... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Andaikan Kita Seorang Rohingya (3) : Bangladesh, Tetangga yang Mengacuhkan

Foto: Pengungsi Rohingya

KIBLAT.NET – Bangladesh merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Sebagai negara yang berbatasan langsung, memiliki persamaan agama dan penampilan fisik, Bangladesh adalah tempat yang dipilih oleh Rohingya untuk mencari perlindungan. Kontak antara kaum Rohingya dengan Bengali telah terjadi selama abad ke-15 melalui kerjasama militer, perdagangan dan agama.

Selama abad 15 dan 16, terjadi infiltrasi Muslim dari Bengali ke Arakan. Sejak 1992 Bangladesh telah kedatangan sekitar 280.000 pengungsi Rohingya di dua kamp pengungsi diawasi oleh PBB (Roughneen 2009).

Para pengungsi datang dengan membawa pengalaman pahit seperti kekerasan yang mengerikan, kerja paksa, pemerkosaan, eksekusi dan penyiksaan. Sebagai kelompok yang dianiaya dan memiliki identitas Muslim yang sama, pada awalnya Bangladesh menyambut baik kedatangan mereka karena hal ini dilihat sebagai masalah jangka pendek sehingga pemerintah Bangladesh ingin menyelesaikannya melalui perundingan bilateral dengan pemerintah Myanmar.

Pengungsi Rohingya

Pengungsi Rohingya

Selain itu, pemerintah Bangladesh melihatnya sebagai kewajiban moral dan tidak berharap akan kedatangan pengungsi Rohingya terus menerus sehingga Bangladesh menyambut baik bantuan UNHCR, Palang Merah dan berbagai lembaga internasional lainnya untuk membantu para pengungsi tersebut.

Namun dukungan publik bagi ‘kewajiban moral’ ini terus menerus merosot, sebagian karena tentangan dari kaum ultranasionalistik Bangladesh yang mencurigai adanya penunggangan politik bagi Rohingya oleh kelompok islam militan, dan sebagian lagi akibat ‘keberhasilan’ propaganda Myanmar yang mengatakan bahwa Rohingya adalah para pemberontak Islam beraliran jihadis yang membahayakan masa depan Myanmar.

BACA JUGA  Memburu Kader "Radikal", Surat Terbuka untuk Menag

Penggusuran terus menerus oleh rezim milter Myanmar telah mendorong Rohingya memasuki Bangladesh sehingga memperburuk sengketa perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Sekali pun belum mengarah menjadi perang terbuka, bentrokan perbatasan terulang secara sporadis antara dua negara, di mana Bangladesh terus mencurigai pembangunan militer Myanmar di sepanjang perbatasan darat dan laut Myanmar dengan ditempatkannya stasiun kapal perang angkatan laut yang berdekatan dengan wilayah sengketa di wilayah Arakan. Situasi ini direspon oleh angkatan laut Bangladesh yang mengirim empat kapal perang ke wilayah Chittagong (Roughneen 2009).

Ketegangan yang terus meningkat di perbatasan Myanmar-Bangladesh dapat menjalar menjadi ketegangan di wilayah negara-negara sekitarnya. Selama hal ini belum diatasi, ketegangan ini dapat menciptakan krisis keamanan regional yang dapat memicu perlombaan senjata, apalagi mengingat Myanmar adalah sekutu Cina, sehingga kondisi tersebut secara potensial mampu memancing India untuk bereaksi.

Posisi Bangladesh memang tidak menguntungkan. Sementara secara internal masih bergelut melawan kemiskinan, Bangladesh dihadapkan pada kompleksnya masalah pengungsi Rohingya yang menuntut kewajiban moral untuk turun tangan dalam mengatasinya. Dengan demikian masalah Rohingya semakin mempersulit masalah kemiskinan yang telah ada di Bangladesh dengan semakin menambah beratnya beban ekonomi, sosial dan lingkungan, hukum dan ketertiban di negara itu.

Frustrasi dan kebencian antara Rohingya dan warga setempat seringkali menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia di kamp-kamp pengungsi di Bangladesh. “Kekerasan seksual sering terjadi pada wanita di kamp pengungsian dan keluarganya. Sedangkan korupsi yang terjadi di semua level penguasa di kamp tersebut, termasuk pejabat pemerintah, personil polisi dan militer mencegah para pengungsi untuk bisa hidup secara damai dan aman.

