Kembali Makan Korban Tentara NATO

NATO mengaku ada empat tentara Rumania terluka dalam sebuah aksi bom mobil bunuh diri Taliban di Afghanistan selatan pada hari Jumat (15/09).

Sabtu, 16/09/2017 07:23 0

Indonesia

Amnesty International: Kekerasan terhadap Rohingya Bermotif Agama

Kekerasan yang yang dialami Muslim Rohingya tidak hanya datang dari militer Myanmar saja. Bahkan tindakan serupa juga dari warga penganut agama mayoritas, yaitu Buddha.

Jum'at, 15/09/2017 20:29 0

Close