BACA JUGA  Kontroversi Sertifikasi Da’i

Bangladesh mengalami beban berat dalam menerima pengungsi Rohingya. Terdapat sekitar 29.000 pengungsi Rohingya, berada di dua kamp di distrik tenggara Cox’s Bazar di Bangladesh. Jumlah ini merupakan sisa dari 250.000 pengungsi yang tiba pada tahun 1991, yang sebagian besar telah dipulangkan.


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Baca halaman selanjutnya: Selain itu, Pemerintah...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Mengakhiri Tragedi Korban Narkoba

Pekan ini terjadi hal yang mencengangkan bagi dunia pemuda bangsa ini. Tepatnya Rabu 13 September 2017 di Kota Kendari sebanyak 30 orang yang terdiri dari dewasa hingga remaja harus mendapatkan perawatan oleh pihak rumah sakit.

Jum'at, 15/09/2017 12:12 0

Arab Saudi

Larang Perayaan Ulang Tahun, Ulama Saudi: Itu Tidak Bermanfaat

Syaikh Abdullah al-Mutlaq, seorang anggota dari tujuh dewan ulama tertinggi Arab Saudi menegaskan larangan perayaan ulang tahun karena menimbulkan kerugian.

Jum'at, 15/09/2017 11:28 0

Indonesia

Cerita Keluarga Korban Soal Kronologi Tragedi Tanjung Priok

Daud Beureuh, salah satu anak dari korban tragedi Tanjung Priok menceritakan awal mula peristiwa berdarah itu terjadi. Ia mengatakan sebab pertamanya adalah pencopotan pamflet di sebuah masjid yang isinya menolak kebijakan pemerintah yang menempatkan Pancasila sebagai asas tunggal.

Jum'at, 15/09/2017 10:51 0

Philipina

Cina Kembali Gelontorkan Dana ke Filipina untuk Perang Marawi

Angkatan bersenjata Filipina menerima dana sebesar P65 juta ($ 1,27 juta) dari Cina pada Rabu (13/09). Dana ditujukan untuk pengobatan dan pemulihan pasukan pemerintah yang terluka dalam Perang Marawi.

Jum'at, 15/09/2017 10:20 0

Myanmar

ARSA: Kami Tak Ada Hubungan dengan Kelompok Asing

"Kami tidak berharap keterlibatan kelompok-kelompok tersebut, termasuk di dalamnya Al-Qaidah dan ISIS dan Laskar E-Taliban, dalam konflik Arakan karena hal itu hanya memperparah situasi,” kata pernyataan ARSA pada Kamis (14/09), seperti dilansir Al-Jazeera.

Jum'at, 15/09/2017 09:43 0

Arab Saudi

Asosiasi Ulama Ahlussunnah Kutuk Penangkapan Ulama di Saudi

Asosiasi Ulama Ahlussunnah mengecam penangkapan sejumlah ulama di Arab Saudi oleh otoritas Kerajaan. Ikatan ulama itu mengancam mengadukan kampanye penangkapan itu kepada internasional.

Jum'at, 15/09/2017 08:58 0

Indonesia

Keluarga Korban Tragedi Tanjung Priok Belum Dapat Keadilan

"Sampai hari ini, korban dan keluarga korban tidak mendapat keadilan dan kepastian hukum," katanya dalam diskusi di kantor KontraS, Jakarta pada Rabu (13/09).

Jum'at, 15/09/2017 08:11 0

Indonesia

Kroni Orba di Pemerintahan, Kasus Tanjung Priok Akan Terhambat

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) mengkritisi adanya Tri Sutrisno yang duduk di lingkaran pemerintahan. Padahal, ia dianggap bertanggung jawab terhadap tragedi Tanjung Priok.

Jum'at, 15/09/2017 06:44 0

Indonesia

KontraS: Penegakan Hukum Kasus Tanjung Priok Bagian Penerapan Nilai Pancasila

"Saya sudah empat kali diundang ke kantor Staf Presiden untuk membahas bagaimana mencari trobosan kasus pelanggaran HAM. Tapi sampai hari ini hanya rapat, rapat, dan rapat. Tidak ada hasil"

Kamis, 14/09/2017 20:13 0

Indonesia

Muncul Kekhawatiran Narasi Pancasila Saat Ini Mirip Tafsir Asas Tunggal Orde Baru

Narasi Pancasila saat ini dikhawatirkan untuk melanggengkan kekuasaan dan membungkam orang yang dianggap kritis terhadap kekuasan

Kamis, 14/09/2017 19:38 0

Close